PDF Archive

Easily share your PDF documents with your contacts, on the Web and Social Networks.

Share a file Manage my documents Convert Recover PDF Search Help Contact



KoberCetakV14 1104 .pdf


Original filename: KoberCetakV14 - 1104.pdf

This PDF 1.5 document has been generated by Adobe InDesign CC 13.0 (Windows) / Adobe PDF Library 15.0, and has been sent on pdf-archive.com on 09/04/2018 at 18:09, from IP address 36.80.x.x. The current document download page has been viewed 315 times.
File size: 3.2 MB (12 pages).
Privacy: public file




Download original PDF file









Document preview


Butuh Jasa Pengamanan?
Hubungi: (0274) 583831
TERBIT BERKALA
EDISI 14/2018

Rp 1.500

RABU LEGI, 11 APRIL - KAMIS LEGI, 26 APRIL 2018

25 REJEB - 10 RUWAH 1951 DAL

Jalan Buntu Darurat Guru
KORANBERNAS – Kredibilitas Jogja sebagai
Kota Pendidikan kini dipertanyatakan. Pasalnya, sejak
beberapa tahun terakhir ini Jogja mengalami krisis guru
alias kekurangan tenaga pendidik, mulai dari tingkat
SD hingga SLTP. Jumlahnya mencapai ratusan orang.
Ironisnya, pemerintah seperti menghadapi jalan buntu
untuk mengatasi persoalan tersebut.
Krisis guru yang dialami Kota Jogja ini gencar
diteriakkan Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja, Fokki
Ardianto, melalui media sosial. Fokki bahkan menyebut
krisis tenaga pendidik di Kota Pendidikan ini sebagai
sebuah keadaan darurat.
Menurut Fokki, Kota Jogja saat ini kekurangan 344
tenaga pendidik di tingkat SD dan SLTP. Sementara data
yang dilansir Kementerian Pendidikan menunjukkan
angka yang lebih besar, yaitu total kekurangan
mencapai 389 tenaga guru baik di tingkat SD
maupun SLTP negeri. Sementara data dari Dinas
Pendidikan Kota Yogyakarta, kekurangan guru di
106 SD Negeri sebanyak 163 orang guru. Sedangkan
untuk tingkatan SMP, dari 16 SMP yang ada masih
kekurangan 84 orang guru.
Fokki menyebutkan, saat Komisi D berkonsultasi
ke Kementerian Pendidikan, untuk mengatasi
persoalan kurangnya tenaga pengajar dapat
menggunakan wewenang yang dimiliki walikota
untuk mengangkat tenaga pengajar kontrak.
Celakanya, menurut Fokki, tidak ada keinginan
politik dari Walikota Jogja, Haryadi Suyuti, untuk
mengatasi persoalan tersebut.
“Kalau mengangkat PNS itu memang ke­
wenangannya Menpan RB. Tapi, di UU ASN ada
solusinya yaitu pegawai pemerintah dengan
sistem kontrak. Nah, kalau tenaga kontrak kan itu
(wewenang) Walikota. Sekarang tinggal mau apa
tidak? Jadi problemnya, tidak ada keinginan politik
dari Walikota (Haryadi Suyuti) untuk mengatasi
persoalan itu,” kata Fokki kepada KoranBernas,
Jumat (6/4).
Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu meng­
gambarkan, kondisi guru honorer di Kota Jogja saat

ini cukup memprihatinkan dengan tingkat kesejahteraan
yang rendah. Oleh karena itu, dengan mengangkat
mereka sebagai pegawai Pemkot non PNS, maka
kesejahteraan dapat dinaikkan, setidaknya setara dengan
Upah Minimum Perkotaan (UMP).
“Dengan mengangkat pegawai pemerintah dengan
sistem kontrak, maka minimal gajinya bisa disetarakan
UMP. Saat ini kan gaji guru honorer Cuma Rp 500.000,
Rp 900.000 atau paling mentok Rp 1,2 juta. Itu karena
(honor) mereka asalnya 15 persen dari BOS (Bantuan
Operasional Sekolah). Tapi kalau pegawai dengan
kontrak, bisa Rp 1,7 juta bahkan lebih,”
ujarnya.

Menurut Fokki, postur APBD Kota Jogja sejatinya
sanggup membayar tenaga guru honorer yang
diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN)
non PNS. “Kenapa saya bilang begitu?
Kita sanggup kok. APBD kita
termasuk besar,” ujarnya.
ke hal 15

ILUSTRASI OLEH LILIK SUMANTORO/KORANBERNAS

Adu Jurus Atasi Kekurangan “Oemar Bakrie”

PRASETIYO/KORAN BERNAS

SK GTT -- Bupati Purbalingga, Tasdi, saat menyerahkan SK GTT
di Alun-alun Purbalingga, akhir Januari 2018 lalu.

Demi Guru, Bupati Tasdi
Berani “Pasang Badan”

KORANBERNAS – Lang­
kah Bupati Purbalingga, Tasdi,
ini perlu diacungi jempol. Pri­
hatin dengan kekurangan tenaga
pendidik di daerahnya, ia berani
“pasang badan”. Dengan sebuah
Surat Kuputusan Bupati, Tasdi
mengangkat 1.644 tenaga pen­
didik mulai dari TK hingga SMP,
menjadi Guru Tidak Tetap (GTT).
Dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa
Tengah, hanya Tasdi yang berani
mengambil langkah konkrit
mengatasi kekuarangan guru ini.
Surat Keputusan Bupati
untuk 1.644 GTT di Purbalingga
itu diserahkan akhir Januari
lalu. Para sarjana pendidikan
yang sudah bertahun-tahun
menjadi tenaga honorer dan
kemudian diangkat menjadi
GTT tersebut, kini mengantongi
penghasilan Rp 700.000 per
bulan. Memang, penghasilan bagi
para GTT tersebut masih jauh
dari Upah Minimum Kabupaten

Purbalingga sebesar Rp 1.650.000
per bulan. Namun, penghasilan
baru bagi 1,644 GTT itu jauh
lebih tinggi dari honor yang
sebelumnya mereka terima, yakni
antara Rp 200.000 hingga Rp
250.000 per bulan.
Bupati Tasdi berani meng­
ambil langkah terobosan ter­
sebut didasarkan atas UU No
14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen serta Peraturan Pe­
merintah No 19 tahun 2017,
bahwa dalam rangka kekurangan
guru, Pemerintah Kabupaten/
kota dapat mengangkat guru
dengan SK Bupati. Para GTT
tersebut diangkat mulai Januari
2018 hingga Juni 2018.
Untuk menggaji 1.644 GTT
tersebut dibutuhkan anggaran
sebesar Rp 20 miliar, dimana 55
persennyadiambildariAPBD,dan
45 persen lainnya menggunakan
dana BOS  (Biaya Operasional
Sekolah). Namun mulai bulan Juli

KORANBERNAS – Keku­
rangan tenaga guru tak hanya
dirasakan di Kota Jogja. Ke­
kurangan “Oemar Bakrie”, sosok
pendidik seperti digambarkan
musisi Iwan Fals, itu juga terjadi
di hampir semua daerah di
Indonesia. Ketika pemerintah
pusat menutup pintu tambahan
jumlah guru , yang ter jadi
kemudian adalah terjadi “adu
jurus” di masing-masing daerah
untuk mengatasi kekurangan
jumlah “Oemar Bakrie” tersebut.
Di Kabupaten Klaten, mi­
salnya, otoritas setempat meng­
ambil “jurus” meng­g a­b ungkan
(regrouping) dua SD yang jumlah
muridnya kurang dari 120 orang.
Namun, jurus ini justru mendapat

PRASETIYO/KORAN BERNAS

SUMRINGAH – Wajah-wajah sumringah para guru di Purbalingga
setelah diangkat sebagai Guru Tidak Tetap (GTT).

perlawanan di lapangan karena
banyak pemerintah desa yang
ingin tetap mempertahankan

Navigasi

Fasilitas perbaikan lokomotif
di kawasan Pengok Yogyakarta,
Balai Yasa, selama
ini terkesan sebagai
tempat rahasia. Apa
HAL
saja aktivitasnya?

2

ke hal 15

Keluarga Alex dan Mukjizat Air Hujan
AWAL tahun 2014, Alex Kusnadi (37) dan
istrinya, Riyanti (29), menjumpai saya di Muntilan.
Pasangan yang telah 10 tahun menikah dan
dikaruniai dua anak, Arina (9) dan Dismas (5) itu
curhat dengan nada beban berat.
Alex, petani yang tinggal di dusun Gemer,
desa Argomulyo, kecamatan Dukun, Kabupaten
Magelang itu mengaku tidak bahagia. Bukan
karena faktor ekonomi, tetapi lebih disebabkan oleh
kesehatan istri dan dua anaknya. Istrinya divonis
sakit hepatitis B. Sudah harus minum obat setiap
hari. Keluhannya mudah pusing, cepat lelah, perut
mual, susah makan. Riyanti juga gampang ngantuk.
Lebih banyak tidurnya daripada kerja di ladang.
Sedangkan Arina, putri sulungnya, sering
panas badan, pusing, batuk, pilek. Obat farmasi
sudah terbiasa diminum sejak kecil. Opname di
rumah sakit pun sudah dialami beberapa kali.
Sementara putra bungsunya, Dismas, malah

V. KIRJITO, PR

SEHAT -- Keluarga Alex yang sehat dan bahagia.

menambah beban khusus. Daya ingatnya lemah.
Sering kejang-kejang. Solusinya mesti rumah sakit.
Alex khawatir menjadi beban anak dan guru, maka
anak yang diduga cacat mental bawaan ini tidak

ke hal 15

Tempat Rahasia

keberadaan sekolah di wilayahnya
sekalipun dihadapkan masalah
kekurangan murid dan guru.

Selain “jurus” regrouping,
Pemkab Klaten juga menempuh
cara mengoptimalkan keberadaan
guru Wiyata Bhakti (WB). “Un­
tuk SD, kekurangan guru ke­
las. Sedangkan untuk SMP,
kekurangan guru mata pelajaran.
Banyak guru yang pensiun. Satu
sekolah ada yang hanya dua
guru PNS. Untuk mengatasinya
mengangkat guru WB,” kata
Sunardi, S.Pd, Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Klaten,
kepada KoranBernas, Kamis (5/4).
Menurut Sunardi, kekurangan
jumlah tenaga pendidik di
Kabupaten Klaten saat ini
dikatagorikan sebagai darurat.

disekolahkan. Biaya pengobatan keluarga terasa
amat berat. Hutang kiri kanan tak terhindarkan.
Air yang Berbeda
Tahun 2013 saya mulai memusatkan pehatian
pada air hujan. Pinjam istilah kalangan akademik,
riset eksperimental air hujan dengan metoda
elektrolisa untuk air minum. Saya sendiri sudah
mengonsumsi dan tidak ada masalah. Maka saya
anjurkan Alex untuk belajar.
Dalam waktu sehari saja, Alex sudah memiliki
bejana ionizer buatannya sendiri. Bulan Maret
2014, mulailah sekeluarga minum air hujan yang
diionisasi sendiri.
Saya ingin tahu bagaimana komentar,
pengalaman dan efek-efeknya. Arina yang waktu
itu duduk di kelas 3 SD berkomentar, “Air ini beda
dengan air biasa. Lebih ringan ditelan, halus, ada
manis-manisnya.”
ke hal 15

Kue Legenda
Kue adrem, kuliner khas asal Sanden
Bantul ini sudah lama terkenal dan
jadi legenda. Ternyata
tidak sembarang orang
bisa membuatnya.
HAL

6

Minim Turnamen
Softball sangat awam dan kurang
popupler di Indonesia. Selain minim
turnamen, olahraga
ini juga dihadapkan
tantangan berat.
HAL

10

2

AYODYA

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Tempat Rahasia Balai Yasa
KORANBERNAS – Suara palu besi menghantam
logam terdengar begitu berat. Di antara deru mesin
diesel, kilatan cahaya las listrik menyilaukan mata serta
gemeretak mesin derek berkapasitas 36 ribu kilogram
menggeser beban, terlihat sejumlah pekerja berkutat
dengan onderdil mesin.
Satu demi satu, bagian-bagian mesin diesel itu
dibongkar, sebagian lagi diturunkan dari rangkanya.
Cuaca agak panas, Kamis (5/4) siang itu, tidak
menyurutkan semangat para teknisi yang rata-rata
masih berusia muda itu.
Mengamati  aktivitas kerja di bengkel kereta api di
Balai Yasa Yogyakarta, Unit Pelaksana Teknis (UPT)
PT Kereta Api Indonesia (Persero) di kawasan Pengok
atau Jalan Koesbini No 1 Yogyakarta itu, patutlah
sekiranya para teknisi yang jago di bidangnya itu
memperoleh acungan jempol. Mereka tidak hanya
tertib menjalankan prosedur kerja tetapi juga memiliki
kemampuan yang tidak diragukan lagi.
“Sebenarnya tempat ini rahasia,” kelakar Eko
Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daop VI Yogyakarta
saat mengantar para wartawan melihat kesiapan UPT
Balai Yasa Yogyakarta menghadapi Angkutan Lebaran
1439 H/2018 yang dimulai 5 Juni hingga 26 Juni.
Menjadi rahasia karena tidak sembarang orang
bisa mengakses tempat tersebut. Seperti halnya aturan
berkunjung di sejumlah obyek vital yang relatif ketat,
demikian pula tamu yang datang ke Balai Yasa harus
mengikuti prosedur keamanan dan keselamatan,
minimal harus mengenakan topi pelindung. Ini semua
untuk kebaikan bersama.
Peninggalan Belanda
Balai Yasa merupakan fasilitas perbaikan lokomotif
kereta api yang sudah berusia tua. Sejarah itu dimulai
tahun 1914 tatkala perusahaan swasta milik kaum
penjajah Belanda, Nederland Indische Spoorweg
Maatschaij (NIS), mendirikan Centraal Warkplaats
yang bertugas melaksanakan overhaul lokomotif,
gerbong dan kereta.
Pada 1942 kepemilikannya beralih ke penjajah
Jepang kemudian berganti nama menjadi Perusahaan
Kereta Api Pemerintah, dengan tugas yang sama. Tiga
tahun kemudian peninggalan Belanda itu menjadi hak
milik negara Indonesia dan berganti nama menjadi
Balai Karya. Pada 1959 berubah menjadi Balai Yasa
dengan tugas overhaul lokomotif.
Selanjutnya pada 2009 tugasnya tidak hanya
melaksanakan overhaul lokomotif tetapi juga genset.
Mulai 2010 tambah layanan overhaul KRD (Kereta
Rel Diesel) dan mulai 2013 melaksanakan overhaul

lokomotif, genset, KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik)
serta KRDI, kereta buatan anak bangsa.
Berdiri di atas tanah seluas 12,88 hektar dengan
luas bangunan keseluruhan mencapai 4,37 hektar,
fasilitas ini memiliki 15 track pemeliharaan serta
satu track tes sepanjang 800 meter. Per bulan, Balai
Yasa mampu memperbaiki 12 lokomotif, 2 KRDE dan
KRDI serta 3 unit genset. Jenis perawatan itu meliputi
berkala, insidentil, minor overhaul, overhaul, perbaikan
dan modifikasi.
Executive Vice President UPT Balai Yasa Yogyakarta,
Denny Haryanto, menerangkan pihaknya kini sedang
menyiapkan segala sesuatunya, termasuk administrasi,
untuk menjadikan Balai Yasa sebagai center of excellence
atau pusat layanan perbaikan lokomotif buatan pabrik
GE di ASEAN. Nantinya, seluruh loko dari negaranegara Asia Tenggara perbaikannya dilakukan di Balai
Yasa Yogyakarta.
“Mereka (para teknisi) kita sudah mumpuni karena
dari awal sudah menangani lok GE. Secara de facto
kami sudah bisa dan saat ini sedang menyiapkan
kompetensi dan sertifikasi (de jure). Kayak SIM (Surat
Izin Mengemudi) itu, meski kita pintar mengendarai
mobil, tetapi tanpa SIM kita tidak bisa di jalan raya,”
ungkap Denny.
Sudah tiga tahun terakhir, pihak GE sendiri
melakukan audit ke Balai Yasa dan tahun ini
merupakan tahun terakhir, tinggal menunggu hasilnya
seperti apa.
Tahun ini, Balai Yasa Yogyakarta memprogramkan
perbaikan terhadap 71 lokomotif, 40 kereta rel diesel
(KRD) dan 95 genset. Tahun sebelumnya, Balai Yasa
mampu melakukan perbaikan 158 lokomotif, 33
KRD dan 120 genset.
Denny optimistis, dengan dukungan 447
sumber daya manusia (SDM), 336 orang berada
di unit produksi, Balai Yasa dengan slogannya Tiada
Hari Tanpa Produksi Tiada Produksi Tanpa Mutu itu
bisa mewujudkan keinginan tersebut. “Di ini banyak
anak muda usia produktif 26-30 tahun,” ungkapnya.
Menyusul suksesnya memproduksi kereta api
inspeksi serta Rail Clinic, ke depan kapasitasnya juga
akan ditingkatkan menjadi 20 hingga 25 lok per bulan.
Tidak ada kendala suku cadang karena sudah kontrak
jangka panjang enam tahun, jika sewaktu-waktu
dibutuhkan tinggal diambil ke pergudangan kawasan
Lempuyangan. Selain itu, juga akan dibangun lok
khusus KRL (Kereta Rel Listrik).
Eko Budiyanto menambahkan, besar kemungkin­
an dua tahun lagi KRL sudah mulai beroperasi

SHOLIHUL HADI/KORANBERNAS

BALAI YASA – Para teknisi kereta api melakukan perbaikan lokomotif di UPT Balai Yasa Yogyakarta. Ke
depan, sudah ada persiapan tempat ini dijadikan pusat perbaikan lokomotif dari seluruh negara di Asia
Tenggara.

melayani rute Yogyakarta, Solo dan Kutoarto.
Kementerian Perhubungan sudah menyiapkan
anggaran Rp 1 triliun.
Penggunaan KRL selain lebih hemat, lebih cepat
dan daya tampung lebih besar, juga karena kapasitas
Prameks saat ini sudah tidak lagi mampu menampung
luberan penumpang.

