Search


PDF Archive search engine
Last database update: 28 November at 17:16 - Around 76000 files indexed.


Show results per page

Results for «kuesioner»:


Total: 30 results - 0.058 seconds

survey - IRR 100%

WJK/5.1/4023 Tanggal 24 September 2013 Perihal Permintaan Data Rasio keuangan Coverage (DSC) dalam rangka Review Standar Rasio keuangan dan Industry Risk Rating (IRR) Pada Tahun 2014 Memo no.ERM/2/0790 tanggal 29 Agustus 2013 (terkait pengisian kuesioner untuk review IRR 2014 Memo no.ERM/2/0822 tanggal 06 September 2013 (terkait permintaan data DSC untuk review standar rasio keuangan atas arahan/disposisi CBRO pada saat review IRR tahun 2013) Batas waktu pengisian kuesioner IRR dan penyampaian data DSC paling lambat Jum’at tgl.

https://www.pdf-archive.com/2013/10/25/survey-irr/

25/10/2013 www.pdf-archive.com

66-Lina Warlina, Edi Rusdiyanto, Sumartono, Ismet Sawir 93%

Data dikumpulkan dengan kuesioner dan wawancara terhadap para siswa, guru dan masyarakat sekitar sekolah, analisis dilakukan secara deskriptif, dan sofware yang digunakan adalah PRIME.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/66-lina-warlina-edi-rusdiyanto-sumartono-ismet-sawir/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

51-Nurul Huda 88%

Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan menggunakan kuesioner.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/51-nurul-huda/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

