Search


PDF Archive search engine
Last database update: 01 August at 15:38 - Around 76000 files indexed.


Show results per page

Results for «kompeten»:


Total: 19 results - 0.066 seconds

Buku Program Final publikasi pdf 100%

                                                         Setiyo  Agustiono                       Pengembangan  Sistem  Ganda  SMK  di  Jatim  (Pola  Pelaksanaan  Menuju  Siswa  Kompeten)                 Buku  Program   PENGEMBANGAN  SISTEM  GANDA  SMK  DI  JAWA  TIMUR                             (POLA  PELAKSANAAN  MENUJU  SISWA  SMK  KOMPETEN)   Setiyo  Agustiono     2           Penulis   Setiyo  Agustiono   sagustiono@gmail.com                                       Kontributor     Andreas  Gosche   Kamaludin   Mohamad  Reza  Nurhardyansyah     Tata  Letak   Kamaludin   Pengembangan  Sistem  Ganda  SMK  di  Jatim  (Pola  Pelaksanaan  Menuju  Siswa  Kompeten)           Diterbitkan   atas   kerja   sama   BKSP   Jawa   Timur   dengan   Program   Kemitraan   Pendidikan   Kejuruan   Kadin   (IHK)   kota   Trier   /   Jerman,   sequa   (Yayasan   Pengembangan   Ekonomi   dan   Peningkatan   Sumber   Daya   Manusia)   di   kota   Bonn   /   Jerman   dan   Kementrian   Kerja   sama   Ekonomi   dan   Pembangunan)  di  kota  Berlin  /  Jerman.

https://www.pdf-archive.com/2017/08/02/buku-program-final-publikasi-pdf/

02/08/2017 www.pdf-archive.com

Transwish Training for Trainer BNSP Cert 93%

Tahukah Anda bahwa pasar kerja nasional dan internasional menuntut tersedianya tenaga-kerja yang kompeten di setiap bidang, banyak industri dan organisasi mempersyaratkan agar tenaga-kerjanya memiliki sertifikasi kompetensi yang kredibel.

https://www.pdf-archive.com/2014/06/17/transwish-training-for-trainer-bnsp-cert/

17/06/2014 www.pdf-archive.com

Internationell Kompetens 86%

Söker du utländsk kompetens till ditt företag?

https://www.pdf-archive.com/2013/04/13/internationell-kompetens/

13/04/2013 www.pdf-archive.com

Internationell Kompetens 86%

Söker du utländsk kompetens till ditt företag?

https://www.pdf-archive.com/2013/04/13/internationell-kompetens-1/

13/04/2013 www.pdf-archive.com

Internationell Kompetens 86%

Söker du utländsk kompetens till ditt företag?

https://www.pdf-archive.com/2013/04/22/internationell-kompetens/

22/04/2013 www.pdf-archive.com

Internationell Kompetens 86%

Söker du utländsk kompetens till ditt företag?

https://www.pdf-archive.com/2013/05/06/internationell-kompetens/

06/05/2013 www.pdf-archive.com

Majalah Varia-C Edisi IV 67%

MISI KOLEJ “Melahirkan pelajar berilmu dan menguasai kemahiran insaniah agar berdaya saing selaras dengan falsafah dan wawasan universiti” VISI KOLEJ “Bertekad menjadi kolej akademik yang terkehadapan membangunkankan sifat dan semangat kekolejan dalam kalangan pelajar dengan menggabungkan ilmu dan kompetensi generik bagi menghasilkan pelajar yang berdaya saing dalam masyarakat” FALSAFAH KOLEJ “Paduan jati diri kebangsaan, kompeten dari segi pengetahuan, kemahiran insaniah dan berdaya saing adalah dasar utama pembentukan pelajar yang holistik dan seimbang” MOTO KOLEJ “Berpadu Bertambah Mutu” MAJALAH VARIA-C KANDUNGAN 10 EDISI KEEMPAT PENTADBIRAN Warga pentadbiran yang berkaliber, ramah dan mesra 34 KELAB Keluarga kecil KUO 45 ARTIKEL Ceritera warga KUO 15/16 MESEJ Titipan kasih dan amanat daripada pentadbiran tertinggi UKM dan ayahanda pengetua 17 SEKRETARIAT Nadi penggerak aktiviti kolej 41 LAPORAN KHAS Catatan aktiviti sesi 15/16 72

