PDF Archive

Easily share your PDF documents with your contacts, on the Web and Social Networks.

Share a file Manage my documents Convert Recover PDF Search Help Contact



BERANG 01 .pdf


Original filename: BERANG 01.pdf

This PDF 1.7 document has been generated by / Foxit PhantomPDF Printer Version 3.1.0.0815, and has been sent on pdf-archive.com on 15/07/2013 at 08:08, from IP address 36.73.x.x. The current document download page has been viewed 1429 times.
File size: 2.8 MB (36 pages).
Privacy: public file




Download original PDF file









Document preview


1|BER ANG

DAFTAR ISI:
Membenahi
Dwitunggal
KAMMI-PKS
–4
Menantikan
kembalinya
“KAMMALISME
” – 11
Muktamar VIII
KAMMI…
- 22
Identitas
Gerakan
KAMMI
Harus
Dibongkar
– 25

Gerakan
Mahasiswa
Jangan
Remehkan
Media Sosial -33

KAMMI
Untuk Indonesia!
Pesan ini rasanya ingin disampaikan oleh para pendiri
KAMMI ketika mendeklarasikan KAMMI di Malang 15
tahun silam. Keresahan menyaksikan rezim otoriter
berkuasa,
merampok
kekayaan
negara
dan
menyengsarakan Rakyat, telah membuat para aktivis
Lembaga
Dakwah
Kampus
tergerak
untuk
mendeklarasikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia (KAMMI). Front Aksi KAMMI ini tercatat
mampu menjadi energi segar dan energi besar hingga
Reformasi terjadi dan Bangsa Indonesia memulai
lembaran sejarah baru.
Di tengah hiruk pikuk rutinitas KAMMI di
seluruh Indonesia, hadir sebuah komunitas yang lahir
dari obrolan di group facebook Pengurus KAMMI
Seluruh Indonesia. Obrolan konstruktif yang
dilanjutkan dengan ‘kopi darat’ di Angkringan
Pancoran. Hadir sekitar 35 warga group tsb untuk
membicarakan KAMMI. Karena yang hadir berangkat
atas nama kesadaran pribadi, bukan membawa embelembel jabatan stuktural di KAMMI, tercetuslah istilah
Forum Kultural untuk aktivitas di Angkringan Pancoran.
Dari sinilah obrolah Forum Kultural berlanjut hingga
Sarasehan Intelegensia KAMMI di Yogyakarta pada akhir
Desember 2012, dan berlanjut di Jakarta pada
pertengahan Maret.
Tagline Forum Kultural KAMMI, yakni
Mencintai KAMMI dengan Sederhana, dan KAMMI
Untuk Indonesia menjadi pesan buat kita kader atau
Alumni KAMMI untuk tetap mencintai dan berbuat
untuk KAMMI, meski sederhana.
Semoga bulletin ini, walau sederhana, bisa
hadir mengisi ruang-ruang kosong dalam diri dan kaderkader KAMMI. Meski kita ini bukan siapa-siapa atau
siapapun, mari kita Mencintai KAMMI dengan
Sederhana. #kammiuntukindonesia. (redaksi)
2|BER ANG

3|BER ANG

M

ESKIPUN secara de jure Kesatuan Aksi Mahasiswa
Muslim Indonesia (KAMMI) mengklaim bahwa mereka
bukanlah bagian dari struktur-langsung PKS, secara de
facto sukar dipungkiri bahwa keduanya merupakan
entitas yang berkaitan erat. Maka, mendiplomasikan
KAMMI bukan bagian dari PKS, atau memisahkan
masa depan PKS tanpa melibatkan dinamika KAMMI,
merupakan wacana yang absurd. Dengan demikian,
berbicara masa depan PKS—baik untuk 2014 ataupun
setelahnya—meniscayakan untuk melihat kiprah
pelapisnya saat ini: KAMMI.
Sampai di sini dapat dibangun asumsi bahwa
membangun KAMMI sama pentingnya membangun
PKS. Asumsi ini bukan berarti menyegala-galakan
keberadaan KAMMI; bahwa KAMMI pastilah PKS,
4|BER ANG

atau PKS masa depan hanya bisa direpresentasikan
sebagai KAMMI hari ini. Akan tetapi, seperti yang
ingin disampaikan pada refleksi sederhana ini, KAMMI
sebagai anasir di tubuh PKS—entah apa pun
penyebutan yang dimaui oleh aktivisnya—tidak bisa
menutup mata atas kiprah PKS; hal yang sama berlaku
pula kepada PKS.
Artinya, keduanya memiliki wilayah gerak yang
berbeda meskipun pada akhirnya bertujuan sama. Bila
PKS menempuh jalur politik formal sebagai sebuah
pendekatan struktural kekuasaan, KAMMI menjadi
komplemennya: sebagai kekuatan kultural dengan
wilayah kerja di gerakan mahasiswa atau pemuda.
Sampai di sini pembagian semacam ini belum
memunculkan persoalan.

Dengan kata lain, perjuangan KAMMI bersama PKS dalam
melanjutkan demokratisasi di tanah air hakikatnya bisa
dipandang sebagai dwitunggal.

Saling melintasi
Persoalan muncul ketika batas kedua jalur itu
tidak lagi jelas. Kedua pihak saling memasuki secara
bebas, padahal tanpa disadari telah mengacak-acak
agenda kerja mereka lebih luas lagi. PKS yang
semestinya bergerak pada pertarungan kekuasaan
formal di parlemen acap kali terlihat lebih akrab untuk
bermain dengan kerja kultural.
Misalnya, dalam mengatasi bencana alam
seperti banjir di Ibu Kota sebulan lalu. PKS tampil ke
depan justru sebagai kelompok kultural lewat programprogram pelayanan sosial kepada para korban.
Sementara, kritisisme hingga advokasi kebijakan secara
serius dan konsisten tentang kebijakan tata ruang kota
5|BER ANG

