PDF Archive

Easily share your PDF documents with your contacts, on the Web and Social Networks.

Share a file Manage my documents Convert Recover PDF Search Help Contact



rumaysho.com Kisah Uwais Al Qarni .pdf


Original filename: rumaysho.com-Kisah Uwais Al Qarni.pdf
Title: Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua

This PDF 1.4 document has been generated by wkhtmltopdf 0.12.2.1 / Qt 4.8.6, and has been sent on pdf-archive.com on 03/10/2015 at 15:49, from IP address 36.73.x.x. The current document download page has been viewed 9205 times.
File size: 58 KB (3 pages).
Privacy: public file




Download original PDF file









Document preview


rumaysho.com

http://rumaysho.com/10538-kisah-uwais-al-qarni-dan-baktinya-pada-orang-tua.html

Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua
Muhammad Abduh Tuasikal,
MSc

Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada
orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh
orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan
oleh beliau jauh-jauh hari.
Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.
‫ َﻗﺎَل‬. ‫َﻋْﻦ ُأَﺳْﯿِﺮ ْﺑِﻦ َﺟﺎِﺑٍﺮ َﻗﺎَل َﻛﺎَن ُﻋَﻤُﺮ ْﺑُﻦ اﻟَْﺨﱠﻄﺎِب ِإَذا َأَﺗﻰ َﻋَﻠْﯿِﻪ َأْﻣَﺪاُد َأْﻫِﻞ اﻟَْﯿَﻤِﻦ َﺳﺄََﻟُﻬْﻢ َأِﻓﯿُﻜْﻢ ُأَوْﯾُﺲ ْﺑُﻦ َﻋﺎِﻣٍﺮ َﺣﱠﺘﻰ َأَﺗﻰ َﻋَﻠﻰ ُأَوْﯾٍﺲ َﻓَﻘﺎَل َأْﻧَﺖ ُأَوْﯾُﺲ ْﺑُﻦ َﻋﺎِﻣٍﺮ َﻗﺎَل َﻧَﻌْﻢ‬
.‫ِﻣْﻦ ُﻣَﺮاٍد ُﺛﱠﻢ ِﻣْﻦ َﻗَﺮٍن َﻗﺎَل َﻧَﻌْﻢ‬
‫ َﻗﺎَل َﻟَﻚ َواِﻟَﺪٌة َﻗﺎَل َﻧَﻌْﻢ‬.‫ص َﻓَﺒَﺮْأَت ِﻣْﻨُﻪ ِإﱠﻻ َﻣْﻮِﺿَﻊ ِدْرَﻫٍﻢ َﻗﺎَل َﻧَﻌْﻢ‬
ٌ ‫َﻗﺎَل َﻓَﻜﺎَن ِﺑَﻚ َﺑَﺮ‬
Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia
bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi
‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi,
“Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”