Widhiarso 2010 - Respon Alternatif Tengah pada Skala Likert 83%

Pengembangan Skala Psikologi :  Lima Kategori Respons ataukah Empat Kategori Respons ?     Oleh : Wahyu Widhiarso  Fakultas Psikologi UGM    Berapa kategori opsi yang disediakan dalam skala psikologi masih dalam perdebatan. Namun sebagian besar  sudah menunjukkan beberapa kesepakatan yang ditunjukkan dengan hasil‐hasil penelitian yang konsisten.  Lima kategori respons ataukah empat kategori respons ? Tulisan ini mencoba membedah berbagai pandangan  dari ahli yang mendukung masing‐masing jenis. Meski sudah sampai pada kesimpulan, tulisan ini masih dalam  taraf draft karena masih banyak hasil‐hasil penelitian yang belum dieksplorasi.  Mengapa Menyediakan Ketegori Tengah ?  Upaya untuk memasukkan kategori tengah (middle category) adalah untuk memfasilitasi responden yang  memiliki trait yang sedang (moderate trait standing). Klopfer dan Madden (1980) menjelaskan bahwa  penyediakan alternatif tengah respons bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi responden yang  memiliki sikap moderat terhadap pernyataan yang diberikan. Tidak disediakannya alternatif tengah akan  menyebabkan responden merasa dipaksa untuk memilih alternatif secara bipolar. Keterpaksaan ini akan  memberikan kontribusi kesalahan sistematis dalam pengukuran.   Penggunaan alternatif tengah secara historis memang ada. Likert yang mengembangkan skala yang kemudian  dinamakan dengan Skala Likert dari awalnya memang menyediakan kategori respons tengah. Skala Likert  memuat pernyataan yang responden diminta untuk mengevaluasi kesesuaian responden dengan pernyataan  yang diberikan. Lima kategori respon disediakan untuk dipilih oleh responden.   Meski Likert menyarankan lima alternatif respons, namun banyak ahli yang menyarankan untuk menggunakan  bermacam‐macam jumlah kategori respon. Sebuah studi empiris menemukan bahwa 5 atau 7 alternatif respon  skala titik dapat menghasilkan nilai rata‐rata sedikit lebih tinggi (secara relatif dari skor tertinggi yang mungkin  dicapai) jika dibandingkan dengan skala yang menyediakan 10 alternatif. Artinya, semakin sedikit jumlah  respons variasi data semakin berkurang. Masalahnya adalah apakah setiap responden bisa memahami  perbedaan kategori hingga 10 level ? Jumlah pilihan di sekitar 5 hingga 7 kategori lebih disarankan dibanding  alternatif di atas jumlah tersebut.  Mengapa Responden Memilih Kategori Tengah?  Alternatif tengah respons disediakan untuk memfasilitasi sikap responden yang moderat, akan tetapi  responden tidak hanya memilih kategori ini untuk menunjukkan traitnya yang moderat (Hofacker, 1984),  namun dipengaruhi oleh banyak faktor.   Beberapa ahli telah meneliti mengapa responden memilih alternatif tengah kategori. Shaw dan Wright (1967)  mengemukakan tiga kemungkinan responden kategori tengah, yaitu : (1) mereka tidak memiliki sikap atau  pendapat, (2) mereka ingin memberikan penilaian secara seimbang, atau (3) mereka belum memberikan sikap  atau pendapat yang jelas. Kulas & Stachowski (2009) menjelaskan faktor lain seperti ragu, tidak memahami  pernyataan dalam butir, respons mereka kondisional, atau mereka memiliki berdiri netral, moderat, atau rata‐ rata.  Ahli lain menjelaskan bahwa pemilihan kategori tengah menunjukkan keengganan responden untuk memilih  arah tanggapan terhadap pernyataan. Bisa jadi mereka memilih respons tengah karena kesulitasn  menginterpretasi butir pernyataan  (Goldberg, 1981). Yang et al. (2002)  menemukan bahwa responden  cenderung memilih kategori tengah ketika mendapati butir yang sulit dipahami.   Kesimpulan. Skor skala bisa menjadi bias jika responden yang cenderung memilih kategori tengah, dikarenakan  tidak memahami butir dan merasa tidak nyaman dengan pernyataan yang diberikan. Oleh karena itu bagi  penyusun skala psikologi diharapkan untuk menyusun butir yang mudah dipahami dan membangun interaksi  yang hangat dengan responden agar mereka merasa tidak terintervensi.      1 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010    Dampak Penyediaan Kategori Tengah  Andrews (1984) menemukan bahwa keberadaan alternatif tengah eksplisit dalam kategori jawaban tidak  memiliki efek yang signifikan pada kualitas data. Rerata respon terhadap butir akan meningkat secara linear  dan varians item meningkat kurvelinier dengan meningkatnya jumlah kategori jawaban. Peningkatan rerata  adalah wajar dan tidak menjadi masalah karena jumlah alternatif menjadi bertambah yang diiringi dengan  peningkatan varians. Peningkatan varians inilah yang banyak menjadi ketertarikan kita, karena menunjukkan  informasi yang kita miliki semakin bervariasi.   Di sisi lain, nilai konsistensi internal (alpha) tidak berubah secara sistematis dengan meningkatnya jumlah  kategori respon (Aiken, 1983). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jumlah kategori jawaban tidak  membuat perbedaan dalam mean dan varians respon item dan skor total skala.  