PDF Archive

Easily share your PDF documents with your contacts, on the Web and Social Networks.

Send a file File manager PDF Toolbox Search Help Contact



Baccarat 5 Two For Tea .pdf


Original filename: Baccarat-5_Two For Tea.pdf

This PDF 1.4 document has been generated by Adobe InDesign CS5.5 (7.5.3) / Adobe PDF Library 9.9, and has been sent on pdf-archive.com on 16/09/2014 at 10:26, from IP address 182.253.x.x. The current document download page has been viewed 338 times.
File size: 1.1 MB (1 page).
Privacy: public file




Download original PDF file









Document preview


people

2

For
Tea
Ignatia Nilu

Penulis dan kurator muda yang akrab disapa Nilu ini sejak
awal telah memiliki ketertarikan pada musik, budaya populer,
dan subkultur. Melalui telepon dan surat elektronik, Baccarat
Indonesia mewawancarai wanita yang berdomisili Yogyakarta
tersebut, di sela kesibukannya.

Anda memiliki latar belakang pendidikan
di bidang seni?
Tidak, latar belakang pendidikan saya itu
dari Politik, Hubungan Internasional.
Ketertarikan awal dengan seni?
Saya akrab dengan beberapa komunitas
kreatif, seperti design, musik, street art, film,
dan fotografi. Ketika memiliki kesempatan
untuk menempuh pendidikan di Yogyakarta,
saya seperTi dibukakan mata bahwa apa
yang selama ini saya sukai ada di kota ini.
Dari sana saya berusaha untuk belajar
lebih tentang praktik kesenian dengan
berpartisipasi dalam penyelenggaraannya.
Karena awalnya yang saya tahu, seni itu
hanya milik seniman. Tapi saya bukan
seniman, jadi saya pikir peran saya mungkin
bisa pada areal yang mendukung distribusi
artistik seniman, misalnya dengan menulis
review di media agar publik tahu tentang
keberadaan karya dan seniman itu. Saya
sempat menjadi jurnalis seni dan musik.
Jadi apa kesibukan Anda saat ini?
Saya mengelola sebuah ruang seni yang
bernama SaRanG Building yang di dalamnya
ada pelukis kenamaan Indonesia, Jumaldi

170

Apa itu Prison Art Program?
Sesuai dengan namanya, ini adalah program
seni yang dibangun atas inisiatif para warga
binaan pemasyarakatan. Platform yang
awalnya dibangun berdasarkan art movement
dalam lapas sebagai akses seni yang
kemudian bertransformasi menjadi lembaga
formal sebagai yayasan dan punya agenda
program terstruktur. Melalui PAPs kami
menawarkan munculnya genre seni baru,
seni penjara. Melalui dua hal tersebut saya
merasa bahwa disiplin ilmu yang saya pelajari
khususnya diplomasi, dapat teraplikasi
sebagai salah satu pendekatan dalam kerja
seni yang saya lakukan saat ini. Seni dapat
bekerja untuk berdiplomasi dengan banyak
ilmu pengetahuan, hukum, sosial, politik, dan
juga seni itu sendiri.
Menurut pandangan Anda, seni itu seperti
apa?
Dunia kita secara global selalu dihadapkan
pada pilihan menjadi hitam atau putih,
sementara menjadi merah, kuning, atau
hijau itu adalah jalur yang berbeda di antara
kemungkinan yang terkadang nyaris tidak
ada, namun sebenarnya ada. Di situlah seni.
Ketika segala sesuatunya harus dilihat dari
dua pilihan sudut pandang yang normatif atau
yang positif, seni muncul sebagai tawaran
cara melihat dan cara menyikapi persoalan
atau fenomena yang ada di depan kita. Seni

adalah bahasa baru untuk berbicang dengan
banyak hal dan menyapa banyak orang.
Bagaimana gambaran tentang seni
kontemporer di Jogja?
Di Yogja kita memiliki event kota, seperti
Biennale, Art Jog, FKY, yang diselenggarakan
tiap tahun dan dua tahun sekali, dan itu
menjadi sebuah acara milik dan dirayakan
oleh seluruh masyarakat kota Yogyakarta. Di
samping itu banyak sekali pameran-pameran
yang senantiasa diadakan oleh ruang-ruang
seni di sini, kemudian diskusi dan workshop
yang juga salah satu metode yang dilakukan
untuk membangun pendistribusian gagasan
dan wacana dari seniman atau kurator untuk
publik. Di kota ini banyak kantong-kantong
seni serta kolektif seni yang unik, seperti
Mes56, Grafis Minggiran, Apotek Komik,
Komunitas Seni Rupa Jendela, Komunitas
Taring Padi, House of Natural Fiber, yang
memberi pengaruh terhadap kontelasi seni
rupa kontemporer di Indonesia. Kota ini
memberi peluang bagi siapa pun yang ingin
mengenali, mengkaji, mengembangkan
praktik berkeseniannya menjadi lebih luas.
Dan yang terpenting, di kota ini selalu ada
peluang untuk membangun dialog dengan
lintas disiplin dan komunitas untuk dapat
bekerja dalam kerangka berkesenian.
Apa karya seni favorit Anda?
Cukup banyak. Kalau dari pendekatan karya
seni dari seniman siapa, saya jawab Hendra
Gunawan, Nyoman Masriadi, Handiwirman
Saputra, Ugo Untoro, Angki Purbandono,
Marina Abramovich, Fracys Allys, Frida Kahlo,
Basquiat dan masih banyak lagi. Mengapa?
Karya-karya para seniman ini unik dan mampu
menghadirkan gagasan dan pemikiran yang
tajam sekaligus persoalan yang faktual untuk
disikapi melalui pendekatan yang berbeda.

TEKS: ANGIE DIYYA foto: DOK. PRIBADI

Alfi dan juga kurator senior, Enin Supriyanto.
Bersama mereka, saya merancang dan
mengelola ruang ini agar dapat bermanfaat
sebagai ruang produksi sekaligus ruang
distribusi artistik dari seniman dan praktisi
seni yang lain. Selain itu saya juga mengelola
Prison Art Program (PAPs) bersama seniman
kontemporer Angki Purbandono dan artist
lainnya.


Document preview Baccarat-5_Two For Tea.pdf - page 1/1

Related documents


PDF Document baccarat 5 two for tea
PDF Document itupoker com agen poker online indonesia terpercaya
PDF Document fitur serviced office jakarta1651
PDF Document prediksi skor bola terakurat
PDF Document apa yang mempesona mengenai1668
PDF Document 68 elang krisnadi


Related keywords