Search


PDF Archive search engine
Last database update: 17 December at 11:24 - Around 76000 files indexed.


Show results per page

Results for «pedoman»:


Total: 30 results - 0.043 seconds

PEDOMAN Pengendalian IMS dengan Pengobatan Presumtif Berkala 100%

By Slamet Yulianto at 1:38 am, Nov 09, 2013 Pengendalian IMS dengan Pengobatan Presumtif Berkala PEDOMAN Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2010   Pengendalian IMS dengan Pengobatan Presumtif Berkala Pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2010 i ii Pedoman – Pengendalian IMS dengan Pengobatan Presumtif  Berkala  DAFTAR SINGKATAN AIDS ART Babinsa BCC BCI BHP bv CST Acquired Immuno-Deficiency Syndrome Terapi Antiretroviral Badan Pembina Desa Behavior Change Communication Behavior Change Intervention Bahan habis pakai Bacterial vaginosis HIV Care, support and treatment (perwatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA = PDP) Kemenkes Kementerian Kesehatan Dinkes Dinas Kesehatan Dinsos Dinas Sosial DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dta Duh tubuh anus dts Duh tubuh serviks dtv Duh tubuh vagina FHI Family Health International Global Funds for AIDS, Tuberculosis and Malaria GFATM GO gonore HAM Hak azasi manusia Human Immune deficiency Virus HIV IBBS Integrated Biological and Behavioral Survey = STBP Injecting Drug User IDU IMS Infeksi Menular Seksual (= STI) IPP Intervensi Perubahan Perilaku Juklak Petunjuk pelaksanaan Juknis Petunjuk teknis Kamtibmas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat KD Kelompok dukungan, klien yang mendapat dukungan KDS Kelompok Dukungan Sebaya KIE Komunikasi Edukasi dan Informasi KL Koordinator lapangan KOH Kalium hydroxide KPA Komisi Penanggulangan AIDS, AIDS Control Commission KPAK Komisi Penanggulangan AIDS Kota/Kabupaten KPAN Komisi Penanggulangan AIDS Nasional KPAP Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi KPP Komunikasi Perubahan Perilaku KT/ CT Klamidia Trakomatis/ Chlamydia Trachomatis Pedoman – Pengendalian IMS dengan Pengobatan Presumtif  Berkala  i

https://www.pdf-archive.com/2016/07/01/pedoman-pengendalian-ims-dengan-pengobatan-presumtif-berkala/

01/07/2016 www.pdf-archive.com

PedomanPMTCT 99%

PEDOMAN PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK QuickTime™ and a decompressor are needed to see this picture.

https://www.pdf-archive.com/2016/07/01/pedomanpmtct/

01/07/2016 www.pdf-archive.com

NGAJAR 15 [Compatibility Mode] 95%

V I S I MERUPAKAN SUMBER NILAI DAN PEDOMAN DALAM PENGEMBANGAN DAN PENYELENGGARAAN PROGRAM STUDI, GUNA MENGANTARKAN MAHASISWA MEMANTAPKAN KEPRIBADIANNYA SEBAGAI MANUSIA SEUTUHNYA.