Yusuf Maulana,
Penggiat KAMMI
Kultural

dan yang terkait dengan penyebab banjir justru
menjadi agenda yang jauh tertinggal di belakang. Ini
bukan berarti mendirikan posko bantuan tidak
penting. Layanan sosial tetap penting, namun yang juga
harus dikerjakan adalah gerak struktural mereka untuk
mencegah atau memperbaiki masalah yang sama.
Sebab, bila PKS luput pada hal ini, mereka hanya akan
terkonsentrasi pada hal-hal pemberian bantuan
sehingga PKS luput mengatasi akar masalah banjir
sebenarnya. Kesan yang muncul, PKS hanya terlatih
dalam gerakan sosial dibandingkan advokasi publik.
Di sisi lain, KAMMI yang seharusnya bisa
memilari PKS di wilayah kultural ternyata dalam
praktiknya bingung untuk memfokuskan gerakannya.
Ketika hendak memasuki gerakan sosial, PKS lebih
dulu hadir.
Dalam pengertiannya secara luas, peran
kultural KAMMI salah satunya adalah melangsungkan
tradisi intelektual bagi politisi PKS pada masa
mendatang. Oleh karena itu, agenda intelektualisasi di
KAMMI merupakan hal yang niscaya dihadirkan.
Sayangnya, ketika berniat menjadi gerakan intelektual,
KAMMI terlihat ragu melakukannya. Salah satu
penyebabnya adalah kurangnya sugesti dari eksponen
PKS secara organisasi untuk menyeriusi kebijakan ini.
Agenda ini oleh sebagian (besar) anasir PKS dipandang
tidak produktif bila dikaitkan dengan agenda PKS
secara menyeluruh.
Di sisi lain, menjadikan KAMMI tetap sebagai
gerakan jalanan, memang bisa diterima PKS. Hanya
saja, di sebagian aktivis KAMMI—terutama yang tidak
berada di luar struktur kepengurusan KAMMI Pusat—
muncul pemikiran bahwa zaman sudah berubah.
Efektivitas gerakan jalanan tidak bisa lagi diharapkan
seperti periode sebelumnya. Dalam keadaan seperti ini
KAMMI akhirnya berada dalam dilema. Tarik ulur
untuk tetap menjadi gerakan jalanan dengan gerakan
6|BER ANG

yang lebih efektif sejauh ini belum memunculkan
formulasi ampuh yang bisa diandalkan.
Meskipun secara konseptual KAMMI memang
berperan melapisi PKS, dalam praktiknya tidaklah
semudah yang direncanakan. Ada godaan di internal
aktivis KAMMI untuk mengambil jalur struktural yang
sebenarnya peran PKS. Kadangkala pelintasan jalur ini
justru kurang disadari oleh aktivis KAMMI sendiri;
seolah-olah apa yang ditempuhnya justru merupakan
bagian dari kekonsistenannya sebagai gerakan
mahasiswa. Ambil contoh dalam isu melengserkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tatkala di
periode pertama pemerintahannya. Isu yang mulai
menghangat dalam diskusi antar-aktivis KAMMI ini
sebenarnya resonansi dari eksponen PKS yang juga
tengah tidak puas dengan kepemimpinan SBY-JK kala
itu.

Salah Satu Aksi
KAMMI

Padahal, pelintasan jalur seperti itu oleh pihak
di luar KAMMI diartikan sebagai modus gerakan
bayangan atau pesanan dari politisi di DPR/D (PKS).
Terlepas dari konotasi negatifnya, penilaian seperti ini
tetap memiliki relevensi sebagai kritik kepada KAMMI:
stigma KAMMI sebagai GM bayangan atau pesanan
7|BER ANG

akan tetap melekat bila KAMMI tidak mengubah
paradigma hingga praksisnya.
Di sinilah perlunya KAMMI agar konsisten
memainkan peranan sebagai gerakan kultural tanpa
harus tergoda untuk mengikuti jejak politis PKS.
Dalam posisi seperti inilah, KAMMI selama ini
sebenarnya telah meninggalkan banyak peluang untuk
bisa menyinkronkan agendanya dengan kepentingan
PKS secara menyeluruh.

Lihat saja betapa KAMMI tidak tergerak sama sekali
dengan isu pembelaan petani, meski saat yang sama
eksponen PKS di kabinet SBY justru tengah
berupaya menggalakkan beras rakyat sebagai
tandingan beras impor.

Gerakan jalanan ternyata hanya dipahami
sebagai gerakan ketika isu yang diusung hanyalah
seputar kekuasaan di tubuh pemerintahan. Sedangkan
ketika terlibat dalam gerakan yang mengusung isu
kerakyatan (seperti isu tolak impor beras), yang pernah
dilakukan KAMMI sebatas rutinitas berdemonstrasi
tanpa kesinambungan dalam mengusung agendanya.
Demikian pula nasib agenda reposisi KAMMI sebagai
gerakan intelektual profetik, mati di tengah jalan hanya
karena godaan untuk merespons isu mutakhir yang
berkaitan dengan kekuasan lebih kuat. Dalam posisi
seperti ini tidak salah jika KAMMI dinyatakan
mengidap alienasi.

8|BER ANG

Resonansi kemacetan
Ironisnya,
semua
keadaan itu tidak selalu
disebabkan
oleh
internal
KAMMI, namun juga oleh
PKS
dalam
memandang
sebuah persoalan. Padahal,
ketika terjadi ketidaksinkronan
seringnya yang dimenangkan
adalah agenda taktis PKS.
Akibatnya, yang sering muncul
kemudian adalah kemacetan
yang beresonansi, alih-alih
membuka kemacetan. Dalam
kasus menghadapi kekuasaan
pemerintah, tidak kritisnya
PKS terhadap pemerintahan
SBY menjadi indikator sikap
yang hampir serupa pada
KAMMI.
Demikian
pula
ketika PKS berteriak vokal,
KAMMI akan berteriak pula
(bahkan
lebih
nyaring).
Masalahnya adalah semisal di
tubuh PKS terjadi kemacetan
dalam tradisi kritik, akan
seperti apa kekritisan KAMMI?
Sebagaimana gerakan
mahasiswa yang lain, KAMMI
tetaplah sebuah gerakan yang
harus kreatif. Namun, energi
kreatif pada KAMMI saat ini
masih belum cukup untuk
merespons setiap persoalan
bangsa. Maka, di sinilah arti
penting letak berbagi jalur
pergerakan. Dengan demikian,

Pertanyaannya,
siapa yang
mendahului
untuk
bertindak: PKS
ataukah
KAMMI?
Jawabannya
mudah: PKS-lah
yang perlu
memberikan
contoh berikut
kebijakannya
untuk
memercayai
KAMMI.
Sayangnya hal
ini belum
terwujud. Saat
yang sama,
sebagian aktivis
KAMMI sendiri
masih lebih
asyik untuk
disuapi
‘orangtuanya’
daripada
berpikir sendiri.