“Kapasitas Prameks dengan harga tiket Rp 8 ribu
per orang sangat terbatas, setiap hari hanya mampu
mengangkut 16 ribu penumpang. Banyak yang
protes karena nggak dapat tiket. Kenapa? Karena
kapasitasnya dibatasi 800 penumpang. Tiap hari
kami menerima komplain karena harus menolak
penumpang,” kata dia. (sol)

Jaga Harga Beras agar Tak Menggoyang Pasar Ajak Pemuda
Kembali Bertani

SHOLIHUL HADI/KORANBERNAS

PENJELASAN – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan penjelasan usai
rapat di Pracimosono Kepatihan. Dia mengakui, beras merupakan komoditas bahan pokok
yang sensitif.

KORANBERNAS – Ramadan 1439 H
tinggal menghitung hari. Pada bulan tersebut
apalagi mendekati hari raya Idul Fitri, hargaharga kebutuhan pokok, terutama beras, biasanya
melambung seiring meningkatnya jumlah
permintaan.
Mengantisipasi kekhawatiran terjadinya
gejolak harga di pasaran, Menteri Perdagangan
(Mendag) RI Enggartiasto Lukita menyatakan
mulai dari sekarang perlu diambil langkahlangkah pencegahan supaya harga beras tidak
sampai “menggoyang” pasar.
“Perlu dilakukan upaya antisipasi dini berupa
koordinasi yang melibatkan pemerintah pusat,
pemerintah daerah dan pelaku usaha,” ungkapnya
di Pracimosono Kepatihan, pekan lalu.
Didampingi Gubernur DIY Sri Sultan
Hamengku Buwono X, pada Rapat Koordinasi
Nasional Stabilisasi Harga dan Stok Barang
Kebutuhan Pokok Jelang Puasa dan Lebaran,
Enggartiasto Lukita menyampaikan dalam
beberapa waktu ke depan kemungkinan ada

potensi kenaikan permintaan barang kebutuhan
pokok.
Dia memerintahkan para gubernur dan
kepala daerah bersama instansi terkait melakukan
koordinasi guna menjaga harga beras di pasaran.
Terhitung mulai 15 April atau satu bulan
sebelum awal puasa Ramadan, pasar-pasar
tradisional harus menjual beras medium pada
HET (Harga Eceran Tertinggi). Sedangkan ritel
modern wajib menjual dan menyediakan beras
premium sesuai HET.
Apabila beras tidak tersedia, Kementerian
Perdagangan akan menyalurkan melalui Bulog
maupun mitra. Dengan demikian masyarakat
mendapatkan beras yang sesuai.
Enggartiasto Lukita juga memerintahkan para
pedagang beras mengeluarkan stok barangnya
mulai dari sekarang, sebab bisa saja pemerintah
mengeluarkan stok beras impor berkualitas lebih
bagus. “Lebih baik pedagang keluarkan beras,
supaya jangan tertinggal,” pintanya.
Dalam upaya menjaga pasar, pihaknya

menerjunkan 200 staf di pasar-pasar untuk
memantau pasokan, kelangkaan maupun per­
gerakan harga. Ini dilakukan karena komoditas
beras dinilai sensitif.
“Kita pantau bergilir. Apalagi belum lama
ini kami juga sudah rapat kabinet terbatas dan
Bapak Presiden menekankan bahan kebutuhan
pokok harus terus tersedia, turunkan harga dan
stabilkan harga,” paparnya.
Mengacu Permendag 57/2017, harga beras
medium di wilayah Jawa, Lampung dan Sumatara
Selatan Rp 9.450 per kg sedangkan beras premium
Rp 12.800 per kg.
Agak berbeda
Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan,
menghadapi puasa dan Lebaran Idul Fitri
mungkin kondisinya agak berbeda. Hal ini
karena kampus-kampus sedang menghadapi
ujian semesteran. “Jadi bagi DIY mungkin agak
berbeda,” tuturnya.
Namun demikian Forum Komunikasi Pim­
pinan Daerah, semua dinas dan instansi vertikal
di DIY perlu memahami konstelasi secara
nasional. Dengan begitu diharapkan lebih mudah
mengambil langkah-langkah antisipasi yang
lebih baik supaya harga-harga kebutuhan pokok
masyarakat tidak fluktuatif.
“Menurut saya, semestinya apabila persediaan
kebutuhan itu cukup, tidak ada alasan untuk
menaikkan harga. Kenaikan harga ini juga sudah
rutin karena masyarakat juga tidak pernah protes,
tapi bagaimana bisa kita antisipasi dengan baik,”
kata Sultan.
Dalam forum dialog, Bupati Kulonprogo Has­
to Wardoyo menyampaikan Pemkab Kulonprogo
sejak 2013 sudah mengadakan kerja sama dengan
Bulog. Disepakati, beras untuk keluarga miskin
(raskin) atau rasda dipasok oleh delapan gabung­
an kelompok tani (gapoktan). Ini merupakan
bagian dari program Bela dan Beli Kulonprogo.
Menanggapi hal itu, Enggartiasto Lukita
memberikan apresiasi sekaligus peluang agar
Kulonprogo meng-cover kebutuhan untuk seluruh
wilayah DIY serta Jawa Tengah bagian selatan.
“Jika Kulonprogo bisa cover Jateng selatan dan
DIY silakan. Alhamdulillah. Jika tidak serahkan
ke kami,” kata dia. (sol)

KORANBERNAS – Sebagian
masyarakat menganggap pemuda
tidak lagi berminat menjadi petani.
Menjawab tantangan itu, Balai
Pemuda dan Olahraga (BPO) Di­nas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
(Disdikpora) DIY membuat Pro­
gram Gerakan Pemuda Mandiri
Pangan (Garda Mapan).
“Program ini bernama Garda
Mapan, dibuat untuk menjawab
tantangan dan anggapan ma­
syarakat bahwa generasi muda
tidak lagi suka bertani. Selain itu,
juga untuk mengangkat potensi
pertanian di Daerah Istimewa
Yogyakarta,” ungkap Edi Wahyudi,
Kepala BPO DIY, Jumat (6/4).
Pada angkatan pertama pro­
gram tersebut tahun 2017, berhasil
dididik 15 orang pemuda dan
pemudi yang meminati bidang
agrobisnis. Mereka dilatih selama
14 hari sehingga mampu memiliki
keterampilan di bidang pertanian.
Program ini bernama gar­da ma­
pan,” kata dia.
Sedangkan angkatan kedua,
seleksi berlangsung 10 April 2018.
Sebagai ajang pelatihan, BPO DIY
menyediakan lahan di daerah
Sleman yang disewa dua tahun.
Pada pelatihan tersebut disediakan
pupuk, bibit, obat-obatan maupun
peralatan pertanian.
“Dari 15 orang setiap tahun itu
kemudian membentuk komunitas
Garda Mapan yang nantinya
akan mengolah hasil pertanian.
Diharapkan para petani muda
ini mampu menjawab tantangan
sekaligus memberikan lapangan
kerja baru di bidang pertanian,”
tambahnya.

ISTIMEWA

PELATIHAN -- Peserta program
Gar­da Mapan mengikuti pelatihan
yang diselenggarakan BPO DIY.

Staf BPO DIY, Suyamto Gho­
yim, me­nambahkan program ini
akan berlangsung setiap tahun
sekaligus sebagai bentuk dukungan
mempertahankan lahan produktif
pertanian di DIY agar tidak dijual
untuk kepentingan non-pertanian.
Yang pasti, Garda Mapan
harus mampu memberikan nilai
tambah pada lahan pertanian
sehingga profesi bertani menarik
dan menjadi pilihan para generasi
muda.
Terkait dengan teknologi,
komunitas Garda Mapan bentukan
BPO DIY akan aktif mengikuti
perkembangan yang ada, terutama
bidang pertanian dan pengolahan
pangan.
Yang unik, seleksi mengikuti
program ini sangat ketat, mengingat
pertanian merupakan sektor minat
khusus, maka hanya para pemuda
yang memiliki ketertarikan
pertanian yang diterima mengikuti
program Garda Mapan. (sol)

WIYATA

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

3

Apoteker Berperan Atasi Hoaks
KORANBERNAS – Di era demokrasi
modern saat ini, hoaks seperti menemukan
posisi, relevansi dan nilai ekonomisnya.
Hoaks di bidang kesehatan, obat-obatan serta
suplemen pun menjadi makanan sehari-hari.
Untuk mengatasi persoalan itu, perlu
kesadaran dan tanggungjawab sosial semua
pihak, termasuk para apoteker. Keikutsertaan
mereka dalam memerangi hoaks dapat me­
wujudkan tata masyarakat yang bermartabat.
“Ini tidak mudah bila dikaitkan dengan
kiprah profesi apoteker. Namun kapasitas
dan kemampuan apoteker diharapkan dapat
berpengaruh dalam mengatasi persoalan

hoaks,” ungkap Rektor Universitas Sanata
Dharma (USD), Johanes Eka Priyatma MSc PhD
dalam pengambilan sumpah profesi 93 apo­te­
ker di kampus setempat, kemarin.
Kesadaran itu bisa terwujud bila dimulai
dari tingkat kampus. Ditengah besarnya
tantangan pendidikan dewasa ini, Perguruan
Tinggi (PT) dituntut mendampingi mahasiswa
agar tidak hanya kompeten secara akademik
namun juga mempunyai kesadaran tinggi akan
tanggungjawab sosialnya.
“Perguruan tinggi mengajarkan lulusannya
untuk memiliki kerelaan dalam berkontribusi
kepada sesama,” tandasnya.

Sementara Dekan Fakultas Farmasi USD,
Aris Widayati MSi Apt PhD mengungkapkan,
apoteker harus menjadi insan yang cerdas
dan humanis. Karakter tersebut didapat
bila mereka mampu mencintai kebenaran,
memperjuangkan keadilan, menghargai ke­
beragaman, menjunjung tinggi keluhuran
martabat manusia dan selalu menjadi jiwa
dimanapun mereka berkarya.
“Karenanya para lulusan apoteker di­
harapkan semakin mewujudkan kontribusi
nyata almamater bagi masyarakat luas di
lingkup nasional maupun internasional,”
imbuhnya.(yve)

YVESTA PUTU SASTROSOENDJOJO/KORAN BERNAS

PENGAMBILAN SUMPAH— Dekan Fakultas Farmasi USD, Aris Widayati MSi Apt PhD mengambil sumpah para lulusan apoteker di
kampus setempat, kemarin.

Manasik Haji juga untuk Pelajar SMA Kampung Kepatihan Canangkan TDMJ
KORANBERNAS—Kegiat­
an manasik haji biasanya diper­
untukkan bagi peserta didik di
tingkat Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD). Padahal tata cara
berhaji tersebut memiliki nilai-nilai
karakter Islami yang tidak hanya
perlu diajarkan pada anak-anak
usia PAUD namun juga di jenjang
pendidikan menengah.
“Nilai-nilai karakter dalam haji
inilah yang coba kami ajarkan pada
siswa kami di kelas sebelas. Kegiatan
ini baru pertama kali kami lakukan
namun berdampak banyak pada
karakter anak,” papar Kepala SMA
Muhammadiyah 2 Yogyakarta, Drs
Slamet Purwo disela acara manasik
haji di sekolah setempat, kemarin.
Dalam manasik haji yang diikuti
309 siswa tersebut, menurut Slamet
anak-anak belajar sabar, tawakal,
berakhlak mulia dan memiliki
kesadaran untuk melaksanakan
rukun Islam kelima. Karakter ter­
sebut penting diajarkan pada
pelajar di tingkat SMA mengingat
era globalisasi yang salah satunya
memberikan dampak negatif pada
remaja.

Kesadaran untuk dekat deng­
an baitullah dan ajaran Islam
menjadi dasar bagi anak-anak saat
mereka dewasa nanti. Sehingga
pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) di sekolah tidak
hanya berhenti pada teori namun
bermanfaat secara nyata pada
peserta didik.
“Kalau dulu, pembelajaran haji
hanya berupa klasikal di kelas,
saat ini kami ajak anak-anak untuk
praktek haji, termasuk ke asrama haji
untuk mengikuti latihan berhaji,”
paparnya.

Sementara Wakil Kepala Hu­
mas SMA Muhammadiyah 2
Yogyakarta, Dra R Nazilah MHum
mengungkapkan, kegiatan manasik
haji digelar melalui kerjasama
dengan KBIH Aisyiyah Kota Yog­
yakarta. Anak-anak diberikan
pengalaman berhaji selama sehari
di asrama haji bersama orang-orang
yang kompeten di bidangnya.
“Diharapkan anak-anak me­
miliki kesadaran untuk menunaikan
ibadah haji selain memahami nilainilai karakter yang diajarkan dalam
manasik ini,” imbuhnya.(yve)

YVESTA PUTU SASTROSOENDJOJO/KORAN BERNAS

MANASIK HAJI—Para siswa SMA Muhamammadiyah 2 Yogyakarta
mengikuti manasik haji di sekolah setempat, kemarin.