https://www.pdf-archive.com/2011/06/15/ngajar-15-compatibility-mode-1/

15/06/2011 www.pdf-archive.com

Pedoman Layanan Komprehensif edited 3 Agustus 12- 1-1 94%

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan             Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Pedoman Penerapan               KEMENTERIAN KESEHATAN RI  TAHUN 2012      Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan KATA PENGANTAR Perkembangan  epidemi  HIV‐AIDS  di  dunia  telah  menyebabkan  HIV‐AIDS  menjadi  masalah  global  dan  merupakan  salah  satu  masalah  kesehatan  masyarakat  di  Indonesia.    Kementerian  Kesehatan  RI  mempunyai  visi  “Masyarakat  Sehat  yang  Mandiri  dan  Berkeadilan’, dengan salah  satu misinya  adalah  “Melindungi Kesehatan Masyarakat  dengan  Menjamin  Tersedianya  Upaya  Kesehatan  yang  Paripurna  Merata  Bermutu  dan  Berkeadilan”.  Sejalan  dengan  visi  dan  misi  tersebut,  sangatlah  penting  untuk  memadukan  upaya  promotif  dan  preventif  dengan  upaya  perawatan,  dukungan  serta pengobatan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan yang ada saat  ini.    Sejak  beberapa  tahun  belakangan  ini  telah  banyak  kemajuan  yang  telah  dicapai  dalam  program  pengendalian  HIV  di  Indonesia.  Berbagai  layanan  terkait  HIV  telah  dikembangkan  dan  dimanfaatkan  oleh  masyarakat  yang  membutuhkannya.  Namun  demikian teridentifikasi bahwa masih terjadi miss opportunity kebutuhan pelayanan  bagi  masyarakat  yang  membutuhkan,  peningkatan  akses  dan  kualitas    intervensi  layanan  dalam  suatu  jejaring  layanan  yang  terintegrasi  dan  berkaitan  satu  dengan  lainnya. Masih terkotak‐kotak antara satu layanan HIV dengan layanan HIV lainnya,  dan kadang – kadang sulit disambungkan.     Berdasarkan  hasil  External  review  2011  of  the  health  sector  response  to  HIV‐AIDS  yang  diselenggarakan  pada  bulan  September  2011  lalu  yang  memberikan  rekomendasi  bahwa  pentingnya  untuk  segera  mengembangkan  layanan  komprehensif  yang  menjamin  kesinambungan  antara  upaya  pencegahan  dan  perawatan  dengan  kerja  sama  yang  lebih  erat  dengan  masyarakat  terkait.  Segera  dilakukan penguatan sistem kesehatan dan layanan pencegahan dan perawatan yang  berkesinambungan  dengan  jejaring  kerja  sama  yang  lebih  dekat  dengan  organisasi  kemasyarakatan.  Peningkatan  cakupan  dan  retensi  layanan  terapi  ARV  hanya  akan  tercapai  dengan  menerapkan  perawatan  ODHA  yang  berkesinambungan  di  tingkat  kabupaten/kota. Di samping itu direkomendasikan pula perlunya meningkatkan lagi  cakupan  dan  kualitas  layanan  pencegahan  dan  perawatan  HIV  melalui  layanan  komprehensif yang terintegrasi di tingkat kabupaten/kota.    Pelayanan  HIV‐AIDS  dan  IMS  Komprehensif  dan  Berkesinambungan  bukan  merupakan suatu konsep yang baru, konsep layanan seperti ini telah diinisiasi oleh  Kemenkes  sejak  tahun  2004.  Belajar  dari  hal  tersebut  maka,  lalu  kami  luncurkan  kembali  Layanan  HIV‐IMS  Komprehensif  Berkesinambungan  dengan  lebih  memperkuat  pada  aspek  penguatan  Jejaring,  Rujukan,  penguatan  komponen  masyarakat, dengan titik sentral tingkat komprehensifnya pada tingkat kab/kota.       i

https://www.pdf-archive.com/2016/07/01/pedoman-layanan-komprehensif-edited-3-agustus-12-1-1/

01/07/2016 www.pdf-archive.com

pedoman nasional penanganan IMS 2011 94%

Buku ini merupakan rangkaian bersama buku manajemen infeksi menular seksual bagi pengelola program, sehingga merupakan buku pedoman terpadu penanganan dan manajemen infeksi menular seksual.

https://www.pdf-archive.com/2016/07/01/pedoman-nasional-penanganan-ims-2011/

01/07/2016 www.pdf-archive.com

Permenkes-No.-21-Tahun-2013-Penanggulangan-HIVAIDS 93%

bahwa Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1285/Menkes/SK/X/2002 tentang Pedoman Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan pelayanan kesehatan, serta kebutuhan hukum;

https://www.pdf-archive.com/2016/07/01/permenkes-no-21-tahun-2013-penanggulangan-hivaids/

01/07/2016 www.pdf-archive.com

PERDES APBDES 2018 81%

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa;

https://www.pdf-archive.com/2018/04/29/perdes-apbdes-2018/

29/04/2018 www.pdf-archive.com

Guidelines-Aids-HIV-IND-250613 77%

AIDS DI TEMPAT KERJA Pedoman Untuk Perusahaan Betterworkindo www.betterwork.org/indonesia 1 Menangani Masalah HIV &

https://www.pdf-archive.com/2016/07/02/guidelines-aids-hiv-ind-250613/

02/07/2016 www.pdf-archive.com

perda pajak daerah 76%

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

https://www.pdf-archive.com/2015/09/19/perda-pajak-daerah/

19/09/2015 www.pdf-archive.com

56-Rinda Noviyanti 73%

Untuk mewujudkan kebijakan perikanan global tersebut, Food and Agriculture Organization (FAO) telah menerbitkan suatu pedoman untuk membantu otoritas pengelola, pelaku usaha perikanan, termasuk di dalamnya pengusaha penangkapan ikan, pengusaha budidaya ikan, pelaku usaha pengolahan dan perdagangan komoditas perikanan hingga peneliti perikanan.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/56-rinda-noviyanti/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

14-Yanuard Putro Dwikristanto 68%

Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara untuk mengumpulkan data keterampilan penggunaan program TIK khususnya keterampilan word dalam penulisan tugas makalah mahasiswa pendidikan guru.