9|BER ANG

posisi sebagai pelapis PKS bukan lagi sebatas hubungan
emosi cum hierarki laiknya orangtua dan anak, namun
juga sebagai cadangan energi.
Harus diakui bahwa PKS memang mampu
mencerdaskan aktivis KAMMI secara afeksi sehingga
sejauh ini tampillah aktivis KAMMI sebagai sosok yang
memperjuangkan moralitas. Masalahnya, kritik
moralitas untuk saat ini mengalami titik jenuh. Tiap
orang mudah mencari siapa yang bersalah. Hanya saja,
untuk mengatasinya tidak mudah. Di sinilah perlunya
penyertaan kecerdasan moral bersama kecerdasan
intelektual. Dalam hal ini, kecerdasan intelektual
adalah pembuka katup moral yang telah melekat pada
KAMMI (PKS) untuk membuka ide yang mengatasi
sebuah persoalan publik.
Pertanyaannya, siapa yang mendahului untuk
bertindak: PKS ataukah KAMMI? Jawabannya mudah:
PKS-lah yang perlu memberikan contoh berikut
kebijakannya untuk memercayai KAMMI. Sayangnya
hal ini belum terwujud. Saat yang sama, sebagian
aktivis KAMMI sendiri masih lebih asyik untuk disuapi
‘orangtuanya’ daripada berpikir sendiri.
Keadaan
terssebut
seharusnya
mulai
direnungkan oleh keduanya, atau setidaknya diawali
dari evaluasi KAMMI selama dibersamai PKS. Sebab,
pada usia lima belas tahun saat ini sudah masanya bagi
KAMMI untuk berlatih mandiri. Bukankah kita jengah
melihat anak seusia SMP masih disuapi dan—maaf—
diceboki? Di mana kemandirian? []
*) Alumni KAMMI
10 | B E R A N G

Menantikan kembalinya

“KAMMALISME”
Sebuah Corong Perubahan Dari Kota Apel
Oleh: Muhammad Azami Ramadhan*
“JANGAN KAU SEPERTI IBLIS, Hanya
melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur, Beratus-ratus ribu taman
yang indah!”
[Lihatlah yang Terdalam - Jalaluddin Rumi]

Malam itu semakin larut, seiring dengan pengunjung
warung kopi sedikit demi sediki meninggalkan tempat
menuju peraduannya, tersisa beberapa anak muda yang
asik memaikan laptop, bercengkrama, bermain kartu,
dan asyik bercumbu verbal dengan pasangannya,
namun di sisi lain ada tiga orang pemuda yang
membicarakan hal serius terkait sebuah narasi yang
masing masing mereka bangun, baik untuk pribadinya
11 | B E R A N G

M. Azzami Ramadhan,
Penggiat KAMMI Malang
Raya

dan untuk organisasi yang mereka cintai. Sejauh ini
kita telah mendiskusikan konteks penting yang
mempengaruhi perkembangan sosioemosional pada
organisasi yang hendak berumur sekitar 15 tahun ini.
Kita semua mengetahui bahwa KAMMI lahir
di malang tepat di Universitas Muhammadiyah
Malang, dan kita sepakat pula bahwa jangan sampai
KAMM mati di tempat kelahirannya, mati di kandang
sendiri, mati sebagai kancil atau mati sebagai singa.
Masing masing dari kita menceritakan narasinya, bak
sosok presiden berpidato dengan mengebu gebunya,
sampai sampai tercelutuklah kata kata “kammalisme”,
semua terbahak, dan bertanya tanya, dan akhirnya
terucaplah nama tokoh “Musthafa Kemal Attaturk”.
Bukan, bukan nama tokoh yang di tekan kan, tapi
maksud dari kata “kammalisme” adalah sebuah
singkatan yang memiliki arti “kammi malang is-me”
atau sebuah paham tentang “kammimalangisme”.

“Kammalisme” dengan pendekatan matsnawi
Jalaludin Rumi
Menurut Nicholson dalam Selected Poems
from the Divan-I Syams-I Tabriz, Masnawi adalah ibarat
sungai yang sangat besar, tenang dan dalam, yang
mengalir berkelok-kelok melalui daratan yang sangat
kaya dan bermacam-macam menuju lautan luas yang
tak terhingga [1].
Matsnawi, saya lebih sepakat jika matsnawi itu
senandung cinta abadi, berisi sajak-sajak yang
membimbing manusia ke puncak pencerahan rohani.
Dalam senandung cinta abadi, Rumi mengajarkan
manusia untuk melihat hikmah, mendekati Tuhan dan
mengabaikan kesia-siaan dunia. Mungkin saja jika
pendekatan matsnawi membimbing juga bagi kader
kader KAMMI bersenandung dengan cinta abadi versi
pribadinya, bisa jadi senandung cinta abadi nanti
12 | B E R A N G

mengajak kader kader KAMMI meneguk ekstasi
puncak-puncak kebahagiaan berjuang bersama
KAMMI, walau gelegah lautan pasir, ketika senandung
cinta abadi ada di hati menjadi bukan sebuah alasan
untuk menghentikan deru laju perjuangan, jika
senandung cinta abadi sudah di hati, pasti hati akan
berkata “jangan risaukan tubuh-tubuh rantas
mengelupas dihempas badai samudra tanpa batas”
itulah senandung cinta abadi anak anak KAMMI.

Salah Satu
Kegiatan KAMMI
Malang Raya

Matsnawi adalah “tanpa akhir, meskipun bila
seandainya hutan-hutan itu pena-pena dan samudra itu
tinta” Hal ini memiliki persamaan dengan firman
Allah adalah tanpa akhir.
“Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi
tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami didatangkan
tambahan sebanyak itu (pula)”.[2]
Bisa jadi istilah “mastnawi” juga tersirat dalam
kehidupan pram, yakni “turba”[3] atau turun ke
bawah, mbah pram sendiri memahami gerakan turun
ke bawah tidak dalam makna yang sesempit itu. Bagi
pramoedya, turun kebawah adalah ibarat kembali
turun ke dunia desa, lebih jauh lagi, kembali ke dunia
13 | B E R A N G

cikal balak desa. Bukan turun ke bawah, melainkan
turun ke sejarah. Ke dasar[4].
Inilah yang kemudian mem-bentuk nya untuk
yakin betapa pentingnya sejarah bagi perkembangan
KAMMI di malang, di tempat kelahiranya, dimana seni
dalam bergerak kammi malang pun terlibat di
dalamnya juga tidak bisa lepas dari peran pentingnya
sejarah keberadaan kammi malang itu sendiri. Kalau
pun itu dikatakan sebagai klasik, bisa disebut sebagai
kontemporer pada masanya, pun juga demikian
sebaliknnya.
Saya sempat tercengang dengan salah seorang
senior KAMMI malang yang sempat membuat
statement di jejaring sosial bahwa “kammi malang
memiliki ciri khas tersendri dalam ber-kammi, tanpa
terpengaruh budaya jogjakarta, bandung, bahkan
jakarta, kammi malang harus menjadi kiblat gerakan
dari setiap komosariat, daerah di seluruh penjuru
nusantara”. Itulah maksud tersirat dari “kammalisme”,
kammi malang harus berkaca pada diri sendiri, meminjam perkataan pak rijalul imam- kammi malang
harus merebut momentum refleksi 15 tahun KAMMI,
dengan memaknai surah At-Takatsur untuk dapat
mengejawantahkan visi pergerakannya, [5] .
Namun kemudian, setelah saya mendapatkan
jawaban dari sang penulis, beliau sempat berucap
bahwa jogja itu kental dengan pemikirannya, jakarta
terletak di pusat ibukota saja dekat dengan pusat
informasi, dan kammi malang itu sangat
menungkinkan menjadi sebuah kiblat dari setiap
gerakan kammi, dengan fakta sejarah KAMMI lahir di
malang, komisariat yang hidup tidak begitu “besar” tapi
“hidup”, pengkaderan solid [6] berjalan rutin, nuansa
tarbiyah berupa MK[7] juga berjalan dengan sangat
kentalnya. Kegiatan pengembangan masyarakat pun
berada di beberapa desa binaan. Dan itu semua harus
di dijadikan sebuah harga diri kammi malang, tegasnya.
14 | B E R A N G