https://www.pdf-archive.com/2017/07/12/majalah-varia-c-edisi-iv/

12/07/2017 www.pdf-archive.com

Paparan Kemenaker 67%

Harmonisasi Standar Kompetensi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia 1 • Pertumbuhan Ekonomi sangat bergantung kepada Inovasi (Schumpeter, Romer) 2 • Tidak dapat bergantung kepada sumber daya alam yang tak terbarukan 3 • Munculnya konsep green economy, meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan 4 • Sumber daya manusia (SDM) yang tangguh menjadi kunci utama inovasi dan penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutana 5 • Akibatnya peranan DIK&LAT menjadi sentral dalam membentuk SDM yang bisa berinovasi guna meningkatkan produktivitas Wajah Kegiatan Ekonomi Dunia saat Ini Sharing economy Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi e-Education e-Government Cloud Collaborative Marketplace Online Health Services Smart Manufacturing Smart City Smart Appliances 5 DAYA SAING PRODUK DAN JASA KEBUTUHAN TENAGA KERJA KOMPETEN HINGGA TAHUN 2030 PELUANG BONUS DEMOGRAFI 57 juta kondisi 2015 ranking 16 KEBUTUHAN SUPPLY TENAGA KERJA TERAMPIL PER TAHUN tenaga kerja terampil Proyeksi Pertumbuhan Pasar Kerja 2016-2019 Sumber :

https://www.pdf-archive.com/2017/09/25/paparan-kemenaker/

25/09/2017 www.pdf-archive.com

JURNAL TESSA ok 45%

auditor harus mempunyai keahlian dan Menurut Libby and Frederick (1990) kompetensi yang baik untuk mengumpulkan pengalaman audit dan menganalisa bukti-bukti audit sehingga auditor tujuan auditor untuk memperoleh bukti keuangan baik dari segi lamanya waktu kompeten yang cukup dan memberikan basis maupun banyaknya penugasan yang pernah yang memadai dalam merumuskan pendapat ditangani.

https://www.pdf-archive.com/2016/11/08/jurnal-tessa-ok/

08/11/2016 www.pdf-archive.com

29-Malta 43%

diperlukan penyuluh yang kompeten, dan keberadaannya berpihak kepada petani untuk meningkatkan kinerja petani.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/29-malta/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

ASTUTY & ASMARA HENDRA ok 41%

Aktivitas dalam pengendalian intern meliputi persetujuan, tanggung jawab dan kewenangan, pemisahan tugas, dokumentasi kegiatan, karyawan/i yang kompeten dan jujur, pemeriksaan internal dan audit internal.

https://www.pdf-archive.com/2016/11/08/astuty-asmara-hendra-ok/

08/11/2016 www.pdf-archive.com

ANGEL & ZULHELMI ok 40%

Dengan begitu luar biasanya sumber daya alam yang dimiliki oleh Provinsi Riau maka diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidangnya untuk mengelola kekayaan alam yang dimiliki.