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/14-yanuard-putro-dwikristanto/

05/12/2011 www.pdf-archive.com

30-Nanang Rianto, R. Pamekas 68%

Masukan Untuk Pedoman Pemetaan Sosial &

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/30-nanang-rianto-r-pamekas/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

Buku Panduan Akademik 2018 65%

Dalam buku panduan ini tersedia panduan administratif maupun di bidang akademis bagi Anda yang dapat menjadi pedoman selama menjadi mahasiswa.

https://www.pdf-archive.com/2017/09/03/buku-panduan-akademik-2018/

03/09/2017 www.pdf-archive.com

HARGA BKB KIT 2015 ~ JUKNIS DAK BKKbN 2015 63%

◦ Materi-Materi / Permainan Genre ◦ Laptop / Notebook Genre ◦ LCD Projector Genre ◦ Media KIE Lini Lapangan Viewsonic PJD 5153 BKB KIT MATERI PENYULUHAN ◦ Buku dan CD Menjadi Orang Tua Hebat Dalam Mengasuh Anak ◦ Kartu Kembang Anak (KKA) ◦ Buku Pedoman Kartu Kembang Anak (KKA) ◦ Buku Panduan Penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE) MEDIA PENYULUHAN BKB ◦ Alat Permainan Edukatif (APE) - Kerincingan/Giring-Giring - Boneka Kain Berbentuk Binatang - Puzzle (Bongkar Pasang) - Paku Palu - Menara Gelang Ganda ◦ Kantong Wasiat ◦ Simulasi / Beberan ◦ Media Lembar Balik 9.

https://www.pdf-archive.com/2015/02/23/harga-bkb-kit-2015-juknis-dak-bkkbn-2015/

23/02/2015 www.pdf-archive.com

Keputusan KwarNas Gerakan Pramuka No 154 A Tahun 2011 63%

Petunjuk Penyelenggaraan ini digunakan sebagai pedoman bagi kwartir, gugus depan, dan institusi/ lembaga terkait dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan Satuan Karya Pramuka Bakti Husada.

https://www.pdf-archive.com/2016/07/02/keputusan-kwarnas-gerakan-pramuka-no-154-a-tahun-2011/

02/07/2016 www.pdf-archive.com

Draf TATIB final penetapan 62%

bahwa dengan telah diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, maka Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 01 Tahun 2009 perlu ada perubahan dan penyempurnaan;

https://www.pdf-archive.com/2011/01/29/draf-tatib-final-penetapan-1/

29/01/2011 www.pdf-archive.com

PETA JALAN DAKWAH 54%

Keduanya sudah mutlak menjadi pedoman hidup umat Islam.