Uwais menjawab, “Iya.”
‫ص َﻓَﺒَﺮَأ ِﻣﻨُْﻪ ِإﱠﻻ َﻣْﻮِﺿَﻊ ِدْرَﻫٍﻢ‬
ٌ ‫ َﯾُﻘﻮُل » َﯾﺄِْﺗﻰ َﻋَﻠْﯿُﻜْﻢ ُأَوْﯾُﺲ ْﺑُﻦ َﻋﺎِﻣٍﺮ َﻣَﻊ َأْﻣَﺪاِد َأْﻫِﻞ اﻟَْﯿَﻤِﻦ ِﻣْﻦ ُﻣَﺮاٍد ُﺛﱠﻢ ِﻣْﻦ َﻗَﺮٍن َﻛﺎَن ِﺑِﻪ َﺑَﺮ‬-‫ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﯿﻪ وﺳﻠﻢ‬- ‫َﻗﺎَل َﺳِﻤْﻌُﺖ َرُﺳﻮَل اِﱠﷲ‬
َ
َ
‫ َﻗﺎَل أَﻻ أْﻛُﺘُﺐ َﻟَﻚ ِإَﻟﻰ‬.‫ َﻓَﻘﺎَل َﻟُﻪ ُﻋَﻤُﺮ َأﯾَْﻦ ُﺗِﺮﯾُﺪ َﻗﺎَل اﻟُْﻜﻮَﻓَﺔ‬.‫ َﻓﺎْﺳَﺘْﻐَﻔَﺮ َﻟُﻪ‬.‫ َﻓﺎْﺳَﺘْﻐِﻔْﺮ ِﻟﻰ‬.« ‫َﻟُﻪ َواِﻟَﺪٌة ُﻫَﻮ ِﺑَﻬﺎ َﺑﱞﺮ َﻟْﻮ َأْﻗَﺴَﻢ َﻋَﻠﻰ اِﱠﷲ َﻷَﺑﱠﺮُه َﻓِﺈِن اْﺳَﺘَﻄْﻌَﺖ َأْن َﯾْﺴَﺘْﻐِﻔَﺮ َﻟَﻚ َﻓﺎْﻓَﻌْﻞ‬
‫َﻋﺎِﻣِﻠَﻬﺎ َﻗﺎَل َأُﻛﻮُن ِﻓﻰ َﻏْﺒَﺮاِء اﻟﱠﻨﺎِس َأَﺣﱡﺐ ِإَﻟﱠﻰ‬
Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan
datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad
kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya
seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan
yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan
meminta ampunan pada Allah.
Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri
Kufah supaya membantumu?”
Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”
-‫ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﯿﻪ وﺳﻠﻢ‬- ‫ َﻗﺎَل َﺳِﻤْﻌُﺖ َرُﺳﻮَل اِﱠﷲ‬.‫َﻗﺎَل َﻓَﻠﱠﻤﺎ َﻛﺎَن ِﻣَﻦ اﻟَْﻌﺎِم اﻟُْﻤْﻘِﺒِﻞ َﺣﱠﺞ َرُﺟٌﻞ ِﻣْﻦ َأْﺷَﺮاِﻓِﻬْﻢ َﻓَﻮاَﻓَﻖ ُﻋَﻤَﺮ َﻓَﺴﺄََﻟُﻪ َﻋْﻦ ُأَوْﯾٍﺲ َﻗﺎَل َﺗَﺮْﻛُﺘُﻪ َرﱠث اﻟَْﺒْﯿِﺖ َﻗِﻠﯿَﻞ اﻟَْﻤَﺘﺎِع‬
‫ص َﻓَﺒَﺮَأ ِﻣْﻨُﻪ ِإﱠﻻ َﻣْﻮِﺿَﻊ ِدْرَﻫٍﻢ َﻟُﻪ َواِﻟَﺪٌة ُﻫَﻮ ِﺑَﻬﺎ َﺑﱞﺮ َﻟْﻮ َأْﻗَﺴَﻢ َﻋَﻠﻰ اِﱠﷲ َﻷَﺑﱠﺮُه َﻓِﺈِن‬
ٌ ‫َﯾُﻘﻮُل » َﯾﺄِْﺗﻰ َﻋَﻠْﯿُﻜْﻢ ُأَوْﯾُﺲ ْﺑُﻦ َﻋﺎِﻣٍﺮ َﻣَﻊ َأْﻣَﺪاِد َأْﻫِﻞ اْﻟَﯿَﻤِﻦ ِﻣْﻦ ُﻣَﺮاٍد ُﺛﱠﻢ ِﻣْﻦ َﻗَﺮٍن َﻛﺎَن ِﺑِﻪ َﺑَﺮ‬
.« ‫اْﺳَﺘَﻄْﻌَﺖ َأْن َﯾْﺴَﺘْﻐِﻔَﺮ َﻟَﻚ َﻓﺎْﻓَﻌْﻞ‬
Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar
pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan

rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia
berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu
dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka
akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni,
mintalah padanya.”
‫ َﻓﺎْﺳَﺘْﻐَﻔَﺮ َﻟُﻪ‬.‫ َﻗﺎَل َﻟِﻘﯿَﺖ ُﻋَﻤَﺮ َﻗﺎَل َﻧَﻌْﻢ‬.‫ َﻗﺎَل اْﺳَﺘْﻐِﻔْﺮ ِﻟﻰ‬.‫ َﻗﺎَل َأﻧَْﺖ َأْﺣَﺪُث َﻋْﻬًﺪا ِﺑَﺴَﻔٍﺮ َﺻﺎِﻟٍﺢ َﻓﺎْﺳَﺘْﻐِﻔْﺮ ِﻟﻰ‬.‫َﻓﺄََﺗﻰ ُأَوﯾًْﺴﺎ َﻓَﻘﺎَل اْﺳَﺘْﻐِﻔْﺮ ِﻟﻰ‬
Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah
untukku.”
Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada
Allah untukku.”
Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”
Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.
‫َﻓَﻔِﻄَﻦ َﻟُﻪ اﻟﱠﻨﺎُس َﻓﺎْﻧَﻄَﻠَﻖ َﻋَﻠﻰ َوْﺟِﻬِﻪ‬
“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR.
Muslim no. 2542)

Faedah dari kisah Uwais Al Qarni di atas:
1- Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia
adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.
2- Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan
dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak
pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.
Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,
‫َأﱠن َأْﻫَﻞ اﻟُْﻜﻮَﻓِﺔ َوَﻓُﺪوا ِإَﻟﻰ ُﻋَﻤَﺮ َوِﻓﯿِﻬْﻢ َرُﺟٌﻞ ِﻣﱠﻤْﻦ َﻛﺎَن َﯾْﺴَﺨُﺮ ِﺑﺄَُوْﯾٍﺲ‬
“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan
Uwais.”
Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering
merendahkannya.
3- Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar
untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.
4- Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.
5- Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah
darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –
seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.
6- Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ٌ ‫ِإﱠن َﺧْﯿَﺮ اﻟﺘﱠﺎِﺑِﻌﯿَﻦ َرُﺟٌﻞ ُﯾَﻘﺎُل َﻟُﻪ ُأَوْﯾٌﺲ َوَﻟُﻪ َواِﻟَﺪٌة َوَﻛﺎَن ِﺑِﻪ َﺑَﯿﺎ‬
‫ض َﻓُﻤُﺮوُه َﻓﻠَْﯿْﺴَﺘْﻐِﻔْﺮ َﻟُﻜْﻢ‬
“Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan

dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk
kalian.” (HR. Muslim no. 2542). Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.
Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in
adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti
keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais.
Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7- Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan
pada ‘Umar,
‫َأُﻛﻮُن ِﻓﻰ َﻏْﺒَﺮاِء اﻟﱠﻨﺎِس َأَﺣﱡﺐ ِإَﻟﱠﻰ‬
“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi
orang-orang lemah, menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi Uwais lebih suka hidup
biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
8- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti
pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.
9- Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.
10- Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.
11- Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus
menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).
12- Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain.
Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.
Semoga bermanfaat.

Referensi:
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun
1433 H.
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi,
cetakan pertama, tahun 1430 H.

Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, malam 25 Jumadal Ula 1436 H di Masjid Jami’ Al Adha Darush
Sholihin, Gunungkidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com


rumaysho.com-Kisah Uwais Al Qarni.pdf - page 1/3
rumaysho.com-Kisah Uwais Al Qarni.pdf - page 2/3
rumaysho.com-Kisah Uwais Al Qarni.pdf - page 3/3

Related documents


rumaysho com kisah uwais al qarni
tinta badar 3
tinta badar 6
atstsabat edisi 02072013
tinta badar 5
disusun oleh muhammad abduh tuasikal dan ari wahyudi


Related keywords