https://www.pdf-archive.com/2016/11/08/angel-zulhelmi-ok/

08/11/2016 www.pdf-archive.com

Widhiarso 2010 - Respon Alternatif Tengah pada Skala Likert 40%

Pengembangan Skala Psikologi :  Lima Kategori Respons ataukah Empat Kategori Respons ?     Oleh : Wahyu Widhiarso  Fakultas Psikologi UGM    Berapa kategori opsi yang disediakan dalam skala psikologi masih dalam perdebatan. Namun sebagian besar  sudah menunjukkan beberapa kesepakatan yang ditunjukkan dengan hasil‐hasil penelitian yang konsisten.  Lima kategori respons ataukah empat kategori respons ? Tulisan ini mencoba membedah berbagai pandangan  dari ahli yang mendukung masing‐masing jenis. Meski sudah sampai pada kesimpulan, tulisan ini masih dalam  taraf draft karena masih banyak hasil‐hasil penelitian yang belum dieksplorasi.  Mengapa Menyediakan Ketegori Tengah ?  Upaya untuk memasukkan kategori tengah (middle category) adalah untuk memfasilitasi responden yang  memiliki trait yang sedang (moderate trait standing). Klopfer dan Madden (1980) menjelaskan bahwa  penyediakan alternatif tengah respons bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi responden yang  memiliki sikap moderat terhadap pernyataan yang diberikan. Tidak disediakannya alternatif tengah akan  menyebabkan responden merasa dipaksa untuk memilih alternatif secara bipolar. Keterpaksaan ini akan  memberikan kontribusi kesalahan sistematis dalam pengukuran.   Penggunaan alternatif tengah secara historis memang ada. Likert yang mengembangkan skala yang kemudian  dinamakan dengan Skala Likert dari awalnya memang menyediakan kategori respons tengah. Skala Likert  memuat pernyataan yang responden diminta untuk mengevaluasi kesesuaian responden dengan pernyataan  yang diberikan. Lima kategori respon disediakan untuk dipilih oleh responden.   Meski Likert menyarankan lima alternatif respons, namun banyak ahli yang menyarankan untuk menggunakan  bermacam‐macam jumlah kategori respon. Sebuah studi empiris menemukan bahwa 5 atau 7 alternatif respon  skala titik dapat menghasilkan nilai rata‐rata sedikit lebih tinggi (secara relatif dari skor tertinggi yang mungkin  dicapai) jika dibandingkan dengan skala yang menyediakan 10 alternatif. Artinya, semakin sedikit jumlah  respons variasi data semakin berkurang. Masalahnya adalah apakah setiap responden bisa memahami  perbedaan kategori hingga 10 level ? Jumlah pilihan di sekitar 5 hingga 7 kategori lebih disarankan dibanding  alternatif di atas jumlah tersebut.  Mengapa Responden Memilih Kategori Tengah?  Alternatif tengah respons disediakan untuk memfasilitasi sikap responden yang moderat, akan tetapi  responden tidak hanya memilih kategori ini untuk menunjukkan traitnya yang moderat (Hofacker, 1984),  namun dipengaruhi oleh banyak faktor.   Beberapa ahli telah meneliti mengapa responden memilih alternatif tengah kategori. Shaw dan Wright (1967)  mengemukakan tiga kemungkinan responden kategori tengah, yaitu : (1) mereka tidak memiliki sikap atau  pendapat, (2) mereka ingin memberikan penilaian secara seimbang, atau (3) mereka belum memberikan sikap  atau pendapat yang jelas. Kulas & Stachowski (2009) menjelaskan faktor lain seperti ragu, tidak memahami  pernyataan dalam butir, respons mereka kondisional, atau mereka memiliki berdiri netral, moderat, atau rata‐ rata.  Ahli lain menjelaskan bahwa pemilihan kategori tengah menunjukkan keengganan responden untuk memilih  arah tanggapan terhadap pernyataan. Bisa jadi mereka memilih respons tengah karena kesulitasn  menginterpretasi butir pernyataan  (Goldberg, 1981). Yang et al. (2002)  menemukan bahwa responden  cenderung memilih kategori tengah ketika mendapati butir yang sulit dipahami.   Kesimpulan. Skor skala bisa menjadi bias jika responden yang cenderung memilih kategori tengah, dikarenakan  tidak memahami butir dan merasa tidak nyaman dengan pernyataan yang diberikan. Oleh karena itu bagi  penyusun skala psikologi diharapkan untuk menyusun butir yang mudah dipahami dan membangun interaksi  yang hangat dengan responden agar mereka merasa tidak terintervensi.      1 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010    Dampak Penyediaan Kategori Tengah  Andrews (1984) menemukan bahwa keberadaan alternatif tengah eksplisit dalam kategori jawaban tidak  memiliki efek yang signifikan pada kualitas data. Rerata respon terhadap butir akan meningkat secara linear  dan varians item meningkat kurvelinier dengan meningkatnya jumlah kategori jawaban. Peningkatan rerata  adalah wajar dan tidak menjadi masalah karena jumlah alternatif menjadi bertambah yang diiringi dengan  peningkatan varians. Peningkatan varians inilah yang banyak menjadi ketertarikan kita, karena menunjukkan  informasi yang kita miliki semakin bervariasi.   Di sisi lain, nilai konsistensi internal (alpha) tidak berubah secara sistematis dengan meningkatnya jumlah  kategori respon (Aiken, 1983). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jumlah kategori jawaban tidak  membuat perbedaan dalam mean dan varians respon item dan skor total skala.  Kulas et al. (2008) menemukan bahwa korelasi skor antar variabel yang dihitung antara skala yang  menyediakan alternatif titik tengah maupun tidak menyediakan memiliki korelasi yang tinggi, bergerak antara  0.94 hingga 1.0. Artinya, skornya yang dihasilkan sama saja sehingga validitas kriteria yang didapatkan dari  korelasi dengan skor kriteria dipastikan akan tetap tidak berubah.  Mattel dan Jacoby (1971)  menemukan bahwa reliabilitas pengukuran dan validitas skala independen terhadap  jumlah alternatif respons.   Kesimpulan. Skor skala yang menyediaan kategori tengah dengan yang tidak memiliki kategori tengah, tidak  memiliki perbedaan yang berarti. Reliabilitas pengukuran dan validitas butir tidak mengalami perbedaan. Yang  berbeda adalah varian skor. Dengan adanya kategori tengah, variasi data lebih tinggi dibanding dengan yang  tidak. Oleh karena itu menyediakan kategori tengah akan menghasilkan data yang lebih bervariasi.  Jumlah Alternatif Ganjil dan Genap  Beberapa penulis secara eksplisit telah membahas masalah jumlah alternatif respon kategori yang ganjil versus  genap. Kalton, Roberts, dan Holt (1980) menunjukkan bahwa ketika inves tigators memutuskan untuk tidak  menawarkan alternatif tengah eksplisit, mereka biasanya menganggap bahwa kategori tengah terdiri sebagian  besar tanggapan dari orang‐orang yang bersandar terhadap satu atau kutub alternatif lain, meskipun mungkin  dengan sedikit intensitas.   Klopfer (1980) berpendapat bahwa penyelidik yang menawarkan alternatif yang mungkin tengah berasumsi  bahwa responden benar‐benar mendukung posisi tengah. Akibatnya, jika responden dipaksa untuk memilih  alternatif yang ada, pilihan ini akan memberikan kontribusi kesalahan pengukuran sistematis.  Kesimpulan : Jumlah opsi genap akan memaksa responden untuk memilih sikap yang jelas terhadap  pernyataan yang diberikan sedangkan jumlah opsi ganjil memfasilitasi responden yang belum memiliki sikap  yang jelas. Pemaksaan tersebut dapat menimbulkan eror pengukuran, karena skor yang dihasilkan tidak benar‐ benar menggambarkan diri responden.   Menyediakan Alternatif tengah Memang akan Meningkatkan Jumlah Pemilihnya, tapi ...  Kalton, Roberts, dan Holt (1980) melaporkan bahwa pilihan kategori respon tengah berkisar antara 15 dan 49  persen ketika item kuesioner menyediakan titik tengah secara eksplisit dalam kategori respons yang berjumlah  ganjil. Di sisi lain Presser dan Schuman (1980) menemukan jumlah yang lebih sedikit yaitu antara 10 dan 20  persen. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan alternatif respon tengah meningkatkan proporsi responden  yang menyatakan pandangan netral secara substansial. Kecenderungan ini bahkan mungkin meningkat ketika  isu‐isu sensitif pertanyaan perhatian (Kalton & Schuman, 1982).  DuBois dan Burns (1975) berargumen bahwa responden memilih alternatif tengah karena merasa ambivalen  (tidak dapat memutuskan apakah akan setuju atau tidak setuju), indiferen (tidak peduli) atau  tidak merasa  cukup kompeten atau cukup informasi untuk mengambil sikap.  Kesimpulan : Menyediakan alternatif tengah memang akan meningkatkan jumlah pemilihnya, tapi  kecenderungan itu meningkat tajam jika pernyataan yang tertulis dalam butir kurang mudah dipahami,  membingungkan atau mengurangi kenyamanan/keamanan responden. Untuk mengatasi hal ini penulis butir  diharapkan menulis butir dengan pernyataan yang jelas dan tidak mengintervensi responden.        2 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010     “Netral” dan “Tidak Yakin”, Apakah Beda?  Presser dan Schuman (1980) memberikan kuesioner yang menyediakan kategori “tidak tahu” (don’t know)  secara eksplisit, kemudian memberikan lagi kuesioner yang melibatkan kategori tidak tahu dan netral.  Hasilnya, dengan menambahkan kategori netral, jumlah responden yang memilih tidak tahu menjadi  berkurang. Beberapa dari mereka yang menanggapi tidak tahu di kuesioner tanpa kategori netral, menjadi  memilih kategori netral  ketika pilihan netral disediakan. Apakah penelitian ini menunjukkan bahwa kategori  netral dan tidak tahu dimaknai sama oleh responden, belum tentu.  Bishop et al. (1988, dikutip dari DeMars & Erwin, 2005) memberikan dua jenis kuesioner kepada responden.  Satu kuesioner menyediakan opsi tengah dan satunya lagi menyediakan tidak berpendapat (no opinion).  Hasilnya proporsi responden memilih kedua jenis opsi tersebut tidak sama. Hal ini menunjukkan bahwa  responden memaknai kedua jenis opsi itu sebagai hal yang berbeda.  DeMars dan Erwin (2005)  melakukan penelitian mengenai penyediaan respons tengah yang dibagi menjadi  dua jenis, yaitu netral (neutral) dan tidak yakin (unsure). Responden diminta untuk merespon survei yang  mengukur perkembangan identitas dengan menggunakan skala Likert 4‐poin dengan dua opsi tambahan:  netral dan tidak yakin. Jumlah responden yang memilih netral dibandingkan dengan yang memilih tidak yakin  pada butir yang sama. Dari sisi rata‐rata didapatkan bahwa skor kedua kelompok siswa adalah sama. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa alternatif respons netral dan tidak yakin menunjukkan sesuatu berbeda dari.   Kesimpulan : Opsi netral dan tidak tahu memiliki makna yang berbeda. Opsi netral menunjukkan bahwa  responden belum mampu menentukan sikap, dengan syarat pernyataan di dalam butir sangat jelas atau tidak  ambigu. Opsi tidak tahu menunjukkan bahwa responden tidak mengetahui bagaimana dia bersikap yang  sehingga dapat dimungkinkan opsi tidak tahu memfasilitasi kebingungan responden terhadap pernyataan.  Penggunaan opsi netral lebih disarankan dibanding dengan opsi tidak tahu.  Penutup  Penulis kuesioner harus memutuskan apakah memasukkan titik tengah atau tidak sesuai dengan pernyataan  yang diberikan kepada responden (Brace, 2004). Meskipun penggunaan respon kategori tengah tidak  mempengaruhi reliabilitas dan validitas dalam penelitian ini, namun direkomendasikan bahwa penilaian  pengembang kuesioner untuk memasukkan alternatif tengah (Kulas, et al., 2008). Ahli lain bahwa  menyediakan kategori tengah memungkinkan responden untuk menunjukkan respon yang netral dan lebih  diskriminatif dalam respon mereka, membuat nilai skala yang lebih handal dan skala yang lebih disukai oleh  responden (Cronbach, 1950).  Banyak peneliti menyimpulkan bahwa berapa jumlah optimal kategori skala tergantung dari spesifik isi dan  fungsi dari kondisi pengukuran (e.g. Friedman, Wilamowsky, & Friedman, 1981). Misalnya dalam konteks  seleksi karyawan, penggunaan skala tanpa kategori tengah lebih mampu mereduksi kepatutan sosial (social  desirability) dibanding dengan yang menggunakan kategori tengah (Garland, 1991).   Menurut penulis, jenis pernyataan dalam butir juga menjadi pertimbangan untuk memasang opsi tengah  ataukah tidak. Untuk menanyakan masa lalu atau perilaku responden, kita tidak mungkin memberikan opsi  kategori tengah. Sulit sekali bagi responden ketika menemui pernyataan yang merefleksikan masa lalu  misalnya “Saya pernah berurusan dengan polisi“atau yang memfokuskan pada perilaku misalnya “Saya akan  menegur orang yang merokok di depan saya”.     REFERENSI  Aiken, L. R. (1983). Number of Response Categories and Statistics on a Teacher Rating Scale.  Educational and Psychological Measurement, 43(2), 397‐401.  Brace, I. (2004). Questionnaire design. London: Kogan Page Ltd.  Cronbach, L. J. (1950). Further evidence on response sets and test design. educational and  psychological measurement, 10, 3‐31.  DeMars, C. E., & Erwin, T. D. (2005). Neutral or Unsure: Is there a Difference?,  Poster presented at the annual meeting of the American Psychological Association.  Washington, DC.    3 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010    Dubois, B., & Burns, J. A. (1975). An Analysis of the Meaning of the Question Mark Response  Category in Attitude Scales. Educational and Psychological Measurement, 35(4), 869‐884.  Friedman, H. H., Wilamowsky, Y., & Friedman, L. W. (1981). A comparison of balanced and   unbalanced rating scales. The Mid‐Atlantic Journal of Business, 19(2), 1‐7.  Garland, R. (1991). The mid‐point on a rating scale: Is it desirable? . Marketing Bulletin, 2, 66‐70.  Goldberg, L. R. (1981). Unconfounding situational attributions from uncertain, neutral, and  ambiguous ones: A psychometric analysis of descriptions of oneself and various types of  others. Journal of Personality and Social Psychology, 41, 517‐552.  Hofacker, C. F. (1984). Categorical Judgment Scaling with Ordinal Assumptions. Multivariate  Behavioral Research, 19(1), 91 ‐ 106.  Klopfer, F. J., & Madden, T. M. (1980). The Middlemost Choice on Attitude Items. Personality and  Social Psychology Bulletin, 6(1), 97‐101.  Kulas, J. T., Stachowski, A., & Haynes, B. (2008). Middle Response Functioning in Likert‐responses to  Personality Items. Journal of Business and Psychology, 22(3), 251‐259.  Kulas, J. T., & Stachowski, A. A. (2009). Middle category endorsement in odd‐numbered Likert  response scales: Associated item characteristics, cognitive demands, and preferred  meanings. [doi: DOI: 10.1016/j.jrp.2008.12.005]. Journal of Research in Personality, 43(3),  489‐493.  Matell, M. S., & Jacoby, J. (1971). Is There an Optimal Number of Alternatives for Likert Scale Items?  Study I: Reliability and Validity. Educational and Psychological Measurement, 31(3), 657‐674.  Yang, C. L., O'Neill, T. R., & Kramer, G. A. (2002). Examining item difficulty and response time on  perceptual ability test items. Journal of Applied Measurement, 3, 282–299.        4 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010                5 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010   