KORANBERNAS – Kam­
pung Kepatihan, Kelurahan
Pu r wo k i n a n t i , K e ca m a t a n
Pakualaman mencanangkan
program Tertib Daerah Milik
Jalan (TDJM), kemarin. Program
ini merupakan bagian dari Panca
Tertib yang dikembangkan
Pemerintah Kota Yogyakarta.
Salah satu program riil
dari Tertib Daerah Milik Jalan
diwujudkan dalam pemberian
bantuan gerobak angkringan
bagi para Pedagang Kaki Lama
(PKL) di kampung tersebut.
Bekerjasama dengan Yayasan
Teratai Kasih Perempuan yang
berbasis di Singapura, bantuan
gerobak diberikan pada sepuluh
PKL dengan nilai Rp 1.670.000
per gerobak.
“ B a n t u a n g e ro b a k i n i
diharapkan membuat para
pedagang memiliki kesadaran
dalam menjaga lingkungan dan
ketertiban kampung, termasuk
tidak membuang limbah cair di
saluran air hujan. PKL juga harus
menyediakan tempat sampah

YVESTA PUTU SASTRO SOENDJOJO/KORAN BERNAS

BANTUAN-- Ketua RW 9 Pujowinatan, Purwokinanti, Rusbandi
menyerahkan bantuan gerobak angkringan kepada PKL, kemarin.

serta surat ijin lokasi berjualan,”
ungkap Ketua RW 9 Pujowinatan,
Purwokinanti, Rusbandi kepada
KoranBernas disela acara.
Bantuan tersebut, menurut
Rusbandi diharapkan juga
meningkat nilai ekonomis
makanan yang dijual PKL. Mereka
pun dapat menjaga kebersihan
beragam menu makanan lokal
yang dijual.
Dari 30 PKL di kawasan

Purwokinanti, sepuluh PKL yang
mendapatkan gerobak diantaranya
Maryani, Hugo Sumarjo, Sumarni,
Ngatinem. Selain itu Supartono,
Sukinem, Nita, Murtiyah dan Yuli
Ruwadi.
“Bantuan secara simbolis
dilakukan oleh wakil walikota
yang berpesan warga bisa menjaga
komitmen pada program-program
yang sudah dijalankan,” jelasnya.
(yve)

4

PRANALA

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

Editorial

Kekurangan Guru
GURU, dari zaman ke zaman selalu menjadi kisah menarik. Zaman
baheula, guru yang oleh Iwan Fals digambarkan sebagai Oemar Bakri,
bersepeda butut, membawa tas besar dengan baju rapi dimasukkan celana,
menjadi sosok yang sangat terhormat di tengah-tengah masyarakat. Setiap
pagi datang ke sekolah, selalu dikerubuti murid-murid yang berebut cium
tangan; dan siapa pun yang berhasil membawakan tas sang guru ke kantor,
mempunyai kebanggaan tersendiri.
Zaman pergerakan perjuangan kemerdekaan, guru termasuk memiliki
peran sentral. Salah satu buktinya adalah Ki Hadjar Dewantara. Peran
sentral itu juga dibuktikan guru ketika zaman Orde Baru. Mereka menjadi
kendaraan politik rezim berkuasa untuk mempertahankan kekuasaan.
Zaman Now lain lagi ceritanya. Guru seperti kehilangan martabat dan
wibawanya. Beberapa kasus memprihatinkan terjadi; guru dengan alasan
mendidik melakukan kekerasan kepada anak didik harus menerima risiko
penjara. Kisah anak sekolah membawakan tas guru ke kantor tidak ada
lagi. Guru bahkan harus datang lebih pagi dan berjaga di pintu gerbang
untuk menerima jabat tangan anak-anak.
Guru bukan lagi manusia super yang menguasai ilmu pengetahuan.
Ia bisa kalah canggih dari anak didiknya dalam beberapa hal karena
bantuan teknologi akibat revolusi digital. Lompatan teknologi ini juga
berakibat negatif. Cerita ada guru harus berurusan dengan pengadilan
karena mencabuli murid, bukan lagi berita yang menghebohkan. Lebih
gawat lagi, pelakunya adalah guru agama yang setiap hari berbicara tentang
hukum Tuhan dan moral.
***
KETIKA pembangunan zaman Orde Baru menyentuh sektor
pendidikan, peluang setiap anak bangsa mengenyam pendidikan tinggi
terbuka lebar. Sekalipun jumlah mahasiswa terus semakin meninggi,
secara umum jumlahnya masih sangat sedikit.
Para pemuda yang memiliki intelegensia cukup tinggi, biasanya
diterima di perguruan tinggi kelas satu. Mereka yang tidak lolos saringan
universitas ternama, berbondong-bondong menyerbu perguruan tinggi
kependidikan, yang waktu itu bernama IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan). Akibatnya, lulusan IKIP yang bersumber dasar masukan (in
put) SDM kelas dua, menghasilkan calon-calon guru yang kualitasnya
kurang.
Pemerintah pun kemudian mengubah 12 IKIP negeri se Indonesia
menjadi perguruan tinggi berlabel universitas, yang kemudian juga
menyelenggarakan program studi ilmu murni. Masukan calon mahasiswa
memang berubah; relatif kualitasnya lebih baik daripada ketika masih
berlabel IKIP. Beberapa program studi yang SDM tenaga pengajarnya
mumpuni, berhasil meluluskan sarjana baru yang tidak kalah dengan
perguruan tinggi negeri ternama. Bahkan secara nyata, universitas yang
masih memiliki tugas sebagai LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) berhasil masuk ke deretan 10 perguruan tinggi terbaik
bersaing dengan universitas ternama non-LPTK.
Dewasa ini, menjadi guru tidak lagi harus bergelar sarjana pendidikan.
Pemerintah menyadari, bahwa lulusan LPTK memiliki penguasaan ilmu
murni yang relatif lebih rendah daripada sarjana lulusan non kependidikan.
Karena itu, sarjana dari ilmu murni boleh menjadi guru, sepanjang
menempuh pendidikan tambahana bernama Pendidikan Profesi Guru
(PPG) guna memperoleh sertifikat akta mengajar.
Saat ini, jumlah LPTK se Indonesia berkembang sangat pesat. LPTK
swasta jumlahnya ratusan. Se Indonesia, saat ini tidak kurang dari 420
perguruan tinggi negeri maupun swasta (termasuk PTN umum yang
memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) meluluskan sarjanasarjana pendidikan. Jumlah sarjana pendidikan saat ini mencapai lebih
dari 260.000 orang, sementara yang tertampung menjadi guru hanya
beberapa puluh ribu.
Akibat moratorium penerimaan PNS guru dan perubahan kurikulum,
dunia persekolahan di Indonesia kini mengalami krisis guru. Secara tambal
sulam, Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah berusaha menambah guru
dengan berbagai cara.
Realitas paling aktual sekarang ini, bukan hanya jumlah guru yang
kurang, tetapi kompetensi guru masih banyak yang di bawah standar.
Uji kompetensi yang secara periodik digelar, hanya menghasilkan
nilai kompetensi rerata maksimal sekitar 61. Banyak yang hasil uji
kompetensinya masih berada di bawah angka 50.
Merujuk kepada skor nilai 0 – 100, nilai kompetensi guru-guru memang
masih jauh dari harapan. Padahal, di tangan merekalah nasib bangsa ini
ke depan ditentukan. Nah! (putut wiryawan)

Alamat Redaksi:
Ndalem Pujowinatan PA 1/717 Purwokinanti,
Pakualaman, Yogyakarta. Telp. 0274 370192
+628574-0583-763, +62812-296-5647
Alamat Tata Usaha:
Jl. Gampingan Baru No. 31, RT-042/RW-009,
Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. Telp. +6274583831.
Koran Bernas online dan cetak diterbitkan oleh
PT Rajawali Siaga, Jl. Gampingan Baru No. 31, RT042/RW-009, Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.
Telp. +6274-583831. NPWP: 31.692.786.2541.000

JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Dinasti, Korupsi dan Pilkada
HAMPIR setiap minggu kita disuguhi berita
Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) ter­hadap sejumlah
kepala daerah akhir-akhir ini. Saya dan banyak
orang di negeri ini tidak dapat menggambarkan
bagaimana perasaan menyaksikan realitas
yang kontradiktif itu. Pada satu sisi, kita patut
berbahagia dan memberikan apresiasi kepada
KPK atas keberhasilannya membongkar berbagai
kasus korupsi itu; namun pada sisi yang lain,
secara bersamaan kita juga harus tertunduk lesu
karena rupanya korupsi masih terus marak terjadi.
Keberhasilan dan prestasi KPK memberantas
korupsi, rupanya tidak berbanding lurus dengan
berkurangnya in­deks korupsi. Pertanyaannya
adalah, mengapa hal ini bisa terjadi? Apa
penyebabnya?
Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidaklah
tunggal, dari aspek moralitas misalnya, dapat
kita pastikan bahwa terjadinya korupsi karena
tandus dan keringnya orotitas moral pelaku. Dari
aspek sistem, sangat mungkin korupsi terjadi
karena sistem yang memang mengharuskan
seseorang masuk pada ku­bangan sistem yang
korup, pilihannya jika tidak mengikuti sistem yang
bersangkutan akan diasingkan dari kelompoknya.
Dari aspek hukum, bisa saja karena longgar dan
lemahnya mekanisme pengawasan terhadap
penggunaan anggaran dalam undang-undang.
Namun demikan, dari sekian banyak sebab,
ada sebab yang paling dominan dibandingkan
dengan sebab-sebab yang lainnya, yaitu tingginya
biaya menjadi kepala daerah.
Konvergensi antara tingginya biaya politik
dalam pilkada dengan tingkat korupsi ini,
mungkin tidak akan terbaca di kota-kota besar
semisal Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu.
Namun, di daerah-daerah lain utamanya di luar
Jawa, aroma ini begitu menyengat ter­cium. Kalau
kita coba sedikit membuka ta­bir sindikat korupsi
dalam pilkada, maka korupsi sesungguhnya
sudah dimulai sejak tahapan paling awal dalam

Oleh: Despan Heryansyah
pilkada, yaitu rekomendasi calon oleh masingmasing pimpinan partai politik. Sulitnya
persyaratan jalur independen, menjadikan
pilihan maju melalui partai politik sebagai perahu
pencalonan yang paling diminati. Namun aturan
yang mengharuskan adanya rekomendasi dari
pengurus pusat partai politik membuka peluang
terjadinya jual-beli suara dengan harga yang tidak
murah. Beberapa waktu lalu muncul pengakuan
dari seorang kader partai, bahwa dirinya diminta
menyetorkan dana hingga ratusan miliar untuk
mendapatkan rekomendasi menjadi calon kepala
daerah. Meski tampak begitu jelas, namun realitas
ini sangat sulit untuk dibuktikan, apalagi dana
yang disetorkan adalah dana pribadi, bukan uang
negara, sehingga menyulitkan aparat penegak
hukum untuk mengusutnya.
Kebutuhan dana diperkirakan akan se­makin
besar pada saat penyelenggaraan kampanye.
Masih sangat banyak masyarakat Indonesia
yang belum melek politik, calon kepala daerah
yang memberikan tunjangan atau hadiah yang
paling besar-lah yang akan dipilih, logika yang
digunakan misalnya “kalau belum jadi kepala
daerah saja sudah pelit, apalagi saat sudah
terpilih”. Sebaik apa pun rekam jejak dan prestasi
seorang calon, tidak akan menjadi pertimbangan,

bahkan di sebagian daerah terpencil di Indonesia,
masyarakat setempat sama sekali tidak kenal
dengan calon-calon yang akan mereka pilih.
Dalam konteks ini, kita sangat sadar bahwa
pelaksanaan demokrasi substansial di Indonesia
masih harus menempuh jalan panjang. Tidak
selesai sampai di sini, bahkan pada saat sudah
terpilih sekalipun, seorang kepala daerah wajib
“membalas jasa” kepada para pendukungnya,
dalam bentuk jabatan publik atau proyek.
Ada dua realitas lain yang ikut menyum­
bang semakin tingginya korupsi kepala daerah
ini, yaitu calon tunggal dan dinasti politik.
Munculnya calon tinggal di 14 daerah yang akan
ikut menyelenggarakan pilkada serentak tahun
2018 ini, diprediksi kuat adalah muncul akibat
adanya transaksi-transaksi kotor di belakang layar.
Kita sudah mafhum bersama bahwa keberadaan
calon tunggal sangat berdampak buruk bagi
pertumbuhan demokrasi di Indonesia, namun
sayangnya se­pu­luh (10) partai politik memilih
untuk ti­dak memunculkan calon lain, padahal
mustahil tidak ada kader parpol potensial di
daerah bersangkutan. Selain itu, maraknya dinasti
politik akhir-akhir ini patut dikhawatirkan. Selain
menjadi momok demokrasi, dinasti politik juga
kemungkinan besar lahir dari suap, nepotisme
dan gratifikasi.
Akhirnya, pemberantasan korupsi sama sekali
tidak dapat jika hanya mengandalkan KPK saja,
namun harus ditelusuri dari sebabnya yang paling
dasar. Korupsi adalah akibat dari berbagai realitas
kompleks yang cukup rumit, maka korupsi hanya
akan hilang jika berbagai sebab itu terlebih dahulu
diselesaikan. Jalan yang hari ini paling mungkin
untuk menyelesaikannya adalah intervensi
negara melalui undang-undang. ***
Despan Heryansyah
Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi
(PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor
Fakultas Hukum UII Yogyakarta

Globalisasi dan Soft Power
SEMAKIN derasnya arus globalisasi saat ini
membuat negara-negara berkembang termasuk
Indonesia harus waspada dan mempersiapkan
diri dengan sebaik-baiknya. Benturan dan
konflik dengan negara lain mungkin saja
terjadi, mulai dari skala kecil sampai skala
besar. Misalnya, semakin bertambahnya
kuantitas aktor non-negara, seperti perusahaan
multinasional yang melakukan ekspansi bisnis
juga patut dicermati. Selalu ada dampak negatif
yang disebabkan oleh globalisasi. Keutuhan
wilayah, kedaulatan teritorial, dan harkat
martabat bangsa perlu dijaga dari dampak
negatif tersebut.
Sebagai negara berkembang, Indonesia
sangat rentan terseret dalam pusaran arus
globalisasi. Globalisasi bak pedang bermata dua
yang menghadirkan dampak positif dan dampak
negatif. Dampak negatif inilah yang perlu
diwaspadai. Banyak fakta yang menggambarkan
betapa rentannya negara ini. Test of water kapalkapal asing di perairan Indonesia menunjukkan
bahwa pihak asing tak ragu untuk memandang
sebelah mata kekuatan militer Indonesia.
Pengerukan pasir-pasir Indonesia di Provinsi
Kepulauan Riau oleh pihak asing menunjukkan
bahwa yurisdiksi teritorial kita terancam.
Pencaplokan bank-bank lokal skala kecil
menggambarkan bahwa imperialisme sudah
berkembang lebih mutakhir. Imperialisme
tidak lagi hadir dengan parade kekuatan militer
seperti zaman Belanda dan Jepang. Imperialisme
kini hadir melalui penguasaan ekonomi, sosial,
dan budaya. Menyikapi hal ini, Indonesia perlu
merespon secara tepat. Peningkatan kapasitas
power mutlak dibutuhkan agar tetap survive
dan mampu berkompetisi dengan negaranegara lain.
Dalam peningkatan kapasitas power, mindset
para pengambil kebijakan di Indonesia perlu
direvisi. Globalisasi menghadirkan pola baru, di
mana konteks power dewasa ini telah bergeser
dari hard power ke arah soft power. Hard power
adalah sebuah terminologi untuk menyebut
power dalam konteks kekuatan militer,
sedangkan soft power lebih menitikberatkan
pada aspek ekonomi, sosial, maupun budaya.
Hard power menghadirkan benturan dan

Oleh: Boy Anugerah

konflik dalam aplikasinya, sedangkan soft
power menciptakan kemandirian bangsa serta
memperkuat relasi dengan negara lain.
Terkait perbedaan dua makna power
ini, Indonesia bisa merujuk pada apa yang
terjadi dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.
AS pasca invasi ke Afghanistan tahun 2001
dan Irak tahun 2003 mengalami pelemahan
pengaruh secara signifikan. Alih-alih mencapai
kepentingan nasionalnya, AS justru dihujat
dunia internasional. Pengaruh AS semakin
melemah ketika mereka dihantam badai krisis
ekonomi.
Kondisi AS berbanding terbalik dengan
Tiongkok yang mengalami penguatan pengaruh.
Kerja sama yang erat dengan Afrika dan Asia
Tenggara, volume ekspor yang stabil, serta
promosi budaya yang semakin gencar melalui
Institut Konfusius dan penggunaan Bahasa
Mandarin sebagai bahasa internasional adalah
bukti-bukti konkret kedigdayaan Tiongkok.
Dengan soft power, Tiongkok mampu tampil di
pentas dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sejujurnya tak kekurangan amunisi
untuk melakukan hal yang serupa dengan
Tiongkok. Segala keunggulan negara ini baik
dari segi sumber kekayaan alam, sumber daya
manusia, maupun beragam kebudayaan yang
dimiliki merupakan fondasi kokoh dalam
penguasaan soft power. Kita patut bersyukur telah
dianugerahi kekayaan alam yang tidak terhingga.
Indonesia adalah negara maritim sekaligus
negara agraris. Melalui
pe­l abelan tersebut,
secara tersirat In­
Komisaris Utama: Drs. Yos Suharto, M.Si. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggung
donesia adalah nega­
Jawab: Putut Wiryawan. Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Heru Catur
ra yang unggul di
Nugroho. Pemimpin Perusahaan: Dwijo Suyono Redaktur Pelaksana: Warjono Sidang Redaksi:
Putut Wiryawan, Heru Catur Nugroho, Dwijo Suyono, Rosihan Anwar, Arie Giarto, Nila Hastuti,
sektor kelautan dan
Yvesta Putu Sastrosoendjojo, Sariyati, Masal Gurusinga, Sutaryono, Sri Widodo, Nanang W
pertanian. Indonesia
Hartono, Bekti Maharani, Endri Yarsana, Hery Priyantono, Prasetiyo, Daniel Tatag, Leo Setiawan
juga unggul di
Prasojo, Rahadian Prasetyo. Disainer Grafis: Muhammad Zukhronnee M, Lilik Sumantoro.
sektor energi. Ketika
Divisi Iklan: Christina Hesti Apri Wulandani (Kepala), Wardiyanto, Sirkulasi: Isnu Wiwoho.
negara lain dilanda
Alamat web: https://koranbernas.id
Posisi di bawah berita:
krisis energi akibat
Rp. 198.000,-/3 hari, Rp. 352.000,-/7 hari, Rp.
berkurangnya ca­
Tarif Iklan Cetak: Display warna Rp 18.000,-/
572.000,-/14 hari, Rp. 990.000,-/30 hari.
mmk; hitam putih Rp 9.000,-/mmk. Kolom:
Posisi samping kanan:
dangan minyak
Rp 6.000,-/mmk (minimal 1 kolom x 30 mm,
Rp. 165.000,-/3 hari, Rp. 275.000,-/7 hari, Rp.
bumi dan gas alam,
maksimal 1 x 100 mm). Iklan baris Rp 6.000,-/
495.000,-/14 hari, Rp. 825.000,-/30 hari.
Indonesia tak perlu
baris. Iklan keluarga/duka cita: Rp 5.000,-/mmk.
Posisi bawah: Rp. 110.000,-/3 hari, Rp. 192.500,risau karena memiliki
Advertorial warna Rp 14.000,-/mmk, hitam putih
/7 hari, Rp. 330.000,-/14 hari, Rp. 550.000,-/30
Rp. 7.000,-/mmk (minimal ¼ halaman). Semua
hari. Semua harga sudah termasuk PPN 10 %.
energi alternatif da­
Bank: Bank Mandiri A/C: 900-003-7272-367
harga ditambah PPN 10 %.
lam bentuk panas
Tarif Iklan Online:
Penerbit: PT Rajawali Siaga
bumi serta cadangan
Posisi atas: Rp. 220.000,-/3 hari, Rp. 385.000,-/7
uranium dalam jum­
hari, Rp. 660.000,-/14 hari, Rp. 1.100.000,-/30
Dicetak oleh PT Solo Grafika Utama. Isi di luar
hari.
tanggung jawab percetakan.
lah besar.