https://www.pdf-archive.com/2015/05/25/peta-jalan-dakwah/

25/05/2015 www.pdf-archive.com

Widhiarso 2010 - Catatan dalam Penggunaan Eta-Squared dalam ANAVA 53%

Catatan dalam Penggunaan Eta-Squared dalam Analisis Varians   Oleh Wahyu Widhiarso | Fakultas Psikologi UGM | 2010    Setelah membaca artikel tulisan Stephen Olejnik dan James Algina yang berjudul “Generalized Eta  and Omega Squared Statistics: Measures of Effect Size for Some Common Research Designs” yang  diterbitkan  oleh  Jurnal  Psychological  Methods  tahun  2003  cukup  mengagetkan.  Nampaknya  apa  yang selama ini dilakukan peneliti untuk mengestimasi nilai sumbangan efektif (efek ukuran/effect  size) dengan menggunakan analisis varians (ANAVA) baik untuk penelitian eksperimen maupun non  eksperimen  perlu  diperbaiki.  Selama  ini  peneliti  yang  menggunakan  program  SPSS  banyak  menggunakan  fasilitas  default  program  tersebut  untuk  menghitung  effect  size.  Dengan  mengklik  tombol  effect  size  maka  nilai  partial  eta  squared  akan  muncul.  Nah,  biasanya  yang  kita  laporkan  untuk menunjukkan berapa sumbangan efektif adalah partial eta squared tersebut. Padahal banyak  catatan  untuk  menggunakan  koefisien  tersebut.  Yang  dianjurkan  oleh   Olejnik  dan  Algina  (2003)  adalah generalized eta squared. Apa bedanya ?  PENGERTIAN  • • • • Eta‐squared adalah salah satu ukuran hubungan; sama seperti koefisien korelasi pada skala 0‐1  yang dapat memberitahu anda berapa banyak varians di VARIABEL DEPENDEN (VD) yang dapat  dijelaskan oleh masing‐masing VARIABEL INDEPENDEN (VI).  Eta‐squared analog untuk R kuadrat dan dapat dianggap sebagai sebuah persentase pada skala  0‐100.  Eta‐squared  adalah  informasi  tambahan  yang  hanya  berguna  jika  hubungan  atau  perbedaan  yang disimpulkan dari analisis adalah signifikan.  Eta‐squared  mencerminkan  persentase  varians  VD  dijelaskan  oleh  VI  pada  data  sampel.  Sebagai  estimasi  varians  yang  dijelaskan  dalam  populasi  itu  adalah  berpotensi  menghasilkan  informasi  yang  bias  (over  atau  under  estimate).  Omega‐squared  adalah  salah  satu  alternatif  yang disarankan.\  PERBANDINGAN    Eta‐squared  • • • • • Eta‐squared = SSbetween / SStotal  Ada satu eta‐squared pada tiap efek (misalnya eta pada interaksi).  Eta‐squared jika ditotal maka hasilnya sama dengan 1 (100% efek)  Tidak tersedia pada SPSS.  Persen  dari varians dijelaskan oleh tiap variabel independen.  Partial eta‐squared  • Partial eta‐squared = SSbetween / SStotal + SSerror    1    • • • Tersedia pada SPSS.  Jika ditotal maka jumlahnya tidak sama dengan 1 sehingga sulit untuk diinterpretasikan  Not recommended.  Catatan  • • • Jika diterapkan pada ANOVA satu jalur maka eta‐squared dan partial eta‐squared adalah sama.  Untuk desain yang lebih kompleks, yang sebagian eta‐squared umumnya akan lebih besar dari  eta‐squared.  Untuk  ANOVA  campuran,  eta‐squared  harus  dihitung  secara  terpisah  dalam  konteks  efek‐ subjek dalam tabel ANOVA dan efek antara‐subjek tabel ANOVA. Dalam situasi ini, eta‐squared  jika dijumlah dapat bernilai 1 untuk efek dalam subjek (within subject), dan 1 untuk efek antar  subjek (between subject). Tapi mereka tidak bisa semua dikombinasikan untuk sama 1.  KESIMPULAN  Partial  eta  squared  dipengaruhi  oleh   jenis,  desain,  strategi  dan  pengukuran,  dengan  demikian  peneliti  perlu  berhati‐hatilah  dengan  membandingkan  eta‐squared  antara  studi  yang  berbeda,  terutama jika desain bervariasi. Misalnya ada dua penelitian A dan B bertujuan menguji pengaruh  faktor terapi perilaku untuk menurunkan kontrol diri. Prosedur, waktu, intensitas dsb pada kedua  terapi adalah sama. Penelitian A melibatkan variabel jender, sedangkan penelitian B tidak. Karena  komposisi  variabel  yang  berbeda,  maka  jenis  analisis  kedua  penelitian  di  atas  juga  berbeda.  Jika  secara  empirik  jender  turut  mempengaruhi  keberhasilan  terapi  (kontrol  diri),  maka  nilai  peranan  terapi pada kedua penelitian di atas berbeda. Peranan terapi pada penelitian A (melibatkan jender)  menjadi  lebih  kecil  dibanding  dengan  penelitian  B  (tanpa  melibatkan  jender).  Jika  kita  menggunakan partial eta squared  melalui SPSS untuk melihat sumbangan efektif perlakuan, maka  hasil  dua  partial  eta  squared  pada  masing‐masing  penelitian  tidak  dapat  dibandingkan.  Hal  ini  dikarenakan partial eta squared tergantung pada desain eksperimen.  Mengutip apa yang ditulis di artikel Olejnik dan James Algina, dijelaskan bahwa Cohen (1973) telah  memperingatkan  bahwa  penggunaan   eta  kuadrat  parsial  kurang  tepat  dan  bahkan  dapat  menyesatkan bila desain penelitian melibatkan variabel lain (blocking). Adanya variabel lain dalam  desain  faktorial  akan  mengurangi  sel  Sum  of  Square  Within  Subject.  Akibatnya,  komputasi  eta  kuadrat  parsial  atau  omega  kuadrat  menghasilkan  estimasi  ukuran  efek  yang  tidak  sebanding  dengan perkiraan ukuran efek dalam studi yang tidak memasukkan variabel lain. Dengan kata lain,  eta kuadrat parsial atau omega kuadrat akan memberikan perkiraan ukuran efek yang dapat jauh  lebih besar daripada ukuran efek diperkirakan dari sebuah studi yang tidak memasukkan variabel  lain.  Meskipun  orang  melihat  bahwa  ukuran  efek  yang  besar  adalah  konsekuensi  dari  rancangan  penelitian  yang  kuat,  peningkatan  ukuran  efek  karena  variabel  lain  tidak  dapat  dibandingkan  dengan penelitian yang tidak melibatkannya.  Singkatnya,  peneliti  yang  melaporkan  hasil  ANOVA,  termasuk  dengan  satu  atau  lebih  faktor  mengulangi  langkah‐langkah,  didorong  untuk  melaporkan  GENERALIZED  ETA  SQUARED  seperti  yang didefinisikan oleh Olejnik dan Algina (2003).  Ditambahkan oleh mereka bahwa Generalized Eta Squared dan Omega Squared kuadrat memiliki  dua keuntungan utama. Pertama, statistik ini memberikan ukuran efek yang sebanding di berbagai  desain penelitian populer dalam pendidikan dan psikologi. Kedua, langkah‐langkah ini memberikan  efek‐ukuran  indeks  efek  yang  konsisten  dengan  pedoman  Cohen  (1988)  untuk  menentukan  besarnya efek ukuran (effect size). Cohen tiga dekade yang lalu telah menunjukkan bahwa desain  harus menjadi pertimbangan saat menghitung ukuran‐ukuran efek. Saat ini, sebagian besar peneliti    2    yang  memilih  untuk  melaporkan  ukuran  efek  sebagai  proporsi  varians  VI  yang  menjelaskan  VD  namun mengabaikan peringatan dari Cohen.  Dengan menggunakan prosedur yang ditulis dalam artikelnya, peneliti dapat meluruskan kelalaian  tersebut  dan menggunakan  ukuran  efek yang  dapat  dibandingkan  (comparable).  Generalized  Eta  Squared  dan  Omega  Squared  dapat  memberikan  efek‐langkah  ukuran  efek  yang  dapat  dibandingkan  meski  penelitian  yang  dilakukan  memiliki  desain  penelitian  yang  berbeda  dengan  populasi tertentu.  Artikel yang lebih lengkap dapat dibaca di sini  Olejnik, S., & Algina, J. (2003). Generalized Eta and Omega Squared Statistics: Measures of Effect  Size  for  Some  Common  Research  Designs.  [doi:10.1037/1082‐989X.8.4.434].  Psychological  Methods, 8(4), 434‐447.   Jena, 2010  Wahyu Widhiarso    3   

