38 P.L. Gareso, P. Palalangan, Nurhayati, M. Litay, Salengke.pdf


Preview of PDF document 38-p-l-gareso-p-palalangan-nurhayati-m-litay-salengke.pdf

Page 1 2 3 4 5 6 7 8

Text preview


B. Persiapan Sampel Alga dan Ekstraksi Minyak
Sampel Spirogyra sp. yang telah diambil dari lapangan segera dibersihkan
dari pengotornya, seperti lumpur, limah organik dan anorganik. Spirogyra sp.
yang telah bersih dijemur selama 3 sampai 6 hari hingga diperoleh berat
konstan. Gambar.1 memperlihatkan jenis alga Spirogyra sp yang telah
selesai dibersihkan dan dikeringkan. Hasil pengeringan Spirogyra sp adalah
berbentuk batang yang kering.

Gambar.1. Hasil Spirogyra sp yang telah dikeringkan.

Untuk mengekstrak minyak dari jenis alga Spirogyra sp digunakan metode
Mesarasi yakni merendam alga dengan menggunakan pelarut kimia. Pada
metode ini sampel Spirogyra sp. yang telah kering ditimbang sebanyak 100
gram kemudian dimaserasi dalam pelarut n-heksan dan etanol dengan
perbandingan 3:1 selama 1x24 jam dan dilakukan 3 kali secara bertingkat
dimana pelarutnya diganti dengan yang baru dan maserasi kedua dengan
menggunakan n-heksan selama 2 x24 jam dimana setiap pengerjaan
ekstraksi dilakukan terpisah untuk masing-masing pelarut. Untuk setiap
proses ekstraksi, larutan ekstrak dipisahkan dari ampasnya dengan
penyaringan dan setelah ekstraksi, filtrat dicampur jadi satu. Selanjutnya,
hasil ekstraksi didestilasi pada temperatur 450C menggunakan rotavapor.

Hasil ekstraksi minyak alga kemudian dilakukan proses transesterifikasi
untuk menghasilkan biodisel dengan menggunakan katalis KOH dengan
menambahkan

metanol

kemudian

diaduk

dan

dipanaskan.

Proses

selanjutnya adalah proses pengendapan yang dilakukan selama 24 jam. Dari
proses ini terjadi 2 lapisan dan lapisan yang diatas merupakan biodisel.

3