Kulas et al. (2008) menemukan bahwa korelasi skor antar variabel yang dihitung antara skala yang  menyediakan alternatif titik tengah maupun tidak menyediakan memiliki korelasi yang tinggi, bergerak antara  0.94 hingga 1.0. Artinya, skornya yang dihasilkan sama saja sehingga validitas kriteria yang didapatkan dari  korelasi dengan skor kriteria dipastikan akan tetap tidak berubah.  Mattel dan Jacoby (1971)  menemukan bahwa reliabilitas pengukuran dan validitas skala independen terhadap  jumlah alternatif respons.   Kesimpulan. Skor skala yang menyediaan kategori tengah dengan yang tidak memiliki kategori tengah, tidak  memiliki perbedaan yang berarti. Reliabilitas pengukuran dan validitas butir tidak mengalami perbedaan. Yang  berbeda adalah varian skor. Dengan adanya kategori tengah, variasi data lebih tinggi dibanding dengan yang  tidak. Oleh karena itu menyediakan kategori tengah akan menghasilkan data yang lebih bervariasi.  Jumlah Alternatif Ganjil dan Genap  Beberapa penulis secara eksplisit telah membahas masalah jumlah alternatif respon kategori yang ganjil versus  genap. Kalton, Roberts, dan Holt (1980) menunjukkan bahwa ketika inves tigators memutuskan untuk tidak  menawarkan alternatif tengah eksplisit, mereka biasanya menganggap bahwa kategori tengah terdiri sebagian  besar tanggapan dari orang‐orang yang bersandar terhadap satu atau kutub alternatif lain, meskipun mungkin  dengan sedikit intensitas.   Klopfer (1980) berpendapat bahwa penyelidik yang menawarkan alternatif yang mungkin tengah berasumsi  bahwa responden benar‐benar mendukung posisi tengah. Akibatnya, jika responden dipaksa untuk memilih  alternatif yang ada, pilihan ini akan memberikan kontribusi kesalahan pengukuran sistematis.  Kesimpulan : Jumlah opsi genap akan memaksa responden untuk memilih sikap yang jelas terhadap  pernyataan yang diberikan sedangkan jumlah opsi ganjil memfasilitasi responden yang belum memiliki sikap  yang jelas. Pemaksaan tersebut dapat menimbulkan eror pengukuran, karena skor yang dihasilkan tidak benar‐ benar menggambarkan diri responden.   Menyediakan Alternatif tengah Memang akan Meningkatkan Jumlah Pemilihnya, tapi ...  Kalton, Roberts, dan Holt (1980) melaporkan bahwa pilihan kategori respon tengah berkisar antara 15 dan 49  persen ketika item kuesioner menyediakan titik tengah secara eksplisit dalam kategori respons yang berjumlah  ganjil. Di sisi lain Presser dan Schuman (1980) menemukan jumlah yang lebih sedikit yaitu antara 10 dan 20  persen. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan alternatif respon tengah meningkatkan proporsi responden  yang menyatakan pandangan netral secara substansial. Kecenderungan ini bahkan mungkin meningkat ketika  isu‐isu sensitif pertanyaan perhatian (Kalton & Schuman, 1982).  DuBois dan Burns (1975) berargumen bahwa responden memilih alternatif tengah karena merasa ambivalen  (tidak dapat memutuskan apakah akan setuju atau tidak setuju), indiferen (tidak peduli) atau  tidak merasa  cukup kompeten atau cukup informasi untuk mengambil sikap.  Kesimpulan : Menyediakan alternatif tengah memang akan meningkatkan jumlah pemilihnya, tapi  kecenderungan itu meningkat tajam jika pernyataan yang tertulis dalam butir kurang mudah dipahami,  membingungkan atau mengurangi kenyamanan/keamanan responden. Untuk mengatasi hal ini penulis butir  diharapkan menulis butir dengan pernyataan yang jelas dan tidak mengintervensi responden.        2 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010     “Netral” dan “Tidak Yakin”, Apakah Beda?  Presser dan Schuman (1980) memberikan kuesioner yang menyediakan kategori “tidak tahu” (don’t know)  secara eksplisit, kemudian memberikan lagi kuesioner yang melibatkan kategori tidak tahu dan netral.  Hasilnya, dengan menambahkan kategori netral, jumlah responden yang memilih tidak tahu menjadi  berkurang. Beberapa dari mereka yang menanggapi tidak tahu di kuesioner tanpa kategori netral, menjadi  memilih kategori netral  ketika pilihan netral disediakan. Apakah penelitian ini menunjukkan bahwa kategori  netral dan tidak tahu dimaknai sama oleh responden, belum tentu.  Bishop et al. (1988, dikutip dari DeMars & Erwin, 2005) memberikan dua jenis kuesioner kepada responden.  Satu kuesioner menyediakan opsi tengah dan satunya lagi menyediakan tidak berpendapat (no opinion).  Hasilnya proporsi responden memilih kedua jenis opsi tersebut tidak sama. Hal ini menunjukkan bahwa  responden memaknai kedua jenis opsi itu sebagai hal yang berbeda.  DeMars dan Erwin (2005)  melakukan penelitian mengenai penyediaan respons tengah yang dibagi menjadi  dua jenis, yaitu netral (neutral) dan tidak yakin (unsure). Responden diminta untuk merespon survei yang  mengukur perkembangan identitas dengan menggunakan skala Likert 4‐poin dengan dua opsi tambahan:  netral dan tidak yakin. Jumlah responden yang memilih netral dibandingkan dengan yang memilih tidak yakin  pada butir yang sama. Dari sisi rata‐rata didapatkan bahwa skor kedua kelompok siswa adalah sama. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa alternatif respons netral dan tidak yakin menunjukkan sesuatu berbeda dari.   Kesimpulan : Opsi netral dan tidak tahu memiliki makna yang berbeda. Opsi netral menunjukkan bahwa  responden belum mampu menentukan sikap, dengan syarat pernyataan di dalam butir sangat jelas atau tidak  ambigu. Opsi tidak tahu menunjukkan bahwa responden tidak mengetahui bagaimana dia bersikap yang  sehingga dapat dimungkinkan opsi tidak tahu memfasilitasi kebingungan responden terhadap pernyataan.  Penggunaan opsi netral lebih disarankan dibanding dengan opsi tidak tahu.  Penutup  Penulis kuesioner harus memutuskan apakah memasukkan titik tengah atau tidak sesuai dengan pernyataan  yang diberikan kepada responden (Brace, 2004). Meskipun penggunaan respon kategori tengah tidak  mempengaruhi reliabilitas dan validitas dalam penelitian ini, namun direkomendasikan bahwa penilaian  pengembang kuesioner untuk memasukkan alternatif tengah (Kulas, et al., 2008). Ahli lain bahwa  menyediakan kategori tengah memungkinkan responden untuk menunjukkan respon yang netral dan lebih  diskriminatif dalam respon mereka, membuat nilai skala yang lebih handal dan skala yang lebih disukai oleh  responden (Cronbach, 1950).  Banyak peneliti menyimpulkan bahwa berapa jumlah optimal kategori skala tergantung dari spesifik isi dan  fungsi dari kondisi pengukuran (e.g. Friedman, Wilamowsky, & Friedman, 1981). Misalnya dalam konteks  seleksi karyawan, penggunaan skala tanpa kategori tengah lebih mampu mereduksi kepatutan sosial (social  desirability) dibanding dengan yang menggunakan kategori tengah (Garland, 1991).   Menurut penulis, jenis pernyataan dalam butir juga menjadi pertimbangan untuk memasang opsi tengah  ataukah tidak. Untuk menanyakan masa lalu atau perilaku responden, kita tidak mungkin memberikan opsi  kategori tengah. Sulit sekali bagi responden ketika menemui pernyataan yang merefleksikan masa lalu  misalnya “Saya pernah berurusan dengan polisi“atau yang memfokuskan pada perilaku misalnya “Saya akan  menegur orang yang merokok di depan saya”.     REFERENSI  Aiken, L. R. (1983). Number of Response Categories and Statistics on a Teacher Rating Scale.  Educational and Psychological Measurement, 43(2), 397‐401.  Brace, I. (2004). Questionnaire design. London: Kogan Page Ltd.  Cronbach, L. J. (1950). Further evidence on response sets and test design. educational and  psychological measurement, 10, 3‐31.  DeMars, C. E., & Erwin, T. D. (2005). Neutral or Unsure: Is there a Difference?,  Poster presented at the annual meeting of the American Psychological Association.  Washington, DC.    3 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010    Dubois, B., & Burns, J. A. (1975). An Analysis of the Meaning of the Question Mark Response  Category in Attitude Scales. Educational and Psychological Measurement, 35(4), 869‐884.  Friedman, H. H., Wilamowsky, Y., & Friedman, L. W. (1981). A comparison of balanced and   unbalanced rating scales. The Mid‐Atlantic Journal of Business, 19(2), 1‐7.  Garland, R. (1991). The mid‐point on a rating scale: Is it desirable? . Marketing Bulletin, 2, 66‐70.  Goldberg, L. R. (1981). Unconfounding situational attributions from uncertain, neutral, and  ambiguous ones: A psychometric analysis of descriptions of oneself and various types of  others. Journal of Personality and Social Psychology, 41, 517‐552.  Hofacker, C. F. (1984). Categorical Judgment Scaling with Ordinal Assumptions. Multivariate  Behavioral Research, 19(1), 91 ‐ 106.  Klopfer, F. J., & Madden, T. M. (1980). The Middlemost Choice on Attitude Items. Personality and  Social Psychology Bulletin, 6(1), 97‐101.  Kulas, J. T., Stachowski, A., & Haynes, B. (2008). Middle Response Functioning in Likert‐responses to  Personality Items. Journal of Business and Psychology, 22(3), 251‐259.  Kulas, J. T., & Stachowski, A. A. (2009). Middle category endorsement in odd‐numbered Likert  response scales: Associated item characteristics, cognitive demands, and preferred  meanings. [doi: DOI: 10.1016/j.jrp.2008.12.005]. Journal of Research in Personality, 43(3),  489‐493.  Matell, M. S., & Jacoby, J. (1971). Is There an Optimal Number of Alternatives for Likert Scale Items?  Study I: Reliability and Validity. Educational and Psychological Measurement, 31(3), 657‐674.  Yang, C. L., O'Neill, T. R., & Kramer, G. A. (2002). Examining item difficulty and response time on  perceptual ability test items. Journal of Applied Measurement, 3, 282–299.        4 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010                5 | Pengembangan Skala Psikologi  |  Wahyu Widhiarso 2010   