https://www.pdf-archive.com/2012/05/01/widhiarso-2010-catatan-dalam-penggunaan-eta-squared-dalam-anava/

01/05/2012 www.pdf-archive.com

DAFTAR BKB KIT & BROSUR APE BKB KIT 2015 51%

Buku Pedoman Kartu Kembang Anak (KKA) • Ukuran :

https://www.pdf-archive.com/2015/04/02/daftar-bkb-kit-brosur-ape-bkb-kit-2015/

02/04/2015 www.pdf-archive.com

8. Bercerita dg buku SDH KOMEN (1) 48%

Di Dalam pedoman undang-undang 137 dan 146 , usia anak juga dibagi menjadi beberapa fase, diantaranya 18-24 bulan dan 24-36 bulan.

https://www.pdf-archive.com/2018/05/07/8-bercerita-dg-buku-sdh-komen-1/

07/05/2018 www.pdf-archive.com

23-Fatia Fatimah 46%

Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran.

https://www.pdf-archive.com/2011/03/16/23-fatia-fatimah/

16/03/2011 www.pdf-archive.com

Perda AIDS Jateng No.5 Th 2009 46%

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4539);

https://www.pdf-archive.com/2016/07/02/perda-aids-jateng-no-5-th-2009/

02/07/2016 www.pdf-archive.com

RAB BKB KIT 2017 ~ CV.ASAKA PRIMA 45%

*Laboratorium *Percetakan Buku Pedoman Kartu Kembang Anak (KKA) • Ukuran :

https://www.pdf-archive.com/2017/04/08/rab-bkb-kit-2017-cv-asaka-prima/

08/04/2017 www.pdf-archive.com

EVELYN ok 43%

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif (penelitian yang melibatkan data-data kuantitatif sebagai pedoman dalam pembuktian teori).

https://www.pdf-archive.com/2016/11/08/evelyn-ok/

08/11/2016 www.pdf-archive.com

28-Merita Diana 42%

Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa digunakan pedoman standar nilai ketuntasan belajar (di SMP Negeri 1 Tanjungraja, yaitu:

https://www.pdf-archive.com/2011/12/05/28-merita-diana/

05/12/2011 www.pdf-archive.com