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

KORAN BERNAS

Dalam konteks sumber daya manusia,
Indonesia patut besyukur karena memiliki
penduduk dalam kuantitas besar yang
hampir mencapai 260 juta jiwa, hanya kalah
dari Tiongkok, India, dan AS. Indonesia juga
unggul dalam hal keragaman budaya karena
kemajemukan yang dimilikinya. Namun
semua itu belum bisa dikonversi menjadi
kekuatan serta keunggulan. Potensi yang
besar tersebut justru menjadi bumerang bagi
Indonesia sendiri. Beragam budaya Indonesia
dicaplok oleh Malaysia, ladang-ladang minyak
dikuasai korporasi asing, serta ketergantungan
yang tinggi dalam hal impor dari negara lain.
Sudah saatnyalah pemerintah dan segenap
rakyat Indonesia mengambil terobosan untuk
mengkonversi segala potensi yang ada menjadi
sebuah kekuatan (soft power) agar tetap survive
dalam pusaran arus globalisasi. Ada beberapa
langkah strategis yang dapat dilakukan untuk
mewujudkan hal tersebut.
Pertama, pemerintah perlu melakukan
pemetaan segala potensi dan keunggulan
yang dimiliki. Pemetaan ini akan memberikan
gambaran kepada pemerintah mengenai
sektor-sektor mana yang perlu digalakkan,
sektor-sektor mana yang butuh penguatan,
ser ta sektor-sektor mana yang perlu
penanganan lebih lanjut. Pemetaan ini
sangatlah dibutuhkan sebagai tolok ukur
dalam menentukan blue print atau cetak biru
kebijakan nasional. Kedua, pemerintah dan
juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan
perlu menghadirkan berbagai inovasi dalam
rangka memenangkan kompetisi global.
Inovasi-inovasi sangatlah dibutuhkan dalam
rangka membuka sumbatan-sumbatan dalam
pembangunan.
Untuk hal ini, kasus kelangkaan sumber
energi minyak bumi dan gas alam dapat
menjadi contoh. Indonesia dapat melakukan
terobosan dengan pemberdayaan panas
bumi dan energi nuklir. Ketiga, segenap
komponen NKRI hendaknya tak melupakan
aspek maintain atau pemeliharaan. Segala
potensi yang dimiliki maupun inovasi yang
diciptakan tak akan berguna jika kita alpa
pada aspek pemeliharaan. Kasus pencaplokan
lagu Rasa Sayange, batik, angklung, dan reog
Ponorogo oleh Malaysia beberapa tahun silam
merupakan contoh konkret kelemahan kita
pada aspek ini. Terakhir adalah kesediaan
dan kesiapan pemerintah serta masyarakat
Indonesia untuk melakukan langkah-langkah
tersebut.
Melalui langkah-langkah strategis tersebut
di atas, segala potensi bangsa diharapkan dapat
dimanfaatkan secara optimal. Penguasaan soft
power sebagai kunci utama mengeliminasi
dampak buruk globalisasi serta memenangkan
kompetisi global bukan mustahil untuk
dicapai. Kedaulatan nasional, yurisdiksi
teritorial, serta harkat dan martabat bangsa
juga dapat ditegakkan. Maju Indonesiaku. ***
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si.
Alumnus Magister Ketahanan Nasional
Universitas Indonesia/Direktur Ekskeutif
Literasi Unggul Consulting

SLEMAN

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

5

Tujuh Ancaman Bencana di Depan Mata
KORANBERNAS—Kabupa­
ten Sleman setidaknya menyim­
pan tujuh ancaman bencana. Ibarat
berada di depan mata, masyarakat
harus mampu mempersiapkan diri
jika suatu saat benar-benar terjadi
bencana di wilayah ini, meski tidak
diharapkan datangnya.
“Sleman itu punya tujuh
ancam­an bencana yaitu erupsi
Gunung Merapi, banjir, angin
puting beliung, tanah longsor,
kekeringan, kebakaran dan gempa
bumi. Jadi kita harus mempunyai
kesiap-siagaan untuk menghadapi
bencana yang mungkin akan
terjadi,” ujar Dra Hj Sri Muslimatun
MKes, Wakil Bupati Sleman, Kamis
(5/4).
Saat menghadiri Gladi Lapang
di Kantor Kepala Desa Caturharjo
Kecamatan Sleman yang digelar
Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman,
dia berharap jika terjadi bencana
potensi jatuhnya korban jiwa
mampu diminimalisasi.
Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri
Muslimatun MKes menga­presiasi
masyarakat Desa Caturharjo yang

turut berpartisipasi dalam ke­giatan
Gladi Lapang tersebut.
Peran serta masyarakat menjadi
salah satu faktor penting mitigasi
bencana. Pemerintah tidak akan
mampu melakukan mitigasi
bencana tanpa peran serta dari
masyarakat dan tim relawan.
“ P e m e r i n t a h Ka b u p a t e n
Sleman telah berkomitmen untuk
membekali masyarakat dengan
pengetahuan dan keterampilan
dalam melakukan mitigasi
bencana,” jelasnya. Gladi Lapang
pe­nanggulangan bencana merupa­
kan kegiatan yang penting.
Sejak 2014 sampai 5 April
2018, BPBD Kabupaten Sleman
telah mengukuhkan Desa Tangguh
Bencana (Destana) sebanyak 38
Desa. Pada Gladi Lapang tersebut
turut dikukuhkan tim Destana
Desa Caturharjo yang berjumlah
30 orang.
Mereka terdiri dari unsur
Pemerintah Desa, TNI/Polri,
tenaga kesehatan dan para relawan.
Sebelumnya mereka dibekali
keterampilan dan pengetahuan
mengenai langkah-langkah mitigasi

ISTIMEWA

GLADI LAPANG -- Relawan penanggulangan bencana melakukan Gladi Lapang di Desa Caturharjo Kecamatan Sleman, Kamis (05/04/2018).

bencana.
Pada acara tersebut Sri Mus­
limatun menyerahkan peralatan
Pertolongan Pertama Gawat

Darurat (PPGD), yang diterima
oleh Kepala Desa Caturharjo.
Pada 2018 BPBD Kabupaten
Sleman menargetkan mengukuhkan

8 Destana serta mengadakan
Gladi Lapang penanggulangan
bencana di sekolah-sekolah yang
disebut Sekolah Siaga Bencana

(SSB). BPBD Kabupaten Sleman
telah mengukuhkan 42 SSB dan
menargetkan 8 sekolah lagi untuk
tahun 2018 ini. (ila)

Menghapus Kesan Kumuh TPA Sampah Darah Gratis
untuk Pasien

ISTIMEWA

Kunto Riyadi

KORANBERNAS – Di mana
pun, tempat Pengolahan Akhir
(TPA) sampah selalu memunculkan
kesan kumuh. Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Sleman
berupaya menghapus kesan tersebut
sehubungan akan dibangunnya
TPA Sampah di Dusun Sembir Desa
Madurejo Kecamatan Prambanan.
“TPA di Prambanan ini untuk
memproses sampah-sampah residu
atau sampah yang sudah benarbenar tidak dapat dimanfaatkan lagi,”
kata Kunto Riyadi, Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah
(Bappeda) Kabupaten Sleman, Rabu
(4/4).
Lokasi TPA di Dusun Sembir

tersebut sudah final dan segera
direalisasikan. “TPA di Prambanan
nantinya dijamin jauh lebih bersih
dibanding TPA Terpadu Kartamantul
(Yogyakarta, Sleman dan Bantul)
di Piyungan Bantul, karena hanya
residu-residu yang tidak bisa diolah
masyarakat yang dibuang ke TPA
tersebut,” jelasnya.
TPA Dusun Sembir juga dikonsep
sebagai wahana edukasi pengolahan
dan pemanfaatan sampah bahkan
sebagai tempat wisata. “TPA bukan
kumuh lagi sekarang singkatannya
saja sudah beda, Tempat Pemrosesan
Akhir,” kata Kunto.
Di Kabupaten Sleman terdapat
sejumlah kelompok usaha
pengolahan sampah mandiri.
Nantinya sampah yang dibuang di
TPA Prambanan benar-benar residu
yang tidak bisa dikelola masyarakat
dan tidak memiliki nilai ekonomi
lagi.
Pada 2018 proses pembangunan
TPA tersebut memasuki tahap
pengadaan tanah dan perencanaan,
selanjutnya pada 2019 sudah bisa
dibangun dan pada 2020 bisa
digunakan.
“Kami memang harus
menyediakan fasilitas ini, kerena
TPA Piyungan sudah semakin penuh.

Salah satu syarat dapat Adipura dan
kebersihan lingkungan pemda harus
punya TPA,” tutur Kunto.
Terkait penolakan sebagian
warga, Kunto menilai hal itu lumrah
terjadi dan merupakan bagian dari

sosialisasi. “Memang ada sebagian
menolak, karena mereka belum
mengerti saja. Ini proses sosialisasi.
Kami jamin nantinya TPA lebih
bersih dan tidak seperti yang mereka
khawatirkan,” katanya. (ila)

ISTIMEWA

PENGELOLAAN SAMPAH -- Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI
mendapat penjelasan pengelolaan sampah menjadi gas methane
dari Wakil Bupati Malang ketika melakukan kunjungan ke Malang,
beberapa waktu lalu.

Pengangguran Tertolong Program Padat Karya Tunai
KORANBERNAS – Program
nasional Padat Karya Tunai (PKT)
yang ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Bersama (SKB) Menteri
Dalam Negeri, Menteri Keuangan,
Menteri Desa PDTT dan Menteri
Perencanaan Pembangunan
Nasional, mampu menolong para
pengangguran.
Program tersebut merupakan
implementasi Dana Desa agar dana
tersebut berputar di lingkungan
desa sehingga dapat meningkatkan
pendapatan warga desa setempat.

Saat ini Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Sleman mulai
melaksanakan program Padat Karya
Tunai yang bersumber dari Dana
Desa 2018.
Pembukaan dan pencanangan
pelaksanaan program itu dilakukan
di Padukuhan  Bendosari Sumbersari
Moyudan Sleman, Kamis (5/4),
ditandai pemukulan gong oleh
Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo
MSI. 
Sri Purnomo menyampaikan,
anggaran upah dalam program PKT

minimal 30 persen dari Dana Desa,
dengan kriteria tenaga kerja warga
miskin produktif, pengangguran,
petani yang menunggu masa panen
dan keluarga yang mempunyai anak
stunting.
“Mengingat maksud
pencanangan program PKT ini
untuk memajukan perekonomian
masyarakat desa khususnya
warga miskin, maka saya tegaskan
penggunaan Dana Desa wajib
dilaksanakan dengan sistem
swakelola dan padat karya serta

tidak dipihakketigakan,” tegasnya.
Program PKT dicanangan oleh
pemerintah pusat dalam tahun
berjalan. Sedangkan perencanaan
desa dilaksanakan di tahun
sebelumnya. Diharapkan pemerintah
desa melakukan penyesuaian
perencanaan kegiatan sehingga
dapat melaksanakan PKT tahun ini.
Pada 2019 semua desa sudah
bisa melaksanakan program PKT
secara menyeluruh. Mulai saat ini
harus sudah dipersiapkan proses
perencanaan desa.(ila)

KORANBERNAS -- Palang
Merah Indonesia (PMI) Kabupa­
ten Sleman mengupayakan dapat
memenuhi kebutuhan darah untuk
masyarakat Sleman secara gratis.
“PMI Sleman prihatin, sejak
lama ada pomeo di masyarakat
bahwa kebutuhan darah pasien
harus beli, sedangkan masyarakat
yang donor darah gratis,” kata Dr
dr Sunartono MKes, Ketua PMI
Sleman Sunartono, Kamis (5/4).
Sebenarnya PMI tidak menjual
darah. Adapun biaya yang
dibebankan ke masyarakat untuk
pengolahan darah sesuai yang
dibutuhkan pasien.
“Atas dasar itu PMI Sleman
punya keinginan bisa tidak darah
yang dibutuhkan pasien betulbetul gratis tanpa biaya khususnya
untuk penduduk Sleman,” ujarnya.
Jika biaya mengolah darah bisa
ditanggung pemerintah daerah,
maka kebutuhan darah pasien bisa
diberikan secara gratis. Kabupaten
Badung Bali sudah menjalankan
itu.
“Semua biaya kesehatan
ditanggung pemerintah, tidak
hanya yang miskin tetapi semua
penduduk Badung mendapatkan
pelayanan kesehatan secara gratis,”
katanya mencontohkan.
Dia berharap Pemkab Sleman
mengalokasikan anggaran untuk
pengolahan darah bagi pasien di
rumah sakit yang ada di kabupaten
ini.
PMI Sleman saat ini mampu
memenuhi sekitar 75 persen
kebutuhan darah untuk pasien
di rumah sakit. Rata-rata dalam
satu bulan permintaan darah di
PMI Sleman mencapai 800 hingga
1.000 kantong.

ISTIMEWA

Dr dr Sunartono MKes.

Dari jumlah kebutuhan tersebut
rata-rata biaya pengolahan darah
mencapai Rp 5,7 miliar per tahun
atau Rp 350 ribu per kantongnya.
“Jika biaya ini bisa dipenuhi
oleh pemerintah daerah maka
kebutuhan darah untuk pasien,
terutama penduduk Sleman dapat
diberikan secara gratis, dan tidak
perlu membedakan penduduk
miskin atau kaya,” kata Sunartono.
PMI Sleman beberapa waktu
l a l u m e n g a j u ka n p ro p o s a l
anggaran biaya pengolahan darah
ini ke Pemkab Sleman.
“Kami masih menung gu
res­p ons dari Pemkab Sleman
maupun DPRD Sleman. Saat ini 15
persen penduduk Sleman belum
terjangkau BPJS Kesehatan. Kalau
bisa di-cover pemerintah daerah
maka BPJS Kesehatan bisa untuk
pembiayaan obat yang lain,
sedangkan darah tetap gratis,”
tandasnya.
(ila)

Fidel Castro Pernah Cicipi Masakan Lanjar

NILA JALASUTRA/KORANBERNAS

Sulandjarno.