Kampus
Universitas
Muhammadiyah
Malang, Tempat
KAMMI
dideklarasikan
29 Maret 1998

Berbicara masalah harga diri KAMMI, saya
menjadi teringat tatkala diberi kesempatan untuk
mengantikan dosen mengajar tentang perkembangan
sosioemosional dalam mata kuliah psikologi
pendidikan. Jadi penghargaan diri (self-esteem) adalah
pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya
sendiri. Penghargaan ini juga dinamakan martabat diri
(self-worth) atau gambaran diri (self-image)[8]. Misalnya
anak yang punya penghargaan diri yang tinggi mungkin
tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang
tetapi juga sebagai seseorang yang baik. Rogers
(1961)[9] mengatakan bahwa sebab utama seseorang
mempunyai penghargaan diri yang rendah (atau
rendah diri) adalah karena mereka tidak diberikan
dukungan emosional dan penerimaan social yang
memadai. Mungkin dahulu saat masih berkembang
sering ditegur. Misalnya “jangan ini, jangan itu”,
“kamu kok bodoh banget”, dan lain-lain.

Menguatkan kembali identitas KAMMI malang
Aspek yang terpenting dalam diri adalah
sebuah identitas, kalau menelisik dalam psikologi
perkembangan, identitas adalah hal yang terpenting
dalam remaja, yang berupa pencarian jawaban atas
pertanyaan seperti: Siapa saya? Seperti apakan saya ini?
15 | B E R A N G

Apa yang akan saya lakukan dalam hidup ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini jarang muncul pada masa
kanak-kanak tetapi sering muncul dimasa remaja dan
perguruan tinggi. Tidak menafikan terhadap KAMMI,
pasti timbul pertanyaan pada setiap kader KAMMI
malang tentang persamaan pertanyaan yang ada di atas,
bagaimana KAMMI Malang sebenarnya? KAMMI
malang harus di bawa kemana? Apa yang harus saya
lakukan untuk kemajuan KAMMI malang?.
Erikson menyimpulkan bahwa adalah penting
untuk
membedakan
antara
eksplorasi
dan
komitmen.[10] Eksplorasi adalah pencarian identitas
alternative yang bermakna. dan Komitmen adalah
menunjukkan penerimaan personal pada satu identitas
dan menerima apapun implikasi dari identitas itu.
Berdasarkan klasifikasinya menurut komitmen dan
eksplorasi terdapat empat tipe identitas[11] yakni,
Identity diffusion, terjadi ketika individu
belum mengalami krisis (yakni belum mengeksplorasi
altrenatif yang bermakna) atau membuat komitmen.
Mereka belum memutuskan pilihan pekerjaan,
kecenderungan dan ideology.
Identity Foreclosure, terjadi saat individu
membuat komitmen tetapi belum mengalami krisis.
Identity Moratorium, terjadi ketika individu berada
ditengah-tengah krisis tetapi komitmen mereka tidak
ada atau baru didefinisikan secara samar-samar.
Identity Achievement, terjadi ketika individu
telah mengalami krisis dan telah membuat
komitmen.Identitas KAMMI yang tertuang dalam 4
paradigma, 6 point elaborasi dari niai nilai keislaman
yang menjadikan sebuah prinsip gerakan serta kredo
gerakan yang masih manis untuk dibaca, perlu di
tanamkan kembali kepada setiap jati diri kader
KAMMI malang. Membangun dan menguatkan solid
solid komisariat dan daerah, membudayakan diskusi
diskusi ilmiah, memasifkan budaya baca – diskusi –
16 | B E R A N G

tulis, memagangkan kader kadernya di berbagai LSM
dan NGO sesuai kapaasitasnya, mengamalkan amal
dalam sebuah desa yang telah terbina, atau ladang
ladang amal lainya yang ada di kampus kampus, dan
meminjam istilah Niccolo Maciavelli [12]
yang
pemimpin/raja/kader KAMMI haruslah mempunyai
sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi
kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa
untuk mengejutkan serigala. Jadi jelaslah bahwa
pemimpin/raja/kader KAMMI harus memiliki sifatsifat cerdik pandai dan licin seibarat seekor kancil,
akan tetapi harus pula memiliki sifat-sifat yang kejam
dan tangan besi seibarat singa.

Aksi Mahasiswa
Menduduki
Gedung DPRMPR, 1998.

Tujuan Niccolo Maciavelli ialah untuk
mencapai cita-cita atau tujuan politik demi kebesaran
dan kehormatan negara Italia, agar menjadi seperti
masa keemasan Romawi[13]. Namun dalam hal ini
menggunakan sudut pandang saya sebagai aktivis
KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia). Bahwa kader harus memiliki cita cita,
sebuah narasi demi kebesaran dan kehormatan
17 | B E R A N G

Telah sekian
lama kita
menghabiskan
waktu dengan
hanya sebagai
tukang pidato
dan ahli
bicara,
sementara
zaman telah
menuntut kita
untuk segera
mempersemba
hkan bahkan
amal-amal
nyata yang
profesional
dan produktif.

KAMMI paada umumnya, KAMMI malang
pada khususnya, dan untuk itu diperlukan
kekuatan dan kekuasaan yang dapat
mempersatukan komisariat komisariat
sebagai dalam paradigma “kammalisme”.
Meminjam istilah Stephen R.
Covey dalam The 8th Habit-nya bahwa
organisasi dan manusia yang berhasil yakni
mereka yang memiliki paradigma pribadi
yang utuh terhadap dirinya. Organisasi bisa
menjadi hebat dan bertahan lama jika ia
memiliki gambaran yang jelas terhadap
identitas diri yang mengakar pada
kesejatian diri, menemukan bakat dan
kekuatannya,
dan
memanfaatkannya
menjadi sebuah sumbangsih nyata. Covey
sangat menekankan pentingnya memahami
diri yang itu bisa membawa pada
paradigma komplet tentang hakikat diri
organisasi yang bukan hanya akan
melejitkan potensi organisasi namun juga
menjadikan organisasi menemukan arah
gerak
tertingginya
dan
akhirnya
mengilhami organisasi lain untuk sukses.
Saya masih tertegun dengan apa
yang di katakan oleh syaikh Imam Syahid
Hasan Al Banna –tokoh revolusioner
mesir- tatkala beliau berkata pada
mahasiswa di dalam bukunya risalah
pergerakan ikhwanul muslimin bahwa
setiap kali saya berada di tengah banyak
orang yang senantiasa mendengarkanku,
maka saya memohon kepada Allah dengan
sangat agar Dia berkenan mendekatkanku
kepada suatu masa, di mana ketika itu kita
telah meninggalkan medan kata-kata
menuju medan amal, dari medan
18 | B E R A N G

penentuan strategi dan manhaj menuju medan
penerapan dan realisasi Dunia kini tengah berlomba
untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan
mematangkan persiapan, sementara kita masih berada
di dunia kata-kata dari mimpi-mimpi, "Wahai orangorang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan.", dengan menyatir surah As, Shaff" 2-3
dengan titik penekanan untuk mengerjakan amal amal
nyata sesuai ke khasan pemuda, sesuai dengan ke
khasan KAMMI malang, dengan “kammalisme”nya.
Saatnya KAMMI malang untuk kembali,
berkontribusi untuk memajukan bangsa indonesia ini.
Saya masih teringat kalimat itu, “KAMMI harus
kembali, peduli dan berkontribusi” yang dijadikan
sebuah tema besar dalam milad KAMMI ke 14.