https://www.pdf-archive.com/2012/05/01/widhiarso-2010-respon-alternatif-tengah-pada-skala-likert/

01/05/2012 www.pdf-archive.com

61-Nurul Huda 79%

Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan menggunakan kuesioner.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/61-nurul-huda/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

29-Pepi Rospina Pertiwi, Rinda Noviyanti, Dewi Juliah Ratnaningsih 75%

Informasi digali dari responden dengan menggunakan kuesioner yang disertai dengan wawancara.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/29-pepi-rospina-pertiwi-rinda-noviyanti-dewi-juliah-ratnaningsih/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

71-Ernik Yuliana dan Adi Winata 69%

Data yang dikumpulkan dengan kuesioner berupa data primer.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/71-ernik-yuliana-dan-adi-winata/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

32-Adi Winata dan Ernik Yuliana 66%

Metode penelitian menggunakan metode survei, dengan menyebarkan kuesioner yang diperkuat dengan wawancara.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/32-adi-winata-dan-ernik-yuliana/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

28-Merita Diana 65%

Instrumen yang digunakan mengukur minat belajar adalah kuesioner yang diberikan setelah pembelajaran diterapkan setiap siklus, sedangkan prestasi belajar dengan pemberian tes di pertemuan terakhir setiap siklus berakhir.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/28-merita-diana/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

20-Yuni Tri Hewindati, Budi Prasetyo, Adi Waskito 64%

Perolehan informasi tentang data tanaman obat yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat dilakukan dengan cara wawancara, pengisian kuesioner, maupun pengamatan langsung di lapangan.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/20-yuni-tri-hewindati-budi-prasetyo-adi-waskito/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

60-Tutisiana Silawati, Warsito, Atun Ismarwati 60%

Data mengenai mahasiswa jurusan Matematika peserta TAP masa ujian 2009.1 diperoleh dari pusat Komputer UT dan persepsi mahasiswa mengenai Panduan TAP, didapat dari hasil isian kuesioner yang dikembalikan oleh mahasiswa, sedangkan data mengenai nilai TAP, Tuton, dan nilai mata kuliah pendukung TAP masa ujian 2009.1 diperoleh dari Pusat Pengujian UT.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/60-tutisiana-silawati-warsito-atun-ismarwati/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

Model Politomi pada Teori Respon Butir 58%

Contoh OCF dan CRF pada butir dengan tiga kategori Model Politomi dalam Teori Respons Butir | 3 Model Modifikasi Respons Bergradasi (Modified Graded Response Model/M-GRM) M-GRM memfasilitasi penggunaan kuesioner dengan format skala rating, misalnya, kuesioner sikap yang semua item memiliki jumlah kategori respons yang sama (Muraki, 1990).