KORANBERNAS -- Kemampuannya
memasak aneka menu internasional,
nasional dan Jawa sudah tidak diragukan
lagi. Pengalamannya menjadi chef di
berbagai hotel berbintang di Jakarta
beberapa tahun lalu, menjadi modal
utama membuka warung ndesa.
Ya, dialah Sulandjarno yang biasa
dipanggil Pak Lanjar. Sejak dua tahun
lalu dia membuka usaha kuliner warung
Pak Lanjar di Dusun Banteran Desa
Sinduharjo Kecamatan Ngaglik Sleman.
Ditemui di tempat usahanya, belum
lama ini, Lanjar menceriterakan pe­
ngalamannya menjadi chef yang pernah
dipercaya memasak menu untuk presiden
beberapa negara.
“Waktu itu pas ada acara Konferensi
Non Blok di Jakarta saya mendapat
kepercayaan memasak menu masakan
kambing untuk Presiden Yasser Arafat
dan Presiden Fidel Castro,” cerita Lanjar.
Kedua pimpinan negara asing tersebut
ternyata menyukai masakan Lanjar. Dari
berbagai pengalamannya itu Lanjar
kemudian memutuskan membuka usaha
kuliner di tempat asalnya di Banteran.
Warung Pak Lanjar yang berlokasi di
Dusun Banteran tersebut menjadi salah

satu kuliner yang meramaikan Sleman
dengan menu khasnya nasi goreng Pak
Lanjar dan mi goreng Pak Lanjar.
Lanjar, dulu merupakan seorang chef
yang sempat bekerja di Hotel Hilton dan
Hotel Santika. Bekal memasak yang dia
miliki kini digunakan membuat usaha
warung makan yang diberi nuansa
pedesaan.
Lanjar juga menceriterakan awal
mulanya mendirikan warung di kampung
halamannya karena hobi jalan pagi
menyusuri sawah dan melihat warga
setempat baik anak muda, ibu-ibu bahkan
anak yatim piatu yang tidak memiliki
pekerjaan.
“Dengan membuka warung saya bisa
membantu mereka memberikan lapang­an
pekerjaan. Dua tahun berjalan sekarang
ini saya sudah memiliki karyawan 29
orang,” kata Lanjar.
Rasa istimewa
Warung Makan Pak Lanjar terletak
di sebuah desa dengan pemandangan
hamparan sawah hijau di sekitar warung.
Suasana tenang, nyaman, sejuk khas alam
pedesaan membuat Warung Pak Lanjar
menyenangkan bagi pengunjung untuk
menikmati hidangan sederhana ala

rumahan dengan rasa istimewa.
Dua tahun berjalan warung Pak Lanjar
berkembang pesat, setiap hari lebih 200
orang mengunjungi warungnya. Sedang
pesanan dibungkus bisa mencapai 100
bungkus tiap hari.
Warung Pak Lanjar menyediakan
aneka menu makanan dan minuman
antara lain nasi goreng Pak Lanjar, ricarica ayam, bakmi goreng dan godog,
capcay, nila goreng, wader goreng, lodeh,
roti bakar, pisang bakar. Dan aneka
minuman termasuk kopi yang disajikan
mulai dari bentuk biji hingga berupa
minuman kopi.
Jalan menuju warung Pak Lanjar
kanan kirinya berupa hamparan sawah
yang hijau dan sejuk. Seraya menikmati
makanan di area pedesaan, pengunjung
semakin nyaman saat berkumpul
bersama orang-orang terdekat.
Bagi pengunjung yang membawa
anak jangan khawatir si kecil akan bosan,
karena disediakan ayunan untuk sekadar
bermain-main melepas bosan.
Warung Pak Lanjar juga menyediakan
fasilitas karaoke yang bisa digunakan
siapa pun dan itu free.
(ila)

6

PUBLIKASI DAN PROFIL
KECAMATAN SANDEN

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

Sanden Terus Mempercantik Diri
KORANBERNAS – Sanden, satu dari 17
kecamatan di Kabupaten Bantul ini memiliki
beragam potensi yang sangat menarik. Potensi
itu terus dipercantik dan dikembangkan secara
maksimal untuk kesejahteraan masyarakat serta
kemajuan wilayah yang berpenduduk 33.968 jiwa
tersebut.
Wilayah Kecamatan Sanden arahnya barat
daya dari ibu kota Bantul dengan luas wilayah
2.315,9 hektar dan terbagi menjadi empat desa
yakni Gadingharjo, Gadingsari, Murtigading dan
Srigading.
Di sebelah utara wilayah ini berbatasan
dengan Kecamatan Pandak, sebelah timur dengan
Kecamatan Kretek, selatan berbatasan langsung
dengan Samudra Indonesia serta sebelah barat
berbatasan dengan Kecamatan Srandakan.
Pemerintah Kecamatan Sanden sekarang ini
gencar melakukan penataan kawasan Pantai Samas
Desa Srigading. Pada masa lalu Samas pamornya
sempat naik dan menjadi jujugan wisatawan.
Merebaknya prostitusi di kawasan tersebut,
menjadikan Samas tenggelam apalagi kemudian
bermunculan destinasi wisata baru termasuk
gugusan pantai di selatan DIY. Belum lagi hantaman
abrasi menjadikan Pantai Samas kian terpuruk.
“Melihat kondisi yang ada, kemudian saya
bertekat membangkitkan wisata Pantai Samas yang
bersih dan bebas dari segala praktik prostitusi
dan karaoke yang jumlahnya terdata 26 tempat,”
tegas Wahyu Widodo SE, Lurah Srigading, kepada
koranbernas di kantornya, pekan lalu.
Niat itu kemudian disosialisasikan ke berbagai
pihak termasuk para pengelola karaoke. Bagi Lurah
Wahyu, menata Samas yang kala itu sudah akut
digerogoti “amisnya” aroma prostitusi bukanlah
perkara mudah.
Namun dengan niat kuat, bersama elemen
masyarakat dan aparat terkait, dideklarasikan
Pantai Samas yang bebas prostitusi pada 23
Desember 2017. “Bagi saya menata Samas ini
sebuah jihad dan perjuangan yang akan saya
pertanggungjawabkan kelak. Bukan perkara
mudah, karena ancaman dan teror kerap saya
terima,” katanya.
Memang, ada banyak kepentingan yang bermain
di Pantai Samas terutama dalam lingkar prostitusi.
Belum lagi perputaran uang yang menggiurkan.
Karaoke yang juga untuk sarana prostitusi bisa
meraup omzet hingga Rp 15 juta semalam. Tidak
hanya pelacuran namun juga dari sewa kamar dan
juga penjualan minuman keras.
“Kendati banyak tantangan saya hadapi, saya
bertekat Pantai Samas harus jadi destinasi wisata
yang bersih, menawan dan banyak dikunjungi
wisatawan karena memang potensi pantainya yang
indah,” katanya.
Kebulatan tekat itu tidak hanya selesai dalam
deklarasi semata, Pemerintah Desa Srigading
kemudian melakukan berbagai kegiatan untuk

ISTIMEWA

PANTAI GOA CEMARA -- Rindang dan indahya Pantai Goa Cemara, Dusun Patehan, Desa Gadingsari
yang banyak dikunjungi wisatawan termasuk saat matahari tenggelam (kiri). Lahan pasir bisa ditanami beragam tanaman termasuk buah naga dan juga bunga matahari yang menjadi obyek wisata
nan menawan.

SARI WIJAYA/KORANBERNAS

LAGUNA PENGKLIK -- Bupati Bantul Drs H Suharsono dan pejabat terkait naik kapal di Laguna Pengklik
Pantai Samas yang semakin tertata.
mewujudkan Samas seperti dicita-citakan.
Penertiban
Di antaranya pembersihan sampah seminggu
sekali yang dilakukan lembaga desa dan masyarakat
secara bergiliran, pembuatan kawasan wisata
Pengklik yang menyediakan aneka masakan laut
dengan bentuk resto apung yang dikelola BUMDes,
beroperasinya kapal wisata yang menyusuri Laguna
Samas hingga wisata Mangrove, Tirtohargo dan
bulan ini akan dibangun juga gedung BUMDes dan
Gedung Pokdarwis di lokasi Samas dengan masingmasing anggaran Rp 126 juta.
“Sekaligus gedung itu untuk memantau
penertiban. Tidak kita pungkiri memang masih
banyak yang mencoba diam-diam buka karaoke dan
pelacuran, tetapi kami pun tidak surut bertindak
dan terus berkeliling memantaunya,” katanya.
Termasuk dengan mengirim surat ke pihak
terkait agar dilakukan razia berkala di Samas.
Selain dua gedung yang didesain bangunan limasan,
akan dibangun pula 78 lapak pedagang berbentuk
limasan dengan ukuran yang sama. Mereka yang
menempati diutamakan dari masyarakat setempat.
“Jika sudah terbangun semua, maka ketika

orang datang ke Pantai Samas mereka akan seperti
berada di kampung masa lalu, Jawa tradisional
yang didominasi Limasan. Bagus juga untuk spot
foto bagi pengunjung,” tambah Lurah Wahyu.
Upaya promosi wisata juga akan dilakukan
dengan digelarnya acara kegiatan budaya kirab
malam Mahesa Sura yakni kegiatan syukuran
dengan penyembelihan kerbau, dan kirab Jalanidi
pada hari berikutnya berupa larungan kepala
kerbau pada bulan Oktober. Pemerintah Desa
juga akan mengundang para pelaku wisata dan
travel agent.
Bukan hanya pantai, kawasan Srigading
beberapa waktu lalu booming taman bunga
matahari di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), salah
satunya ditanam oleh Sumarna yang memiliki
lahan di Dusun Tegalsari Desa Srigading, persis
di pinggir JJLS.
Pria yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani
Pasir Makmur Bantul ini memiliki ide menanam
bunga matahari agar banyak wisatawan kembali
datang berkunjung setelah pada Oktober 2017
ada warga yang menanam dan ramai dikunjungi.
“Dulu ramai saat bunga matahari mekar, namun

setelah dua bulan bunga layu wisatawan jarang
berkunjung lagi. Saya tanami kembali di lahan saya
dengan harapan saat berbunga kawasan selatan
Samas ini akan ramai lagi dikunjungi wisatawan,”
katanya.
Bukan hanya bunga matahari, kawasan Sanden
juga menjadi sentra tanaman buah Naga di DIY
dan permintaan melonjak saat perayaan Imlek.
Selain menjual buah naga, para pengunjung saat
panen juga bisa berwisata memetik buah naga di
kawasan selatan Bantul. Petani pun mengandalkan
pemasukan dari wisatawan yang melakukan petik
buah naga di tempat.
Bangkit Sunandar (35), petani buah Naga
mengatakan masa panen buah naga hanya sekali
setahun yang biasanya dimulai November hingga
penghujung Maret. Selama musim panen tanaman
buah naganya yang berjumlah 1.665 rumpun di
atas lahan 2,1 hektar bisa mneghasilkan panenan
10 ton.
Bukan hanya wilayah Samas yang terus
bereksplorasi, di kawasan Pantai Goa Cemara,
Dusun Patehan Desa Gadingsari juga terus dilakukan
penataan. Dari pantauan koranbernas, kini pantai
Goa Cemara terlihat lebih bagus dengan adanya
papan nama yang diberi hiasan dua patung kurakura ukuran raksasa. Tempat ini juga sering
dijadikan obyek foto para pengunjung.
Nyaman
Mengunjungi pantai Goa Cemara juga terasa
lebih nyaman. Karena banyaknya tanaman
Cemara Udang yang berbentuk laksana rongga goa
menjadikan saat berkunjung menjadi terasa lebih
adem. Di tempat ini juga beberapa kali dilakukan
pelepasan tukik atau anak penyu untuk kepentingan
pelestarian lingkungan.
“Pada akhir pekan dan liburan, pantai ini sangat
banyak wisatawannya,” kata Mujana salah seorang
pemilik restoran dan wahana permainan anak di
tempat tersebut. Ya, karena mengunjungi Goa
Cemara selain menikmati obyek wisata pantai,
juga bisa menikmati aneka kuliner sea food, ATV,
menara mercusuar dengan ketinggian 40 meter
sehingga bisa melihat laut dan DIY dari ketinggian
serta disediakan aneka permainan anak di lokasi.
Tentu ada juga oleh-oleh yang bisa dibawa pulang
pengunjung termasuk hasil bumi warga setempat
seperti ubi jalar.
Camat Sanden Slamet Santosa SIP berharap
dengan semakin tertatanya kawasan pantai dan
dikembangkannya pertanian, baik lahan pasir
ataupun non-pasir bisa memberikan manfaat bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat Sanden.
“Sekaligus penataan ini untuk menyambut
beroperasinya NYIA Kulonprogo 2019 dan
dijadikannya kawasan selatan sebagai pintu
gerbang DIY,” kata Camat Slamet. Pihaknya tidak
ingin masyarakat hanya menjadi penonton dengan
beroperasinya NYIA, namun harus bisa menangkap
berbagai peluang yang ada. (sari wijaya)

Kemajuan Harus Bawa Manfaat

ISTIMEWA

Camat Sanden Slamet Santosa SIP bersama istri.

KORANBERNAS – Program serta kegiatan
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kecamatan
Sanden, Pemerintah Desa se-Kecamatan Sanden
dan semua elemen harus membawa manfaat bagi
kepentingan masyarakat.
Menurut anggota DPRD Bantul asal Dusun
Wonorejo Desa Gadingsari Kecamatan Sanden,
H Sadji SpdI atau akrab disapa Mbah Sadji,
semua program yang dibuat itu harus menyentuh
kepentingan masyarakat dan sebesar-besarnya
bermanfaat bagi mereka.
“Semua program dan kebijakan harus mengacu
pada kepentingan masyarakat, kepentingan
bangsa dan negara ini,” kata Mbah Sadji.
Supaya program tersebut benar-benar tepat

sasaran, caranya para pemangku kepentingan
harus terjun ke bawah, menyerap aspirasi mereka
dan mencarikan solusi yang tepat.
“Sanden ini berada di kawasan Selatan,
pembenahan dan penataan Sanden sebagai
pintu gerbang DIY amatlah tepat. Jangan
sampai beroperasinya NYIA kelak, kita hanya
jadi penonton, namun juga harus berperan dan
mengambil kesempatan di sana,” kata politisi
kelahiran 9 Juni 74 tahun silam tersebut.
Dirinya sebagai wakil rakyat berkomitmen
selalu hadir di tengah masyarakat yang
diwakilinya. “Saya bukan hanya sebagai wakil
rakyat, namun juga sebagai abdi rakyat,” kata
H Sadji. (sari wijaya)

Menata Halaman
Depan DIY
Kue Adrem yang Melegenda

KORANBERNAS -- Gubernur
DIY Sri Sultan Hamengku Buwono
X sudah menetapkan “muka”
DIY adalah kawasan selatan.
Untuk itulah, wilayah selatan
DIY termasuk Kecamatan
Sanden harus melakukan banyak
pembenahan dan peningkatan di
berbagai sektor, sehingga ‘muka’
atau ‘wajah’ maupun halaman
depan DIY itu benar-benar
tertata dan bermanfaat besar
bagi masyarakat.
Camat Sanden, Slamet
Santosa SIP, mengatakan apa
yang disampaikan oleh Gubernur
tersebut disambut antusias
Pemerintah Kecamatan Sanden
beserta masyarakat. Berbagai
program kegiatan dan penataan
dilakukan dalam rangka mencapai
cita-cita tersebut.
“Kami membuat berbagai
program agar apa yang
dicita-citakan bisa tercapai.
Sekaligus bisa mewujudkan
harapan Kecamatan Sanden
yang agamis, cerdas, sejahtera
dan berbudaya bisa terwujud.
Kecamatan Sanden bisa maju
dan berkembang sebagai halaman
depan Kabupaten Bantul DIY
dengan pengembangan budi daya
pertanian, jasa dan pariwisata
berbasis pantai, budaya dan
agrowisata,” kata suami dari
Istri Agustin Budi Purwanti SPd,

kepada koranbernas di kantornya.
Ayah dari tiga putri ini selalu
melakukan komunikasi dengan
berbagai pihak supaya program
Pemerintah Kecamatan Sanden
bisa tersampaikan dengan baik.
Selain itu, perlu memperoleh
dukungan dari aparatur
pemerintahan, unsur TNI/Polri,
tokoh agama, tokoh masyarakat,
pemuda dan semua lapisan
masyarakat.
“Berbagai program yang
kami buat tersebut tidak akan
bisa berjalan maksimal tanpa
dukungan dari semua lapisan
masyarakat,” kata alumnus
STPDN (IPDN) Jatinangor dan
Sarjana Ilmu Politik UGM tersebut.
Pria kelahiran Bantul 45
silam ini selalu terjun ke tengah
masyarakat sehingga bisa
mengetahui apa yang menjadi
keinginan dan aspirasi mereka.
Termasuk adanya hambatan yang
muncul, sehingga bisa dicarikan
solusi terbaik .
“Turun ke bawah untuk
mengetahui secara persis apa
yang diinginkan dan harapan
masyarakat Sanden rutin saya
lakukan. Menjadi camat jam
kerjanya 24 jam bagi kepentingan
masyarakat,” kata pria yang
menjadi ASN sejak 1 November
1993 tersebut.
(sari wijaya)

KORANBERNAS -- Kecamatan
Sanden memiliki banyak potensi
kuliner serta Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM) yang mampu
menyerap tenaga kerja dan
meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Salah satu kuliner
khas yang melegenda karena
sudah ratusan tahun ada adalah
adrem.
Pembuat kue tradisional yang
rasanya sama dengan cucur ini
bisa dihitung dengan jari, salah
satunya Ny Ch Mardinem (63),
warga Dusun Ngunan-Unan RT
24. Dia menjadi pembuat kue
adrem sejak 1973 dan diberi
merek “Marginingsih”.
“Kemampuan membuat
adrem ini saya dapatkan secara
turun temurun. Orang tua saya

dan simbah juga pembuat adrem.
Jadi sejak kecil saya sudah bisa
dan tahu cara membuatnya,”
kata Ny Mardinem kepada
koranbernas di tempat usahanya.
Bahkan saat itu ketika
tidak melanjutkan sekolah
di jenjang SMP, Ny Mardinem
memilih membuat kue yang
bahan bakunya campuran antara
tepung beras, parutan kelapa,
gula Jawa dan vanili.
Kala itu adrem menjadi
makanan yang sangat ngehits
sehingga dalam sehari dirinya dan
keluarga mampu menghabiskan
20 kilogram tepung beras. Setiap
satu kilogram tepung bisa dibuat
adrem 50-60 biji.
Rutinitas membuat adrem
sempat berhenti ketika tahun

SARI WIJAYA/KORANBERNAS

Mbah Sadji

ISTIMEWA

1979 dia menikah dengan
Ngadenan. Pasangan suamiistri baru ini memilih menjadi
pedagang hasil bumi, tidak hanya
di Bantul bahkan ke luar DIY.
Barulah pada 2005 ketika
salah seorang buah hatinya
meninggal dunia karena
sakit, pasangan ini kemudian
memutuskan berada di rumah.
Satu biji adrem dijual
Rp 1.000. Dia juga membuat
cucur serta peyek. “Saya juga
melayani pesanan pembuatan
adrem untuk keperluan hajatan,
hantaran, pengajian dan acara
lainnya,” katanya.
Hanya saja kemampuan
membuat adrem ini memang
tidak mudah ditularkan. Hal itu
diakui oleh Supinah salah seorang

anggota KWT “Mugi Rahayu”.
“Saya belajar tidak bisa-bisa,
terutama soal komposisi bahan
dan cara menggorengnya
menggunakan tiga sumpit. Sering
belajar mlenyok-mlenyik,”
katanya tertawa.
Bicara kuliner Sanden, bukan
hanya adrem yang melegenda
namun kuliner bebek juga
sangat terkenal. Ada bebek
goreng Umar Plenteng dan Bebek
Widodo yang begitu termasyur
di wilayah itu. Selain kuliner,
di Sanden juga berkembang
beragam UMKM. Salah satunya
industri pembuatan pot dan meja
kursi taman berbahan pecahan
keramik milik Indartono (42),
Kepala Dukuh Ngunan-Unan Desa
Srigading. (sari wijaya)

SARI WIJAYA/KORANBERNAS

ISTIMEWA

KUE TRADISIONAL -- Pembuat kue tradisional adrem, KERAJINAN POT -- Pembuatan kerajinan pot KULINER BEBEK -- Kuliner bebek
Ny Ch Mardinem, 63 tahun (kedua kiri) asal Dusun dan kursi dari pecahan keramik milik Indar- yang banyak ditemui di wilayah
Ngunan-­Ngunan-Unan RT 24 Desa Srigading.
tono yang juga Kepala Dukuh Ngunan-Unan . Sanden dan disukai pelanggan.