Ikhtitam
Mungkin dalam kesempatan kali ini, KAMMI
Malang (tidak menafikan komisariat yang ada di bawah
naungan kammi malang) dan seluruh karisidenan
KAMMIREMA perlu kerja ekstra untuk mendesain
19 | B E R A N G

sebuah proyek bernama pencerahan intelektual dan
menguatkan kembali kepada setiap jati diri kader
malang tentang “kammalisme”, kembali kepada
kemurnian KAMMI malang. Dengan segala sukadukanya. Dengan segala periuk caci-nestapa-puji-kritik.
Dengan segala tatih-gulana-seliro. Dengan segala
eksperimen-observasi-analisis-diagnosis. Dengan segala
ketegaran-keradikalan-kejumawaan.
“. . . Ketahuilah bahwa Allah beserta kalian.
Saya tidak ingin panjang lebar untuk menjelaskan
kewajiban kalian, karena kalian telah mengetahuinya.
berimanlah ikhlaslah, berbuatlah, dan nantikan saatsaat keberuntungan dan kemenangan. Bagi Allah
semua perkara, sebelum dan sesudahnya. Pada hati itu
bergembiralah orang-orang yang beriman, karena
pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang
dikehendaki-Nya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha
Penyayang . . .” –Hasan Al Banna – []
*) muhammad azami ramadhan, mahasiswa psikologi 2009, kepala
departemen sosial politik 2012-2013 KAMMI komisariat UMM raya.
[1] Jalaluddin Rumi, Divan-I Shams-I Tabriz (Seleksi dan Terjemahan R.A.
Nicholson), London, Cambridge University Press, 1898, hlm. Xxxviii.
[2] Surah al kahfi ayat 109
[3] Pramoedya ananta toer dan sasrta realisme sosialis hal. 15
[4]Pramodya ananta tour, 1995 ”nyanyian sunyi seorang bisu” catatan
catatan dari pulau buru, lentera, jakarta hal.39
[5] Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi,
sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru menyadari
kesalahannya itu setelah maut mendatanginya; manusia akan ditanya di
akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya. *alquran digital,
muqaddimah surah at takaatsur
[6] School politic and ideology
[7] Madrasah KAMMI khos
[8] Santrock, John W, Psikologi Pendidikan, 2007, Jakarta.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11]
Perkembangan
social
dan
emosional
anak.http://www/Psikologi/Pendidikan/Bahan/Pendukung/perkembanga
n-sosial-dan-emosional-anak.html diunduh tanggal 7 Mei 2011.
[12] Dalam bukunya : II Principle (The prince 1513) bab 19 yang artinya
Sang Raja atau Buku Pelajaran untuk Raja
[13] Ibid

20 | B E R A N G

21 | B E R A N G

Muktamar VIII KAMMI,

Andriyana
Terpilih Menjadi Ketum
KAMMI 2013-2015
TANGERANG SELATAN - Setelah melewati serangkaian
sidang Muktamar VIII KAMMI, ditetapkanlah Andriyana,
S.T. sebagai ketua umum terpilih Pengurus Pusat Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) periode
2013-2015 Kamis (6/6) lalu. Penetapan ini berdasarkan hasil
sidang seluruh perwakilan KAMMI Daerah dan Wilayah seIndonesia.
Agenda Muktamar VIII KAMMI dalam rangka
memilih ketua umum berlangsung sejak 30 Mei hingga 6
Juni. Kegiatan ini bertempat di Universitas Terbuka Pondok
Cabe, Tangerang Selatan. Peserta yang hadir dalam
Muktamar berjumlah sekitar 300 peserta.
22 | B E R A N G

Dalam orasi kepemimpinannya, Andriyana
mengharapkan dukungan terhadap semua pihak. “Saya tidak
mungkin dapat berdiri sendiri. Saya bukan orang terbaik di
antara kalian. Saya hanya orang yang diberikan beban
tanggung jawab yang lebih di antara kalian.”
Di samping itu, Andriyana juga menyampaikan
gagasannya tentang gerakan mahasiswa mendatang.
“Gerakan mahasiswa ke depan harus menjadi garda terdepan
dalam mengawal transformasi negara kita. Kita harus
senantiasa hadir di tempat di mana negara absen.”
Dalam kegiatan Muktamar VIII, beberapa tokoh
nasional kenamaan turut hadir. Di antara tokoh yang hadir
yakni Hary Tanoe, Irman Gusman, Fahri Hamzah, Chairul
Tanjung, Oesman Sapta serta beberapa menteri dan pejabat
kementerian RI. Mereka menyampaikan dukungan dan
motivasi di hadapan para kader KAMMI seluruh Indonesia.
Selain itu mereka juga memberikan masukan, kritikan, serta
arahan bagi gerakan mahasiswa, terutama KAMMI ke depan.
“Kami sangat berharap tokoh-tokoh yang hadir
dalam agenda Muktamar KAMMI dapat mendukung dan
bersinergi dengan KAMMI dalam upaya mengakselerasi
kemajuan bangsa dan negara Indonesia,” tambah Andriyana.
Dalam agenda muktamar ini, tidak hanya
dilakukan pemilihan ketua umum. Muktamar ini juga
merumuskan agenda KAMMI periode ke depan. Proses
perumusan agenda ini dilakukan di sidang komisi yang
terangkai di dalam agenda muktamar. Dalam sidang ini
setiap peserta
menyuarakan aspirasinya terkait gerak
KAMMI mendatang.
“Ke depan, dengan berbagai agenda yang sudah
yang mengakomodir seluruh ide KAMMI Wilayah dan
Daerah dapat semakin membuat KAMMI lebih progresif
serta baik KAMMI Daerah maupun Wilayah cepat bersinergi
dengan KAMMI Pusat.” pungkas Andriyana.
Penulis : Riyan Fajri
Editor : SCE
diambil dari : eramadina.com