https://www.pdf-archive.com/2012/05/01/widhiarso-2010-respon-alternatif-tengah-pada-skala-likert/

01/05/2012 www.pdf-archive.com

Rapport (Chocogift UF) 38%

Introduktion Vilka är Chocogift UF?

https://www.pdf-archive.com/2018/04/13/rapport-chocogift-uf/

13/04/2018 www.pdf-archive.com

Newsletter #1mail FINAL 38%

4 “Dengan adanya petugas yang kompeten ini, terbukti vaksinasi rabies di Flores dan Lembata mampu mengendalikan kasus rabies,” lanjutnya.

https://www.pdf-archive.com/2016/09/29/newsletter-1mail-final/

29/09/2016 www.pdf-archive.com

C201202 36%

6LJQLILNDQ +50,6 GDODP PHPEDQWX PHPEHQWXN SHUMDZDWDQ VHNWRU DZDP GHQJDQ HIHNWLI )DHGDK SHODNVDQDDQ +50,6 6SHDNHU -HPSXWDQ Abdul Ghani bin Botok 3HQJDUDK %DKDJLDQ 3HQJXUXVDQ 0DNOXPDW -DEDWDQ 3HUNKLGPDWDQ $ZDP 0DOD\VLD Sesi 6 Pembangunan Modal Insan ke Arah Melahirkan Generasi yang Kompeten dan Meningkatkan Kualiti Hidup Masyarakat ‡ ‡ ‡ 3XQFD SHUXEDKDQ SROD VLNDS EXGD\D GDQ SHPLNLUDQ JRORQJDQ PXGD NLQL PRGDO LQVDQ QHJDUD GDQ NDHGDK PHQJDWDVLQ\D .RQVHS NXDOLWL KLGXS DVSHN GDQ DNWLYLWL SHQGXGXN \DQJ EHUWXMXDQ PHQLQJNDWNDQ WDKDS NHVHMDKWHUDDQ VRVLDO \DQJ VHODUL GHQJDQ DVSLUDVL 1HJDUD 3HPHUNDVDDQ 0RGDO ,QVDQ PHODOXL SHQLQJNDWDQ NHXSD\DDQ GDQ NRPSHQWDVL LQGLYLGX VHEDJDL SHQGHNDWDQ SHPEDQJXQDQ PDQXVLD 6SHDNHU -HPSXWDQ Dr.

https://www.pdf-archive.com/2013/05/21/c201202/

21/05/2013 www.pdf-archive.com