PUBLIKASI DAN PROFIL
KECAMATAN KASIHAN

7

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

Kajigelem Penggerak Ekonomi Kasihan
KORANBERNAS – Kecamatan Kasihan
merupakan salah satu kecamatan di
Kabupaten Bantul yang berbatasan
dengan Kota Yogyakarta dan berpenduduk
padat. Bentang wilayah ini 80 persennya
daerah datar sampai berombak dan 20
persen daerah berombak serta berbukit.
Luas wilayah Kecamatan Kasihan
3.437,9 hektar, terbagi menjadi empat
desa yakni Desa Ngestiharjo, Desa
Bangunjiwo, Desa Tirtonirmolo dan Desa
Desa Tamantirto.
Di sebelah utara wilayah Kasihan
berbatasan dengan Kecamatan Ngampilan,
sebelah timur dengan Kecamatan Sewon,
sebelah selatan dengan Kecamatan
Sewon dan Pajangan serta sebelah barat
berbatasan dengan Kecamatan Pajangan.
Wilayah berpenduduk 77.261 jiwa
tersebut memiliki banyak potensi
yang bermanfaat bagi kesejahteraan
masyarakat. Yang paling menonjol dan
menjadi kekuatan penggerak ekonomi
Kasihan adalah Kajigelem, di-launching
enam tahun silam oleh Lurah Desa
Bangunjiwo H Bibit Rustamto SH, kala itu.
Kajigelem merupakan kepanjangan
dari Kasongan, Jipangan, Gendeng dan
Lemahdadi. “Kajigelem dalam Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan
Kasihan dijadikan sentra ekonomi
kreatif dan kawasan Industri,” kata
Siyambudi Wiguna, Ketua Kajigelem
kepada koranbernas beberapa waktu
lalu di Sekretariat Kajigelem Balai Desa
Bangunjiwo.
Kasongan (kajen) memiliki potensi
gerabah. Produk kerajinan tanah liat ini
berbentuk guci dan pot berbagai ukuran,
hiasan dinding, suvenir, kembang tiruan
dari berbagai bahan , meja kursi kayu,
kerajinan bambu serta topeng. Selain
dipsarkan di dalam negeri, kerajinan dari
Kasongan juga diekpsor ke negara-negara
Asia, Amerika hingga Eropa.
Berbeda dengan Kasongan, Jipangan
terkenal dengan kerajinan kipasnya,
Gendeng dengan kerajinan wayang
kulitnya dan menjadi titik fokus Desa

ISTIMEWA

GERABAH -- Gerabah Kasongan sangat terkenal di dalam negeri maupun mancanegara, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PISAU BATIK -- Kerajinan pisau batik
di Kalirandu yang begitu indah. Tidak
hanya difungsikan sebagai pisau, namun juga suvenir (atas). Kerajinan
wayang Dusun Gendeng yang tetap
eksis.

Bangunjiwo. “Wisatawan juga bisa
praktik, bagaimana rumitnya mengukir
dan mewarnai wayang kulit dengan
berbagai bentuk, tokoh dan nama dalam
cerita wayang,” katanya.
Sedangkan Lemahdadi menjadi sentra
kerajinan patung batu. Bahan bakunya
dari batu Merapi. Pekerja ataupun perajin
mayoritas penduduk asli setempat.
Wisata edukasi
Kajigelem juga didukung oleh
pedukuhan lain yakni Dusun Kalirandu,
Krengseng dan Kalipucang. “Kami
tahun ini membuat konsep Wisata
Edukasi Kajigelem yang terintegrasi dan
melibatkan seluruh lapisan masyarakat
dan para perajin,” kata Siyam yang aktif
di bidang kerajinan kemudian beralih
fotografi.
Wisata Edukasi Kajigelem yang

paparnya.
Warga sekitar dilibatkan di sektor
jasa parkir, penyedia kios makanan dan
minuman ataupun oleh-oleh. Dengan
demikian semua merasa handarbeni atau
memiliki serta merasakan manfaat dari
adanya Kajigelem.
Nantinya juga akan diatur sharing
pendapatan pengembangan Kajigelem
ke Pendapatan Asli Desa (PAD) sehingga
bermanfaat bagi masyarakat secara lebih
luas maupun untuk organisasi di Kajigelem
yang dikelola secara profesional.
“Konsep ini sudah kami sampaikan
kepada tokoh-tokoh masyarakat,
kepada pihak terkait termasuk dengan
pemerintah desa. Mereka mendukung
konsep Wisata Edukasi Kajigelem yang
terintegrasi ini,” katanya.
Dalam waktu dekat akan dibuat video

ISTIMEWA

rencananya dibangun pada 2019 dengan
dana Rp 1 miliar, menempati area 5.000
M2 di atas tanah kas desa sebelah barat
Balai Desa Bangunjiwo.
Di sini akan ada play ground untuk
permainan anak-anak, gudang simpan,
mushala, gasebo, area pameran produk,
area parkir, lobi utama, track jalan kaki
dan sarana lainnya.
“Jika sebelumnya tamu atau
wisatawan ketika datang itu terpisahpisah lokasinya, rencananya setelah
Wisata Edukasi Kajigelem ini jadi mereka
bisa langsung datang ke tempat yang
terintegrasi. Ini wisata minat khusus dan
wisata pendidikan, sasarannya pelajar dan
umum. Jadi di sini mereka bisa belajar
beragam kerajinan. Pelatihnya ya dari
perajin yang kita gilir sehingga semua
merasakan manfaat area integrasi ini,”

profil dan promosi keberadaan Kajigelem
ke berbagai event termasuk menggandeng
travel agent.
Lurah Desa Bangunjiwo, Pardja
ST, mengatakan Wisata Edukasi Kaji­
gelem bertujuan untuk meningkatan
kesejahteraan masyarakat secara lebih
luas. “Potensi yang ada dimanfatkan
sebesar-besarnya bagi kepentingan
masyarakat,” katanya.
Kecamatan Kasihan juga memiliki
potensi lain yakni Pesanggrahan Am­
barbinangun di Kalipakis Tirtonirmolo
dengan luas keseluruhan kurang lebih 2
hektar, Sendang Bayu Tumpang di Dusun
Salakan Desa Bangunjiwo, sisa pagar
tembok masa lampau di Jomegatan Desa
Ngestiharjo. Tembok itu menggunakan
batu-bata, ukuran panjang 40 meter,
tebal 0,56 meter dan tinggi 1,42 meter.
Pada jarak tertentu tembok ini dihiasi
ceplok bunga.
Ada juga Masjid Dongkelan di Kauman
Desa Tirtonirmolo. Masjid yang dikenal
dengan nama Masjid Nurul Huda itu
relatif masih belum mengalami banyak
perubahan. Di sebelah barat masjid
terdapat kompleks makam tua. Di
sini dimakamkan Kiai Shihabudin yang
menjadi cikal bakal Desa Dongkelan
sebagai tanah perdikan.
Ada juga Sendang Kasihan petilasan
Sunan Kalijaga di Dusun Kasihan Desa
Tamantirto sekitar 1,5 km di sebelah barat
pabrik gula Madukismo.
Terdapat juga sentra sentra makanan
tradisional di Kasihan berupa industri
minyak kelapa dan tahu di Desa
Ngestiharjo maupun pasar kue tradisional
di Dusun Janten Desa Ngestiharjo.
Camat Kasihan Susanto MAP
mengatakan segala potensi yang ada
akan digarap maksimal dan dimanfaatkan
bagi kepentingan masyarakat. “Sektor
perekonomian pasti akan terangkat
dengan memaksimalkan segala potensi
yang ada,” katanya. (sari wijaya)

Perlu Akses Jalan Memadai
KORANBERNAS -- Potensi wisata dan
kerajinan di Kecamatan Kasihan yang
berkembang pesat harus diimbangi akses
jalan dan sarana lain yang mamadai.
Anggota komisi A DPRD Bantul, H
Sapto Saroso, menilai akses jalan atau
infrastruktur lainnya memegang peran
vital untuk mendukung geliat ekonomi di
kecamatan ini.
“Jalan yang sekiranya masih sempit
saya berharap bisa diperlebar. Jalan yang
memadai akan memudahkan mobilitas
kendaraan-kendaraan besar termasuk untuk
mengangkut kerajinan dari wilayah ini,”
kata Sapto.
Jika aksesnya mudah, akan berdampak
pada peningkatan volume penjualan atau
ekspor kerajinan asal Kasihan. “Saya sering

ISTIMEWA

H Sapto Saroso
melewati Kasihan dan saya lihat masih ada
beberapa titik jalan yang sempit. Mohon
pihak terkait melakukan cek dan kajian
tentang kemungkinan pelebaran jalan,”

tandasnya.
Ketika NYIA Kulonprogo resmi beroperasi
pada 2019, akan semakin banyak kendaraan
melewati Kasihan, karena menjadi
penghubung wilayah kota ataupun Sedayu
(Jalan Wates).
“Ini juga potensi bagi masyarakat. Di
saat NYIA telah benar-benar beroperasi,
mereka bisa mendapat keuntungan dengan
banyaknya orang yang melintas, misalnya
dengan membeli kerajinan yang mereka
buat,” katanya.
Jangan sampai masyarakat Kasihan
hanya menjadi penonton semata. “Perlu
persiapan bukan hanya infrastruktur tapi
juga peningkatan kapasitas SDM,” tambah
Sapto.
(sari wijaya)

Kipas Jipangan yang Menawan
KORANBERNAS -- Bagi Anda yang gemar
mengoleksi kipas-kipas indah ataupun ingin
membuat suvenir kipas, silakan datang ke
Dusun Jipangan atau Desa Wisata Jipangan
(Dewi Jipang) Desa Bangunjiwo Kecamatan
Kasihan Bantul. Hampir semua warga dusun
ini berprofesi sebagai perajin kipas, dan telah
dikenal sejak era 90-an.
Saat koranbernas mendatangi tempat
ini, terlihat pemandangan jemuran bilahan
bambu ataupun kipas yang baru dicat.
Di beberapa rumah terlihat pula displai
kipas aneka warna. Semua tampak begitu
menawan. Tercatat di tempat ini ada lebih
dari 50 perajin yang menekuni usaha secara
turun temurun.
Bambu sebagai bahan baku kipas berasal
dari lokal Bantul maupun didatangkan dari
Kulonprogo serta Purworejo. Sedangkan
kainnya, dipilih kain perca.
Ketua Pokdarwis Dewi Jipang, Darmawan,

mengakui mayoritas warganya adalah perajin
kipas. Potensi itulah yang kemudian menjadi
salah satu ‘modal’ diluncurkannya Dewi Jipang
pada 15 Maret 2014 oleh GKR Hemas.
“Potensi pembuatan kipas ini kami kemas
menjadi paket wisata,” kata Darmawan.
Namanya Paket Wisata Edukasi Kerajinan
Kipas.
Didampingi para perajin, wisatawan
diajak berlatih membuat kipas bambu.
Hasilnya dibawa pulang untuk oleh-oleh.
Paket ini diminati kalangan pelajar.
“Selain paket wisata, produk kipas
perajin dipasarkan ke kota-kota besar
di Indonesia, bahkan mancanegara. Al­
ham­dulillah, eksistensi industri kreatif
kerajinan kipas ini mampu memberdayakan
sebagian besar warga. Otomatis ini sangat
membantu program pemerintah dalam rangka
mengentaskan kemiskinan dan mengurangi
angka pengangguran,” tambah Darmawan.

Dewi Jipang juga menawarkan paket
wisata alam Susur Sungai Bedog (Bedog
River Tubing). Wisatawan diajak menikmati
keindahan alam Sungai Bedog sepanjang
sekitar 3 kilometer. Mereka didampingi
pemandu berpengalaman, disertai peralatan
memadai sehingga mendukung kenyamanan
dan keamanan wisatawan saat menikmati
wahana ini.
“Dewi Jipang juga menawarkan wisata
budaya menikmati kesenian warisan budaya
adiluhung. Beberapa di antaranya jathilan,
gejok lesung, shalawatan Jawa, hadroh dan
seni tari,” kata Darmawan.
Tak hanya menikmati, wisatawan juga
memperoleh kesempatan praktik kesenian
tersebut sehingga terkesan dan menjadi
pengalaman tersendiri di benak para
wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata
Jipangan. “Ayo nikmati pengalaman berkesan
dan datanglah kemari,” katanya. (sari wijaya)

ISTIMEWA

MEMBUAT KIPAS -- Wisatawan pelajar sedang praktik membuat kipas di Desa Wisata
Jipangan Kasihan. Dewi Jipang Kasihan juga menawarkan paket wisata susur sungai
Bedog.

ISTIMEWA

Drs Susanto MAP dan istri.