23 | B E R A N G

Mencitai KAMMI
dengan Sederhana……
Bulletin BERANG akan menyajikan artikel dan reportase
kegiatan Sarasehan Intelegensia KAMMI yang digelar Forum
Kultural KAMMI. Tulsian akan dimuat dalam beberapa edisi
Bullatin BERANG. Semoga semakin membuat kita Mencitai
KAMMI dengan Sederhana……
24 | B E R A N G

Identitas
Gerakan KAMMI
Harus Dibongkar



Catatan Sarasehan Nasional Intelegensia KAMMI (1)

YOGYAKARTA (23/12) — Wibisono (24) tampak serius
mengikuti perdebatan di ruangan itu tadi malam. Sesekali ia
membaca makalah yang dibagikan panitia dan memberikan
tanggapan terhadap komentar peserta lain. “Sudah lama saya
tak melihat suasana dialektis semacam ini di KAMMI”, tukas
mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia ini.
Perasaan yang sama dirasakan pula oleh peserta
lain, Dharma (24). Alumnus STAIN Metro ini berpendapat,
forum ini harus bisa membongkar sesuatu yang selama ini
dianggap ‘mapan’ di KAMMI. “Ini jadi semacam ‘MLB
Ideologis’ menurut saya. Konsep-konsep seperti “Muslim
Negarawan” bukan konsep yang sakral dan perlu dikritik”,
kata Dharma yang sekarang melanjutkan studi di UGM.
Suasana seperti inilah yang terjadi pada Sarasehan
Nasional Intelegensia KAMMI di Yogyakarta, Sabtu (22/12)
malam. Bertempat di Ruang Pelatihan, Balai Kota
25 | B E R A N G

Yogyakarta, sarasehan ini dihadiri oleh puluhan aktivis
KAMMI dari berbagai daerah di Indonesia. “Pertemuan ini
adalah forum kultural yang diharapkan bisa melahirkan
gagasan-gagasan baru untuk KAMMI”, jelas salah satu
inisiator kegiatan.
Berawal dari diskusi yang cukup hangat di dunia
maya, gagasan untuk membuat forum kultural akhirnya
bergulir ke dunia nyata. Menurut para inisiator, pertemuan
ini pertama kali dihelat di Pancoran, satu bulan silam yang
akhirnya mengeluarkan Manifesto Pancoran. “Desakan
Forum Kultural ini semakin menguat untuk mengembalikan
KAMMI pada khittah ideologinya”, jelas Arif, seorang
inisiator yang hadir du Pancoran. Akhirnya, terjadi
kesepakatan untuk melakukan pertemuan di Yogyakarta,
yang selama ini dianggap sebagai basis intelektual KAMMI.

Berawal dari diskusi yang cukup hangat di dunia maya,
gagasan untuk membuat forum kultural akhirnya bergulir ke
dunia nyata.

Pertemuan dimulai pada pukul 15.30 dan secara
resmi sesi pertama dibuka pada pukul 20.00 dan berakhir
pada pukul 03.00. Sesi Pertama mendiskusikan ”Mengapa
KAMMI Terpuruk Hari Ini”. Pemetaan yang difasilitasi oleh
Andriyana, Sekjen PP KAMMI ini mengerucut pada dilema
dualisme identitas KAMMI. “Di satu sisi, kader KAMMI
berada di KAMMI, dan pada saat yang bersamaan, dia juga
menjadi kader PKS. Hal ini kan bermasalah”, kata salah
seorang peserta.
Peserta
lain
menanggapi statement tersebut.
“Bagaimana mungkin kader KAMMI bisa mengalami
dualisme jika ia tahu dan paham identitas dirinya sendiri?
Artinya permasalahannya adalah kader KAMMI tidak tahu
siapa dirinya sendiri dong“, kata peserta tersebut. Ia
berpendapat, kehadiran PKS di tubuh KAMMI adalah buah
kegagapan kader KAMMI dalam mengidentifikasi dirinya
26 | B E R A N G

sendiri. “Kita harus menegaskan KAMMI sebagai KAMMI,
bukan sebagai PKS atau Tarbiyah yang menghegemoni
kesadaran kader KAMMI”, tambahnya.
Polemik sampai pada sistem pengkaderan KAMMI.
“Apakah selama ini KAMMI mengkader seseorang untuk
menjadi kader KAMMI, atau justru kader tersebut adalah
kader PKS? Ini kan dualisme identitas namanya”, kata
seorang peserta.”Tapi, persoalannya, bagaimana kalau yang
dikader KAMMI itu adalah kader PKS yang sudah ikut pada
pola perkaderan lain?” Peserta lain menanggapi dengan
mempertanyakan balik. “Itulah sebabnya, kaderisasi KAMMI
benar-benar harus disetting sebagai kaderisasi KAMMI.
Jangan sampai untuk ikut Daurah Marhalah,yang diminta
adalah surat rekomendasi dari perkaderan lain. ‘Kan sudah
ada MK Khos”, jawab peserta tersebut.

Andriyana saat
memandu Sesi
Diskusi dalam
Sarasehan edisi
Jogja

Polemik ini sampai pada kesimpulan bahwa
kaderisasi KAMMI harus berlandas pada ideologinya sendiri
yang khas. “Masalah seperti ini sudah pernah diperdebatkan
di KAMMI DIY tahun 2007, tetapi sayangnya tidak
ada taurits yang
memadai
sehingga
konsep
yang
diperdebatkan tadi hilang begitu saja”, tanggap peserta lain
yang hadir.

27 | B E R A N G

Dari kaderisasi, forum mengerucut pada
kesimpulan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan KAMMI
mengalami split identitas: kesadaran ideologis yang tidak
muncul, basis pengetahuan yang belum mencukupi, dan
masalah hegemoni kekuatan-kekuatan politik tertentu pada
praksis di lapangan. “Dan ini muncul karena belum adanya
rumusan final dari konsepsi ideologi KAMMI itu sendiri”,
simpul fasilitator.
Perdebatan yang sama terjadi pada sesi kedua, yang
memperdebatkan Mengapa KAMMI (harus) Lahir. Mengacu
pada teks Amin Sudarsono (2006), terjadi perdebatan
apakah KAMMI itu adalah agen dari sebuah struktur besar
tertentu atau justru struktur itu sendiri. “Kita tidak bisa
menampik fakta bahwa pada tahun 1998 KAMMI
adalah agensi dari kelompok besar bernama tarbiyah”, tukas
seorang peserta.
Pernyataan itu dibantah peserta lain. “KAMMI
hadir karena kesadaran untuk merespons kondisi material
objektif yang ada saat itu, yaitu kapitalisme yang represif dan
memarjinalkan umat Islam. Dan hal itu bersesuaian secara
global, mengikat KAMMI dalam sebuah diskursus tentang
Islam Politik yang waktu itu dimarjinalkan Orde Baru”, kata
peserta ini seraya mengutip analisis Vedi Hadiz.
Perdebatan berlanjut pada sebuah pertanyaan,
apakah benar ada hegemoni diskursus Tarbiyah -yang
kemudian bertransformasi menjadi PKS- di tubuh
KAMMI. ”Kita tidak bisa menafikan fakta bahwa hal itu
pernah terjadi pada KAMMI tahun 1998. Kesadaran
diskursif yang melatarbelakangi kader KAMMI pada waktu
itu kan adalah
kesadaran
sebagai
bagian
dari
jamaah Tarbiyah“, kata seorang peserta. Pernyataan itu segera
memicu perdebatan.
“Selama
ini,
pemahaman
sejarah
yang
melihat Tarbiyah hanya sebagai variabel tunggal dalam
pembacaan sejarah KAMMI menjadi wacana hegemonik. Ia
kemudian meng-governmentalisasi setiap aktivitas dan
kesadaran kader KAMMI. Padahal, jika kita baca sejarah
secara kritis, Tarbiyah kan tidak lahir hanya dari ruang
kosong, tetapi perlawanan atas struktur yang menindas
juga”, kata peserta lain kurang setuju. Menurutnya, KAMMI
28 | B E R A N G