https://www.pdf-archive.com/2012/05/01/model-politomi-pada-teori-respon-butir/

01/05/2012 www.pdf-archive.com

49-Suroyo 58%

Pengumpulan data diperoleh dari kajian materi, penilaian mahasiswa pendapat pakar dan pengguna BMP melalui kuesioner dan wawancara terstruktur mahasiswa dan pakar, tutor, dan pengampu matakuliah.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/49-suroyo/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

JURNAL TESSA ok 57%

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh langsung dari faktor-faktor penentu kualitas audit yang terdiri dari variabel independensi, kompetensi, resiko audit, pengalaman dan etika terhadap ketepatan pemberian opini auditor serta pengaruh tidak langsung antara variabel independensi, kompetensi, resiko audit, pengalaman dan etika terhadap ketepatan pemberian opini auditor melalui skeptisisme profesional auditor.Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang disampaikan kepada 80 auditor dari 8 Kantor Akuntan Publik di Kota Pekanbaru.

https://www.pdf-archive.com/2016/11/08/jurnal-tessa-ok/

08/11/2016 www.pdf-archive.com

58-Marhamah 56%

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, mencakup data konsumsi pangan dan gizi, aktifitas fisik, skor kesehatan dan kemampuan kognitif usia lanjut.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/58-marhamah/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

39-Pepi Rospina Pertiwi, Dewi Juliah Ratnaningsih 56%

Untuk menjaring informasi, disusun instrumen berupa kuesioner tentang karakteristik peserta, serta sejumlah pertanyaan tentang materi penyuluhan yang diisi peserta sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/39-pepi-rospina-pertiwi-dewi-juliah-ratnaningsih/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

11-Ngarap Im Manik 54%

Penelitian ini menggunakan metoda survei, instrumen yang digunakan observasi, kuesioner dan dokumen.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/11-ngarap-im-manik/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

57-Samsul Islam, K.A. Puspitasari 52%

Sebagai contoh, penelitian tentang KBM yang dilakukan oleh Darmayanti (1993) menemukan bahwa pada salah satu butir kuesioner yang diadaptasi dari kuesioner Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) dari Guglielmino, mengalami bias budaya.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/57-samsul-islam-k-a-puspitasari/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

55-Endang Indrawati, Sri Harijati, Pepi Rospina Pertiwi 51%

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang dipandu dengan wawancara secara orang per orang.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/06/55-endang-indrawati-sri-harijati-pepi-rospina-pertiwi/

06/12/2011 www.pdf-archive.com

Laporan Kompetisi CMS 2013 50%

Lampiran 5 Kuesioner dengan mitra 15 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.Template Gambar 2.Facebook API Gambar 3.Google Maps API Gambar 4.Contact Form 7 API Gambar 5.

https://www.pdf-archive.com/2015/04/05/laporan-kompetisi-cms-2013/

05/04/2015 www.pdf-archive.com

73-Karlimah 40%

Data disposisi matematis mahasiswa dihimpun dengan menggunakan kuesioner.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/73-karlimah/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

48-Diarsi Eka Yani, Pepi Rospina Pertiwi 40%

Data primer dikumpulkan melalui pengisian kuesioner penelitian dengan teknik wawancara dan observasi kegiatan di usahatani responden.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/48-diarsi-eka-yani-pepi-rospina-pertiwi/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

34-Anang Suhardianto 40%

Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden yang berpedoman pada kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya dan telah diujicobakan.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/34-anang-suhardianto/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

19-Agus Susanto 37%

Pengambilan data primer yaitu data WTP masyarakat dan kelembagaan dilakukan dengan wawancara langsung dengan responden dan penyebaran kuesioner.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/19-agus-susanto/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

3-Ernik Yuliana, Adhi Susilo, Deddy Ahmad Suhardi 37%

Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada responden, tetapi pengisiannya dibantu oleh enumerator.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/3-ernik-yuliana-adhi-susilo-deddy-ahmad-suhardi/

16/03/2011 www.pdf-archive.com