Kuncinya, Hadir
Menyapa Warga
KORANBERNAS -- Drs Susanto
MAP menjabat sebagai Camat
Kasihan baru sebulan terakhir.
Namun demikian, suami dari
Ny Hermaningtyas Yhuwanindah
BA seorang pegawai Dinas Sosial
Bantul tersebut, selalu hadir dan
menyapa warga di wilayahnya.
Itulah kata kuncinya, supaya
tugas-tugasnya lancar.
Melalui kegiatan sambang
warga bersama pihak-pihak
terkait, mantan Camat Bantul itu
akan segera mengetahui potensi
yang ada, harapan masyarakat,
mengidentifikasi persoalan yang
muncul sekaligus mencarikan
solusi yang tepat.
“Sebagai orang baru ten­
tu sa­­ja saya kulanuwun deng­
an Muspika, tokoh agama,
tokoh masyarakat dan ber­
bagai elemen lain. Saya ingin
bergandengan dengan semua
pihak sehingga program Pe­
merintah Kecamatan Kasihan
tersampaikan dengan baik dan
didukung oleh semuanya,” kata
alumnus Fakultas Ekonomi
(Manajemen) UPN Veteran tahun
1987 tersebut.
Hal yang tidak kalah pen­ting,
lanjutnya, adalah mem­berdaya­
kan masyarakat un­
tuk terlibat
dalam proses pembangunan.
“Tanpa peran serta dari mereka,
akan sulit segala program yang
telah dibuat bisa berjalan
dengan baik,” ungkap pria yang
menyelesaikan program MAP di
UGM tahun 2014 itu.
Salah satu fokus perhatiannya
adalah memaksimalkan Kajigelem
dan potensi lainnya agar bisa
lebih maju, berkembang dan
bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami akan melakukan pen­
dampingan agar Kajigelem dan
potensi yang ada di Kasihan
bisa berkembang. Dukungan ini
penting artinya, dalam rangka
menggairahkan segala sektor,”
tambah pria yang mengawali
karier sebagai ASN di Bappeda
pada tahun 1989 itu.
Susanto pernah menjabat
Camat Pajangan dan Dlingo.
Dia berharap adanya dukungan
dan juga masukan dari semua
pihak. “Masukan dan kritik akan
menjadi bahan evaluasi dan
perbaikan kami ke depan. Saya
selalu membuka keran untuk
komunikasi,” katanya.
Salah satunya dengan rajin
menghadiri berbagai kegiatan
warga. Menjadi camat, menurut
Susanto, adalah pekerjaan 24
jam. Artinya siap kapan saja.
“Beruntung saya mendapat
dukungan penuh dari keluarga,
Termasuk istri saya sering
ikut menyapa masyarakat dan
mendampingi saya,” ujarnya.
Ny Hermaningtyas meng­
atakan siap mendukung penuh
tugas suaminya, bahkan me­
nyertainya terjun ke bawah
sekaligus ikut mendengarkan
harapan warga.
“Saya juga aktif mendukung
pembangunan di wilayah ini
dengan menjalankan program
PKK, memberdayakan kaum ibu
dan kaum perempuan,” kata
Ny Tyas.
Dengan demikian antara
program pemerintah dengan
program PKK bisa seiring
sejalan. “Semua bermuara
bagi kepentingan masyarakat,”
katanya. (sari wijaya)

8

GUNUNGKIDUL-KULONPROGO

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Cuaca Tingkatkan Produksi Gabah
KORANBERNAS--  Tahun
2018 ini Gunungkidul me­
nargetkan 294.500 ton gabah
kering giling. Jumlah ini meningkat
dibanding tahun lalu ini karena
mengacu pada kondisi cuaca yang
cukup baik, sehingga produksi
gabah bisa naik dibanding tahun
2017.
Tahun lalu, Gunungkidul
hanya mampu mencapai target
produksi padi sebanyak 293.381
ton padi dari target sekitar 289.000
ton. Untuk target 2018 ini dibagi
dalam 3 musim tanam. Di musim
pertama bulan Januari sampai
April ditarget sebanyak 255.000
ton gabah kering giling. Kemudian
untuk bulan Mei hingga Agustus
dapat menghasilkan 35.000 ton.
Terakhir sisanya di musim tanam
ketiga pada September sampai
Desember.

Kepala Bidang Tanaman
Pangan, Dinas Pertanian dan
Pangan Gunungkidul, Raharjo
Yuwono mengatakan, Pemerintah
Indonesia membuat roadmap
swasembada pangan 2016 hingga
2045 sebagai acuan dalam me­
ningkatkan produksi bahan
pangan. Oleh karenanya, setiap
tahun pihaknya berupaya selalu
meningkatkan produksi pertanian
guna memenuhi kebutuhan
pangan masyarakat.
“Target yang kami tentukan
juga diperkirakan dari cuaca. Cuaca
tahun lalu akan berpengaruh pada
produksi di tahun selanjutnya. Ki­ta
melihat tahun 2017 cuaca normal
jadi tahun ini dipastikan normal
sehingga kami berani menarget
setinggi itu,” tuturnya, pekan lalu.
Ditambahkan, Gunungkidul
sudah menjadi penghasil beras

atau penyumbang produksi padi
di DIY. Meski letak geografis di
Gunungkidul dinilai tidak sebagus
Bantul atau  Kulonprogo, namun
hasil padi yang didapatkan bisa
melimpah akibat sifat petani
Gunungkidul yang ulet dan pe­
kerja keras.
“Gunungkidul ini daerah
tadah hujan, jadi sangat beresiko
terhadap iklim. Bisa banjir, bisa
juga kekeringan. Medannya pun
juga berat sehingga butuh kerja ke­
ras dari petaninya,” jelas Raharjo.
Produksi tanaman pangan,
lanjutnya, merupakan salah satu
tolak ukur bidang pertanian.
T e n t u , p e n e t a p a n s a s a ra n
pro­d uksi pangan ini dengan
mem­p ertimbangkan capaian
produksi sebelumnya. Adapun
pertimbangan tersebut dengan
melihat potensi dan peluang,

aspek sosial, dan masalah yang
mungkin muncul serta dukungan
yang akan dilaksanakan.
Un t u k m e n ca p a i t a rg e t
ter­­­s e­b ut, pihaknya akan me­
maksimalkan penanaman padi
di sawah. Ia juga akan meng­
optimalkan sumber air seperti
pada lahan bukan sawah atau padi
gogo  yang akan menjadi lokasi
penanaman padi.
“Kita sangat optimis target bisa
tercapai,” ujarnya.
Camat Ponjong, Johan Eko
Sudarto secara terpisah juga
mengaku optimis hasil panen padi
bahkan palawija tahun 2018 ini
mengalami kenaikan. Kecamatan
Ponjong yang selama ini punya
kawasan pertanian sawah, sistem
irigasinya dinilai lancar dan bagi
lahan tegalan, dukungan curah
hujan cukup. (ryo)

ST ARYONO/KORAN BERNAS

PANEN --Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mencoba traktor untuk memanen padi, beberapa waktu lalu.

Ternyata Madu
Agak Pahit
KORANBERNAS-- Agus,
nampak terkesan saat memetiknya.
Terlebih merasakan sendiri untuk
pertama kalinya.
“Ternyata madu itu agak pahit.
Bayanganku madu itu senuanya
manis”, gumamnya.
Itu pengalaman pertama
merasakan manis pahitnya madu,
kemarin. Agus bersama temantemannya rela mendaki bukit dan
meniti jalan terjal demi menikmati
madu di kawasan tersebut. Namun
di lingkungan hijau indahnya
perdesaan di bukit Sekendal Desa
Hargotirto, Kecamatan Kokap,
Kulonprogo dengan udara masih
segar dan banyak tumbuh berbagai
jenis pepohonan segar dan besar, rasa
lelah pun terbayarkan.
Di sebuah rumah berdinding
kayu khas pedesaan sederhana
namun cantik selaras dengan
lingkungan alami. Di samping dan
halaman rumah ini dihiasi dengan
taman yang indah.
Nampak sejumlah kotak kayu
kecil berbentuk seperti rumahrumahan dipasang di antara
pepohonan dan tanaman hias.
Kotak-kotak kayu yang tampak
seperti rumah peri dalam dongeng
itu ternyata merupakan glodok atau
kandang penangkaran lebah madu.
Disela sela kotak nampak lebah
beterbangan ada yanh hinggap dan
ada yang pergi.
Heri Kurniawan beserta
ayahnya Suparmin memang sengaja
membudidayakan lebah liar sejak
dua setengah tahun lalu untuk
diambil madunya.

Heri dan ayahnya berhasil
menarik lebah agar bersarang di
glodok yang dibuat. Pemecahan
koloni lebah ke glodok-glodok baru
juga dilakukan. Awalnya beberapa
kotak saja. Namun dari waktu ke
waktu, jumlah glodok pun semakin
bertambah dan saat ini mencapai
tak kurang dari 50 glodok.
Tidak perlu memberi makan
lebah. Peliharaan Heri ini mencari
makan sendiri dihutan. Di hutan
banyak bunga dan makanan lebah.
Juga madu yang dihasilkan oleh
lebah tersebut.
Menurut Heri, rasa madu
yang benar-benar madu murni di
tamannya pasti ada sedikit rasa
pahit dan tidak hanya berasa manis.
Ini diduga madu yang diserap dari
bunga mahoni.
“Kalau orang yang sudah benarbenar bisa membedakan, bisa
merasakan bedanya, kalau dari
musim bunga manggis cenderung
lebih manis, kalau dari musim bunga
durian dan kopi cenderung ada
pahitnya,” jelasnya.
Setiap bulan keluarga ini
memanen madu. Dari sekitar 50
glodok, setiap bulan rata-rata Heri
bisa menghasilkan sekitar 150 botol
madu. Penjualannya dilakukan secara
online. Selain wilayah Kulonprogo
dan Yogyakarta, sejauh ini penjualan
juga sudah mencapai Sumatera,
Kalimantan, dan Sulawesi.
Satu botol kecil Rp 50 ribu ukuran
kecil sekitar 140 mili liter. Sedangkan
botol ukuran besar (berkisar 600
mililiter) dengan harga Rp 200 ribu.
(wid)

SRI WIDODO/KORAN BERNAS

CICIPI—Pengunjung mencicipi madu di bukit Sekendal Desa Hargo­
tirto, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, kemarin.

ST ARYONO/KORAN BERNAS

DIKEBUT-- Alat berat bekerja untuk penyelesaian proyek JJLS, beberapa waktu lalu agar segera akses jalur selatan bisa segera terbuka

Proyek JLSS
Terus Dikebut
KORANBERNAS -- Peme­
rintah menjanjikan proyek am­
bisius Jalan Jalur Lintas Selatan
(JJLS) di wila­yah DIY akan segera
diselesaikan. Rencananya, pada
tahun 2019, JJLS di DIY bakal
selesai dibangun. Diharapkan,
dengan rampungnya proyek jalan
ini, akses jalur di wilayah selatan
bisa terbuka se­hingga area tersebut
akan lebih berkembang
Andri Gothama petugas Bina
Marga Dinas Pekerjaan Umum
Energi Sumber Daya Mine­
ral (DPU ESDM) Pemda DIY,
menerangkan, saat ini pihaknya
tengah merampungkan proses
pembebasan lahan di Gunung­
kidul. Apabila nantinya proses
pem­bangunan ini telah rampung,
maka kemudian akan segera
dilakukan proses pembangunan.
“Akhir 2019, renca­n a pem­
bangunannya sudah selesai. Se­
men­tara kita bangun dua lajur
dulu,” jelas Andri Gothama,
beberapa waktu lalu.
Dikatakan Andri, proses
pem­bangunan JJLS di Gunung­
kidul sendiri akan dimulai dari
wilayah timur yakno perbatasan
Gunungkidul dengan Wonogiri
hingga Jerukwudel, Kecamatan

Rongkop dan kemudian menyam­
bung ke Legundi, Kecamatan
Panggang.
“Kita masih merampungkan
program yang tahap awal dengan
lebar 30-35 meter,” imbuhnya.
Nantinya, JJLS akan dibangun
dengan lebar sekitar 50 meter.
Sebab, menurut Andri, pemerintah
pusat menginginkan JJLS nantinya
bisa menjadi jalan nasional.
“Ada empat lajur rencananya.
Saat ini untuk tahap pertama kita
buat dua lajur dulu. Dua lagi setelah
2019,” terang dia.
Pembangunan JJLS sendiri
akan dikerjakan oleh pemerintah
pusat yakni Kementrian PUPR.
Sedangkan proses pembebasan
lahan menggunakan anggaran dari
Dana Keistimewaan Provinsi DIY.
Kepala Dinas Peker jaan
Umum Perumahan Rakyat Ka­
wasan Permukiman (DPUPRKP)
Gunungkidul, Edy Praptono me­
nyatakan pembangunan JJLS
tersebut nantinya dapat membuka
akses jalan di pesisir selatan yang
selama ini tertutup.
“Dengan demikian, per­
tumbuhan ekonomi dapat me­
ningkat seiring dengan aktifnya
jalan JJLS,” pungkasnya. (ryo)

Prioritas Anggaran Mendesak
KORANBERNAS—Kese­
jahteraan guru tidak lepas dari
kebijakan pemerintah, baik
pusat maupun daerah dalam
memperhatikan kebutuhan
mereka. Kalau selama ini pusat
memberikan tunjangan intensif
maupun sertifikasi bagi guru selain
gaji pokok tiap bulannya, pemerintah
daerah, termasuk kabupaten perlu
berperan serta secara aktif untuk
membantu para guru.
“Bupati bisa memberikan
kesejahteraan bagi guru honorer
tanpa melihat swasta atau negeri atau
melihat lama mengabdi,” ungkap
Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional
(PAN) Kabupaten Kulonprogo, Priya
Santosa kepada KoranBernas, Sabtu
(07/04).

Menurut Priya, selama ini
belum semua tenaga pendidik
mendapatkan kesejahteraan yang
layak. Masih banyak guru, terutama
honorer yang mendapatkan upah
sangat minim.
Padahal mereka juga memiliki
peran penting dalam mendidik
generasi muda. Namun seringkali
mereka tidak mendapatkan timbal
balik yang memadai.
“Karena itu perlu ada kebijakan
khusus di kabupaten kulonprogo
bagaimana ada prioritas anggaran
daerah untuk memberikan
kesejahteraan yang memadai,”
tandasnya.
Priya menambahkan, tenaga
pendidik selama ini dituntut banyak
syarat. Diantaranya memiliki latar

ISTIMEWA

Priya Santosa

belakang Pendidikan Sarjana
(S1) dengan di siplin ilmu khusus
pendidik.
Nilai kompetensi tersebut harus
jadi perhatian. Apalagi tenaga
pendidik mendarmabaktikan
ilmunya juga dalam rangka
pemenuhan kebutuhan ekonomi

setiap harinya .
“Ironis di jaman now seperti ini
kok masih ada guru yang belum
mampu mencukupi kehidupan
sehari hari misalnya untuk beli
sabun, pakaian dan kelengkapan
lainnya. Kalau kesejahteraan saja
tidak cukup untuk beli sabun
bagaimana seorang guru akan bisa
memberikan yang terbaik di dunia
pendidikan, ungkapnya.
UntukituFPANmemintaPemkab
Kulonprogomengeluarkankebijakan
khusus terkait kesejahteraan guru.
“Intinya semua guru yang telah
mengabdi harus mendapatkan
perhatian kesejahteraan yang
memadai dari pemkab,” imbuhnya.
(wid)

Kesejahteraan Guru Perlu Dipikirkan
yang pasti. Sedangkan untuk guru non PNS upah yang layak serta hak hak lainnya, seperti
upahnya tidak tentu. Guru honorer mendapat jaminan kesehatan atau lainnya,” ujar Muhtarom
Dijelaskannya dalam sebuah unit sekolah
upah sesuai kemampuan daerah atau sesuai
kemampuan sekolah. Dan sayangnya selama ini bercampur guru PNS serta guru honorer. Dalam
kemampuan tesebut belum dapat memberikan satu unit kerja yang anggotanya memiliki beban
gaji guru honorer setara dengan gaji guru PNS. tugas yang sama namun ada kesenjangan
Bahkan tidak jarang guru honorer menerima upah pendapatan atau upah, maka hasil kerja unit
ini tidak akan dapat maksimal.
dibawah UMR”, papar Muhtarom.
Muhtarom berharap Pemkab Kulonprogo
Wakil Ketua Fraksi Amanat Nasional (PAN)
ini menegaskan, seharusnya pemerintah lebih melakukan pemetaan adanya guru-guru honorer
memperhatikan nasib atau penghidupan guru lengkap dengan data tingkat kesejahteraan
honorer. Bila konsekuen dengan amanat undang mereka. Kemudian dapat dirumuskan cara dan
undang dan program pembangunannya, dimana berapa dana yang diperlukan guna mengatasi
kesenjangan kesejahteraan guru PNS dengan
pendidikan mendapat prioritas.
guru honorer.
Ditegaskannya
dalam
undang
undang
guru
ISTIMEWA
“Kami Fraksi Amanat Nasional DPRD
Muhtarom Asrori Komisi Pembangunan dan dan dosen boleh diangkat oleh pemerintah
Keuangan DPRD Kulonprogo
daerah. Namun undang undang memang Kulonprogo akan terus mengawal persoalan ini
tidak mengharuskan guru honorer digaji sesuai hingga terjadi keseimbangan” imbuh Muhtarom
KORANBERNAS-- Guru menjadi salah satu UMR. Dalam hal ini seharusnya guru honorer Asrori.(wid)
komponen terpenting dalam pendidikan. Kualitas digaji lebih dari
kegiatan belajar mengajar banyak ditentukan UMR. UMR hanya
peranan guru. Namun apakah perhatian terhadap merupakan patokan
guru ini sudah maksimal atau bagus? Jawabnya besarnya kebutuhan
ternyata masih jauh dari harapan, terutama terkait biaya hidup minimal
dengan kesejahteraan kelompok guru tertentu.
disuatu daerah.
Perhatian tidak hanya bagi guru, baik guru
“Kami di Fraksi
PNS namun juga guru non PNS atau guru honorer. Amanat Nasional
Apalagi guru honorer ada yang merupakan guru DPRD Kulonprogo
honor tetap dan tidak tetap.
dalam setiap
Muhtarom Asrori, Anggota Komisi Keuangan kesempatan selalu
dan Pembangunan DPRD Kulonprogo, kemarin mendorong agar
menyatakan dalam hal beban tugas semua Pemkab Kulonprogo
guru sama . Mereka beperan sama dalam t e r u s b e r u s a h a
SRI WIDODO/KORAN BERNAS
mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang beda dari m e n i n g k a t k a n BANTUAN --Muhtarom Asrori Komisi Pembangunan dan Keuangan
PNS dan non PNS pada status dan upah mereka. kesejahteraan guru DPRD Kulonprogo memberikan bantuan ke sekolah swasta saat
melakukan reses beberapa waktu lalu.
“Kalau PNS memiliki stanrdar gaji atau upah honorer. Baik berupa