secara struktural adalah gerakan perlawanan atas kondisi
yang menindas pada waktu itu.

Mas Imron
Rosyadi & Mas
Yusuf Maulana
saat
memaparkan
kronologi &
dialektika
pembentukan
Konstitusi Paradigma
Gerakan KAMMI

Pertanyaannya, bagaimana dengan keterkaitan
dengan fakta bahwa Tarbiyah pernah mendominasi KAMMI
di awal pembentukannya? Perdebatan akhirnya berkutat di
wilayah tersebut. Argumennya, Tarbiyah mendominasi
format kesadaran kader KAMMI secara diskursif pada satu
waktu tertentu. “Pertanyaannya, apakah itu harus
dipertahankan hanya atas argumen sejarah tersebut? Tahun
2004 kan ada perubahan besar-besaran pada AD/ART
KAMMI, yang akhirnya memosisikan KAMMI sebagai
entitas yang mandiri”, tambah peserta lain.
Perdebatan soal sejarah KAMMI ini kemudian
mengerucut pada apakah KAMMI itu agensi atau struktur.
Forum kemudian sampai pada kesimpulan bahwa perlu
adanya pembacaan ulang mengenai sejarah KAMMI yang
lepas dari intervensi kekuasaan tertentu yang ingin
mengukuhkan dominasinya di KAMMI.
“Selama ini, sejarah KAMMI dibaca hanya sebagai
sebuah agen dari kekuatan politik yang berbasis pada
kelompok keagamaan tertentu. Akibatnya, sejarah KAMMI
dibaca secara tunggal dan disempitkan pada kesimpulan
bahwa KAMMI bagian dari jamaah tertentu. Ini kan jelas ada
yang berkepentingan untuk menancapkan pengaruh
29 | B E R A N G

kekuasaannya di KAMMI”, jelas salah seorang peserta.
Artinya, perlu membaca ulang sejarah KAMMI secara lebih
kritis, tandasnya.
Forum ini kemudian berlanjut pada diskursus yang
hampir sama tentang ideologi gerakan KAMMI. Selama ini,
tidak ada tafsir yang otoritatif mengenai ideologi KAMMI.
Misal, di KAMMI, beberapa konsep dialektika yang
dipahami Sosialisme juga dikenal, seperti di Muqaddimah
Anggaran
Dasar
dengan
beberapa
istilah
tertindas, mustadh’afin, dan sebagainya. “Jadi, bagaimana
sebenarnya rumusan ideologi KAMMI itu?” tanya fasilitator
memantik diskusi.
Dari pantikan tersebut, perdebatan muncul pada
pengaruh Ikhwanul Muslimin di KAMMI. “Kok dari
dokumen Filosofi Gerakan, terlihat kedekatan yang erat
antara KAMMI dan Ikhwanul Muslimin ya“, kata seorang
peserta memulai perdebatan. Peserta lain menambahkan,
“Kita lihat saja, misalnya, visi KAMMI selalu berubah sampai
tahun 2004. bagaimana mungkin visi sebuah organisasi
berubah kalau ia tidak punya keterkaitan dengan diskursus
lain?”

“Selama ini, sejarah KAMMI dibaca hanya sebagai
sebuah agen dari kekuatan politik yang berbasis pada
kelompok keagamaan tertentu. Akibatnya, sejarah KAMMI
dibaca secara tunggal dan disempitkan pada kesimpulan
bahwa KAMMI bagian dari jamaah tertentu. Ini kan jelas ada
yang berkepentingan untuk menancapkan pengaruh
kekuasaannya di KAMMI”, jelas salah seorang peserta.
Artinya, perlu membaca ulang sejarah KAMMI secara lebih
kritis……..
Namun, argumen ini juga didebat oleh peserta lain.
“Kalau kita perhatikan, KAMMI sebetulnya tidak hanya
mengambil inspirasi ideologinya hanya dari IM semata,
tetapi juga dari wacana-wacana lain dalam dunia
Islam”, sanggah peserta tersebut.

30 | B E R A N G

Menurutnya, ada beberapa hal yang berbeda antara
IM dan KAMMI. “Kita bisa lihat bahwa ada pengaruh IM di
KAMMI misal pada prinsip gerakan. Tetapi, kalau kita lihat
di kredo gerakan, misalnya, menjadi tidak mungkin IM
mengenal istilah “berpikir dan berkehendak merdeka”,
padahal IM saklek dengan Qiyadah wal Jundiyah. Kita bisa
lihat konsep lain seperti ‘ilmu sosial profetik’-nya
Kuntowijoyo yang ada di Paradigma, dan jelas diskursus itu
berasal dari Muhammadiyah. Seharusnya, kita bicara yang
lebih besar, yaitu diskursus mengenai ‘Islam Modernis”,
papar peserta ini panjang lebar.

Peserta
Sarasehan tengah
memaparkan
gagasannya

Forum akhirnya menyimpulkan bahwa perlu
memeriksa kembali teks ideologi KAMMI. “Jangan
terlalu naif mengesampingkan Ikhwan dari KAMMI, karena
pada sejarahnya, IM pernah menjadi wacana dominan di
KAMMI”, tambah peserta lain. Pernyataan ini segera didebat
oleh peserta lain. “Seharusnya, KAMMI tidak bisa
mengesampingkan diskursus lain di luar Ikhwan yang
mewarnai KAMMI dalam perdebatan soal ideologi sampai
ke praksis. Hal ini bisa mengakibatkan Ikhwan-centrism“,
katanya bersemangat.
Ikhwan sebagai referensi gerakan menjadi polemik
hangat. “Kita tidak bisa melupakan bahwa Ikhwan memiliki
porsi yang besar dalam membangun identitas KAMMI. Ini
harus dihargai ketika kita bicara soal ideologi gerakan
31 | B E R A N G

KAMMI”, kata seorang peserta. Argumen ini ditanggapi oleh
peserta lain dengan menggambarkan sebuah peta. “Kalaupun
Ikhwan menjadi inspirasi dan referensi gerakan KAMMI,
relasi itu sebetulnya hanya satu fragmen dan bersinggungan
pula dengan diskursus lain di luar Ikhwan”, jelas peserta
tersebut. Peserta lain menambahkan, “diskursus lain pun
harus dihargai setara juga di KAMMI”.