JAWA TENGAH

KORAN BERNAS
JUJUR - KONSTRUKTIF - BERETIKA

Rabu Legi - Kamis Legi

11 April 2018 - 26 April 2018

9

Kesiapan Hadapi Bencana Jadi Keharusan
KORANBERNAS -- Berbagai
wilayah di Indonesia merupakan
daerah rawan bencana. Karenanya
kesiapan masyarakat untuk
menghadapi bencana sangat
penting.
Salah satu upayanya melalui
mitigasi bencana. Pemkab
Temanggung bersama dengan
Badan Penanggulangan Bencana
Daerah(BPBD) Provinsi Jawa
Te­n gah mengadakan Latihan
Gabungan, kemarin.       
Latihan Gabungan itu diadakan
untuk Penyelamatan Evakuasi
dan Penanggulangan  Pengungsi 
(Latgab PEPP). Upacara pembukaan
Latgab PEPP dilaksanakan  di Aula
Kecamatan Bulu dipimpin oleh Pjs.
Bupati Temanggung Sudaryanto.
Sudaryanto mengungkapkan,
kegiatan itu merupakan bentuk
kesiapan mereka menghadapi
bencana. Dengan banyaknya
pelatihan yang diberikan kepada
pelaku penanggulangan bencana
di Kabupaten Temanggung

khususnya TIM SAR diharapkan
menjadikan Temanggung memiliki
Sumber Daya Manusia yang
terlatih.
“Upaya penguatan dari para
pelaku penanggulangan bencana
salah satunya adalah dengan
diadakanya Latihan Gabungan
Penyelamatan Evakuasi dan Pe­
nanganan Pengungsi di Kabupaten
Temanggung ini,” tambahnya.
Dia mengharapkan agar
Latgab PEPP sebagai sarana ber­
bagi dalam rangka meningkatkan
pemahaman-pemahaman terkait
Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana.   Kegiatan Latgab PEPP ini
mencakup pendidikan dan praktek
lapangan.
Untuk  latihan praktek
lapangan, terdapat tujuh pos
yang digunakan. Yaitu posko dan
komunikasi, dapur umum, PPGD,
evakuasi damkar dan dilanjutkan
dengan simulasi bencana tanah
longsor yang disertai kebakaran
akibat konsleting listrik.(edy).

ENDRI YARSANA/KORAN BERNAS

LATIHAN -- Sejumlah Personil Latgab PEPP sedang melakukan pelatihan penanggulangan bencana.

Kesadaran Menjaga Irigasi Masih Rendah
Aparatur Negara
Harus Netral
KORANBERNAS -- Netralitas
Aparatur Sipil Negara (ASN) dan
validitas data pemilih menjadi
pembahasan utama kalangan
DPRD Jateng  dengan Panitia
Pe­n gawas (Panwas) Kabupaten
Pekalongan dan jajaran Sekretariat
dalam masa Pemilihan Gubernur
(Pilgub) Jateng 2018.
SekretarisKomisiA,AliMansyur
menyatakan hal tersebut  adalah
salah satu hasil monitoring yang
dilakukan lembaga perwakilan
rakyat tersebut ke pe­nyelenggara
pemilu dan sekreta­riatnya untuk
mengetahui proses kesiapan pilgub
Jateng
“Komisi A DPRD dalam
kunjungan kerja ke Panwaslu
Kabupaten Pekalongan,
diantaranya menegaskan
mengenai netralitas ASN dan
validitas data pemilih,” kata Ali
Mansyur, kemarin. 
Selain megharapkan kinerja
panwaslu lebih maksimal karena
anggaran yang dikucurkan untuk
pilgub cukup tinggi.
“Kami mengimbau untuk
para jajaran sekretariat Panwaslu
menjaga netralitas ASN. Hal
ini disinyalir banyak praktik
kampanye berupa politik uang
yang melibatkan ASN, akan sangat
berbahaya jika tidak diwaspadai,”
tambahnya. 
Disampaikan bahwa dana yang
dikucurkan untuk pilgub sebesar
Rp 1,3 triliun dan lembaga Bawaslu
Rp 293 miliar yang dibagikan
hingga tingkat kecamatan. “Kinerja
para petugas sekretarias panwaslu

diharapkan lebih baik karena honor
yang dibagikan cukup besar,” tegas
dia.
Anggota Komisi A lain,
Jasiman dalam kesempatan yang
sama mengharapkan untuk lebih
meningkatkan pengawasan politik
uang agar dikawal dengan ke­
tat. Dia mengkhawatirkan politik
uang menyasar kalangan pekerja
dibanding para pelajar yang baru
mengenal dunia politik.
“Politik uang adalah salah satu
praktek kecurangan dalam masa
pesta demokrasi yang meresahkan.
Oleh karena itu, harus ada
pengawalan ketat terutama pada
kalangan pekerja yang didorong
kebutuhan uang,” jelasnya. 
Menang gapi pernyataan
dewan, Ketua Panwas Kabupaten
Pekalongan, Sugiarto menegaskan,
pihaknya bersama dengan Kajari
dan Kapolres yang tergabung di
Gakkumdu menjalankan prosedur
dalam penanganan pelanggaran
pilgub. Terkait netralitas ASN dan
politik uang akan diadakan sosialisi
serta penindakan tegas bila terjadi.
“ Ka m i b e rs a m a d e n g a n
Kapolres dan Kajari tergabung
Gakkumdu terus mengawal dari
masa kampanye hingga hari
pemilihan pilgub. Sedangkan
berkaitan netralitas ASN terus
mengadakan sosialisasi dan edaran
surat ke kantor dinas-dinas. Edaran
tersebut juga dimaksudkan untuk
mengsosialisasikan bahaya money
politic serta penindakan secara
tegas jika terjadi pelanggaran,”
jawabnya. (ran)

KORANBERNAS -- Wilayah
Kabupaten Klaten yang terdiri dari
401 desa dan kelurahan dikenal
sebagai kawasan agraris. Lahan
pertanian yang cukup luas dengan
saluran irigasi yang bagus menjadikan
daerah berpenduduk 1,4 juta jiwa ini
berbeda dengan daerah lain.
Meski terkenal dengan daerah
agraris namun bukan berarti daerah
ini tidak ada masalah. Permasalahan
seputar pemanfaatan saluran
irigasi dan sungai justru semakin
memprihatinlan akibat kepentingan
warga. Bahkan kesadaran warga
untuk menjaga dan melestarikannya
cenderung menurun.
Kurangnya kesadaran warga
itu ditandai dengan perbuatan
mendirikan bangunan diatas
saluran. Padahal saluran irigasi dan

sungai harus benar-benar dijaga
kelestariannya dan tidak boleh
mendirikan bangunan permanen
diatasnya
Seperti yang terjadi di beberapa
lokasi di Kabupaten Klaten. Demi
untuk memiki tempat tinggal dan
usaha, warga nekad mendirikan
bangunan di atas saluran. Bahkan
yang patut dipertanyakan yakni
bangunan tersebut ada yang telah
memiliki sertifikat hak milik (SHM).
Salah satunya di depan Pasar
Jeblok Desa Jeblok Kecamatan
Karanganom. Dikawasan itu ada
beberapa rumah dan tempat usaha
yang dibangun persis diatas saluran.
“Rumah milik Bapak Sarju di Dukuh
Darirejo RT 3/RW 3 yang sudah ada
sertifikatnya,” kata Kepala Desa Jeblok
Hendry Prakoso, Rabu (4/4).

Senada dikemukakan Ny Sarju
saat ditemui dirumahnya, dia me­
ngakui rumahnya yang berada diatas
saluran telah bersertifikat sekitar
tahun 1990-an.
“Jadi rumah ini sudah ada pada
jaman kolonial dulu. Rumah ini
peninggalan mertua saya yang asli
Desa Jeblok. Dibawah rumah ini
saluran,” jelas Ny Sarju.
Kepala Bidang Sumber Daya Air
(SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang (DPU PR) Harjoko
mempertanyakan mengapa ada
bangunan diatas saluran yang bisa
bersertifikat. “Ini ada yang aneh me­
ngapa bangunan diatas saluran bisa
bersertifikat. Seharusnya tidak boleh
karena melanggar aturan,” ujarnya.
Namun Harjoko juga tidak ingin
masalah ini diperpanjang dan di

besar-besarkan dengan mengkritik
kebijakan instansi lain dalam hal
ini Kantor Pertanahan yang telah
menerbitkan sertifikat. Sebab,
kejadian di depan Pasar Jeblok
Karanganom adalah sebagian kecil
dari masalah bangunan diatas saluran
di Kabupaten Klaten. Sebenarnya kata
mantan Sekretaris Camat Kemalang
yang sangat peduli terhadap sumber
daya air itu, masih ada masalah
yang lebih besar terjadi di aliran
Kali Woro Desa Sukorini Kecamatan
Manisrenggodimanadaerahbantaran
kali ada yang memiliki sertfikat
hak milik. “Kita tahu Kali Woro itu
miliknya Balai Besar Bengawan Solo.
Tapi mengapa disana ada yang punya
sertifikat. Dulu bagaimana prosesnya
kok sampai terbit sertifikat,” paparnya
dengan nada bertanya. (mgs)

Temanggung Membangun Brand Kopi

ENDRI YARSANA/KORAN BERNAS

PAPARAN-- Kepala DPMPTSP,  Bagus Pinuntun menyampaikan­ pa­­­­­­pa­
rannya dalam Temu Usaha Kopi dan Tembakau. Dengan tema “Ngopine Kopi Temanggung, Nglinthinge Mbako Temanggung”, kemarin.

KORANBERNAS –
Temanggung terus berbenah
d i r i d a l a m p e l a k s a n a ka n
berbagai program. Salah satunya
mengembangkan brand kopi sebagai
salah sau ikon kota tersebut.
Dalam acara Temu Usaha
Kopi dan Tembakau. Dengan
tema “Ngopine Kopi Temanggung,
Nglinthinge Mbako Temanggung”
yang digelar Dinas Penanaman Modal
dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

(DPMPTSP)diPendopoPengayoman
Kabupaten Temanggung.kemarin,
pengembangan brand tersebut
mendesak dilakukan.
“Membangun brand sebuah
produk ini butuh kerja keras bersama,”
ujar Kepala DPMPTSP,  Bagus
Pinuntun dalam acara yang dihadiri
Pjs. Bupati, Kepala Kantor Bea Cukai
Magelang, P IRT/Dinas Kesehatan,
Komisi A DPRD Temanggung, Kepala
Bappeda, Kepala Dinas Pariwisata

dan Kebudayaan, Kepala DPMPTSP
dan para pelaku usaha pegiat kopi
dan pegiat tembakau, perwakilan
dari pihak Toko modern yang ada di
Temanggung, dan dari Pihak SMK 17
Parakan, SMK Swadaya.
Menurut Bagus, melalui
pengembangan brand itu, kopi
Temanggung, bisa diterima,
dinikmati, dikonsumsi masyarakat
l o ka l , r e g i o n a l , n a s i o n a l .
Bahkan internasional begitu
sebaliknya produk tembakau
yang juga sebagai komoditas.
    Kopi dan tembakau nantinya yang
akandipasarkandaripelakuusahakopi
dan tembakau baik primer, sekunder
atau tersier. Dengan harapan acara
hari ini sebagai ikhtiar dari DPMPTSP
yang dapat menjadi investasi bagi
Kabupaten Temanggung tersendiri.
Sementara Sudaryanto, me­
ngatakan, Temanggung ini ingin
membangun brand image komoditas
tentangKopidanTembakau,tentunya
menggunakan sektor ekonomi mikro
masyarakat.

“Agar bisa berlanjut maka tentu
saja harus ada pemahaman yang
sama tentang regulasi yang berkait­
an dengan pemasaran kopi dan
tembakau yang juga akan di tindak
lanjuti dengan proses edukasi
dan pendampingan.” ujarnya.
    Dengan melakukan kegiatan
mobilisasi pemasaran produk kopi
dan tembakau  baik skala lokal
maupunnasionaljugaditandatangani
MoU dengan toko ritel modern dari
Indomart Group, Mahkota Swalayan,
Laris dan Surya Swalayan untuk
menyediakan etalase komoditas
Kabupaten Temanggung,
Jadi, lanjutnya, masyarakat
menjadi tau tentang produk local, dan
produk lokal ini dapat  didapat dengan
mudah jika masyarakat luas dari
luar kota Kabupaten Temanggung
mencarinya. Selanjutnya, dilakukan
promosi strategis seperti di Tugu
Jam, Alun – Alun dengan acara
Malam Minggu Ngopi dan Nglinting
Tembakau, termasuk saat Car Free
Day.(edy).

Berkat TMMD, Karangjambu kini Tak Lagi Terisolir

PRASETIYO/KORAN BERNAS

JALAN--Jajaran TNI dari Kodim 0702 Purbalingga bersama warga Desa/Kecamatan Karangjambu , Purbalingga bahu membahu membangun jalan dalam program  TMMD.

KORANBERNAS--Keca­m a­
t­­­­an Karangjambu yang terletak
di bagian utara Kabupaten
Purbalingga, kini tak lagi terisolir.
Berkat Tentara Manung gal
Membangun Desa ( TMMD)
Reguler ke -101 tahun 2018, para
tentara dari jajaran Kodim 0702/
Purba­lingga berhasil membuka
akses jalan sepanjang 1.975 meter
yang menghubungkan Kecamatan
Karangjambu dengan Desa Ponjen
Kecamatan Karanganyar. 
“Akan kami kebut pemba­
ngunan akses jalan itu, sehingga
sebulan ke depan selama
TMMD di Karangjambu ini,
semuanya bisa selesai.Kami
mengucapkan terimaksih kepada
wa rg a Ka ra n g j a m b u , ya n g
hingga terus ikut  bergotong
royong  mensukseskan TMMD ini,”
ujar  Dandim 0702 Purbalingga
Letkol Inf Andi Bagus DA, di selasela upacara pembukaan TMMD
Reguler ke 101, di lapangan
Desa Karangjambu, Kecamatan
Karangjambu, Rabu (04/04).

Selain membangun akses
jalan,  TMMD di Karangjambu juga
membangun gorong-gorong deng­
an volume 0,40 x 7 meter (­­­­ dua
buah), pembangunan talut volume
30 x 2 meter dan pembangun­
an pagar SMP N 1 Karangjambu
25x2 meter.
“Kami juga melakukan ke­gia­
tan non fisik berupa penyuluhan
mental ideologi, kesadaran
b e r b a n g s a d a n b e r n e g a ra ,
penyuluhan bidang kesejahteraan
rakyat, dan penyuluhan bidang
pertanian,” ujarnya.
Pelaksana tugas (Plt)  Gu­
bernur Jateng Heru Sudjat­moko sa­
at membuka kegiatan mengatakan, 
TMMD diharapkan  mampu
memperkuat infrastruktur di
daerah pedesaan. Di samping juga
untuk membangun peningkatan
kesejahteraan masyarakat di desa. 
“Yang dibangun antara lain
prasarana jalan, supaya mo­
bilitas mereka mudah. Supaya
pertaniannya maju dan saat
panen mengangkutnya juga

mudah,” ujarnya.
Selain prasarana fisik, TMMD
juga memberikan berbagai
macam edukasi menyangkut
cinta tanah air, bela negara,
maupun konsep dan penerapan
Bhinneka Tunggal Ika, Berbedabeda tetapi tetap harus bersatu.
“Dengan kata lain, melalui TMMD
kita juga memu­puk kebersamaan,
kegotongroyongan, senasib sepe­
nanggungan serta persatuan dan
kesatuan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan TMMD
Reguler di kabupaten Purbalingga
ini, diterjunkan 150 personil
TNI. Dibantu masyarakat,  tiap
hari mereka bergotong royong
membangun prasarana fisik,
selama kurang lebih sebulan,
hingga 3 Mei mendatang.
Program TMMD ini meng­
habiskan anggaran mencapai Rp
1,073 miliar berasal dari Mabes
TNI Rp 323 juta, APBD Provinsi
Jateng Rp 160 juta,  dan APBD
Kabupaten Purbalingga Rp 590
juta.  (prs)


Related documents


kobercetakv14 1104
hlm teraju center rabu
laporan komisi a maret 11
skpk edisi 28
74 ismed sawir
34 anang suhardianto


Related keywords




Copy tag