Pertanyaan sampai pada ‘siapa’ yang berhak
mendefinisikan KAMMI. “KAMMI benar-benar harus
menjadi dirinya sendiri, dan ini harus dilakukan dengan
memeriksa teks-teks ideologi secara lebih kritis agar KAMMI
lepas dari dualisme identitas”, simpul fasilitator.
Perdebatan akhirnya harus dihentikan pada pukul
03.00 dini hari dan disepakati akan dilanjutkan keesokan
harinya. Diskusi berjalan dinamis dan hangat, tak melulu
serius, tetapi juga diselingi candaan dan beberapa kejadian
kecil yang menghadirkan tawa peserta. Beberapa fungsionaris
PP KAMMI yang hadir mengapresiasi positif forum ini
“Jujur, fenomena seperti ini mengingatkan saya pada suasana
di KAMMI DIY 6-8 tahun silam, ketika perdebatan tidak lagi
harus dibatasi oleh sesuatu yang bersifat “sakral”, tetapi
benar-benar dialektis”, papar Okta, pengurus PP KAMMI
yang mengikuti forum ini sejak malam. [maru]

32 | B E R A N G

Haryo Setyoko: Gerakan
Mahasiswa Jangan
Remehkan Media Sosial
(Cerita dari Sarasehan Jakarta-5)
oleh: Nur Afilin
(Panitia Sarasehan Inteligensia KAMMI II, Jakarta)

Sarasehan Inteligensia KAMMI edisi Jakarta berakhir
kemarin Ahad (17/3). Universitas Trilogi (dulu: STEKPI)
yang berlokasi di Kalibata Jakarta Selatan menjadi tuan
rumah agenda ini. Banyak ide, gagasan, kritikan, dan wacana
yang terlontar dari para pembicara dan peserta yang terkuak.
Salah satu yang menurut saya menarik ialah berkaitan
dengan sosial media (sosmed) dan perannya dalam sebuah
gerakan.

33 | B E R A N G

Sesi Foto
Bersama peserta
Sarasehan edisi
Jakarta bersama
Pemantik
Diskusi.

Sesi yang dimoderatori oleh Ahmad Rizky MU
(Pegiat Forum Kultural Yogya) tersebut menghadirkan Haryo
Setyoko, Badaruddin, dan Fikri Aziz. Ketiganya adalah
mantan pengurus KAMMI dari masing-masing generasi.
“Tren gerakan sudah berubah. Wajar karena zaman
pun telah berubah. Dulu TV dan media cetak menjadi raja
informasi. Semua mereka kendalikan. Namun, sekarang
internet dengan berbagai sosmednya telah sedikit banyak
menggeser peran itu. Sosmed saat ini ibarat the original voice
of ordinary people” ujar Haryo Setyoko, Sekretaris Jenderal PP
KAMMI 1998.
“Jangan mengunderestimate peran sosmed. Pengaruh
sosmed bisa lebih besar apalagi jika isinya up to datedan
ditunjang dengan gagasan kuat”, lanjut Haryo yang
merupakan Sekjen pertama KAMMI sekaligus salah satu
deklarator KAMMI 14 tahun silam ini.
“Bahwa sekarang dunia ini kan semua orang bisa
bermain di dunia. Kalau kata seorang pakar, apa yang terjadi
di dunia saat ini berbasis 3.0. Kalau dulu 1.0 lebih banyak
negara dan pemerintah yang bermain. Lalu, 2.0
dikendalikan oleh multi national corporation. Sekarang eranya
3.0, semua orang bisa menggerakkan apa yang terjadi di
dunia. Melalui koneksi internet dan sosial media, kalian
bisa kokmelakukannya. Maka, ana melihat hal-hal yang
berbau hierarki harus mulai dikurangi. Jadi, from hierarchy to
equality dan from structure to network. Maka seharusnya
34 | B E R A N G

setiap antum ini harus diberdayakan. Terserah mau ngambil
pemberdayaan dirinya seperti apa” tutur Muhammad
Badaruddin, Ketua Umum PP KAMMI 2001-2002.
Hal senada pun dilontarkan Fikri Aziz, Sekretaris
Jenderal PP KAMMI 2008-2009. Dia akui bahwa medan
pertempuran sekarang telah berubah. Maka, tidak bisa selalu
menyamakan saat ini dengan masa silam.
Saya
tak
bermaksud mengecilkan peran
demonstrasi atau unjuk rasa sebagai salah satu metode aksi.
Sejarah, realita, analisis lain juga banyak yang
mendukungnya. Rasanya amat gagabah jika kita secara
langsung me-museum-kan bentuk aksi ini. Ada kalanya
memang itu tetap perlu dilakukan dengan berbagai
pertimbangan efektifitas. Namun, juga suatu hal yang lucu
kalau kemudian aktifitas di dunia maya melalui beragam
sosmed tidak dihitung sebagai aksi. Karena makna “aksi” itu
ialah “gerakan” dan beraksi adalah “bergerak melakukan
sesuatu”, maka ini amat luas (lihat Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Kita boleh berkreasi di dalamnya.
Maka, amat disayangkan jika masih ada gerakan
mahasiswa (KAMMI, HMI, PMII, LDK, BEM, dll.) yang
masih enggan ber-sosmed. Gerakan mahasiswa internal
maupun eksternal mutlak memerlukan optimaliasasi peran
sosmed. Bahkan mungkin tak hanya untuk gerakan
mahasiswa. Setiap ide yang terbersit dalam benak masingmasing individu agaknya akan lebih masif tersebar dengan
perantara sosmed.
Namun demikian, aksi dunia nyata memang
mutlak tetap dijalankan. Harus ada sinergisitas antara aksi
dunia nyata dan dunia maya. Konsolidasi struktural juga
tetap perlu dilakukan guna membuat aksi yang lebih berdaya
dobrak. Hanya saja kita jangan selalu terbelenggu dengan
hal-hal tersebut.
“Oke. Hirarki itu masih ada. Tapi, harus mulai
diflattening. Equality of the activism among the activists itu harus
ditumbuhkan. Main aja di sosial media. Antum bikin akun
apa gitu dan mulai lakukan gerakan. Jangan lupa
aktifitas below the land ini harus tetap diimbangi dengan
aktifitas above the land”, simpul Badaruddin. [nur]

35 | B E R A N G

36 | B E R A N G


Related documents


berang 01
atstsabat edisi 02072013
tsabat 01juli2013
3 lintang patria kristianus yulianto
sejarah penjajahan indonesia dexter harto k
pidato ketua dpc acara maulid nabi


Related keywords