PDF Archive

Easily share your PDF documents with your contacts, on the Web and Social Networks.

Share a file Manage my documents Convert Recover PDF Search Help Contact



1. Vol 1 Nmr 1 Thn 2014.pdf


Preview of PDF document 1-vol-1-nmr-1-thn-2014.pdf

Page 1 2 3 4 5 6

Text preview


~ Eko Sugiarto, Ekspresi Visual Anak ~

persepsinya, mengarahkan perhatiannya, dan
memprovokasi
perilakunya
(termasuk
simbolisasi visual).
Kedua hal tersebut dipertegas oleh Lansing
(1969:138) bahwa lingkungan mengandung
sistem perilaku, sikap, dan nilai-nilai, yang
secara
langsung
maupun
tidak-langsung
memberikan pengaruh kepada ekspresi seni anak
sebagai bagian dari padanya. Kedua hal tersebut
juga menegaskan (secara teoretik) tentang
temuan ilmiah Malin (2013: 6-13) tentang
‘motivasi’ sebagai sumber pendorong lahirnya
gagasan dalam menggambar di sekolah tingkat
sekolah dasar, tepatnya di Sekolah Haven,
California. Ini juga relevan dengan pernyataan
ilmiah yang dikemukakan oleh Richards
(2007:23) bahwa karya seni yang dibuat
seseorang
merupakan
cara
untuk
menghubungkan kehidupan internalnya (inner
lives) dengan keadaan sosial-budaya yang
melingkupinya.
Berdasarkan temuan peneliti, analisis, dan
penegasan teori, ternyata ada dua segi pada anak
pesisir di Semarang – yang patut menjadi
perhatian - yaitu sisi kreativitas dan sisi
kesadaran terhadap lingkungan budayanya.
Diketahui pula bahwa aspek karya (pesisir) ikut
ditentukan oleh lingkungan secara ekologis.

Kebiasaan, sikap, dan nilai-nilai dalam
subkultur tertentu dapat menjadi faktor eksternal
bagi anak. Lingkungan adalah sumber dari
banyak pengetahuan artistik yang relevan
baginya. Kebiasaan/perilaku, sikap, dan nilainilai dapat membantu untuk menentukan sifat
seni anak, karena memiliki kekuatan untuk
membentuk kepribadian atau kondisi emosional,
dan
akhirnya
membantu
pembentukan
pengetahuan artistik yang sesuai dengan
lingkungannya.
Secara ekologis, gambar anak memiliki
keunikan representasi lingkungan alam/fisiknya
berdasarkan latar belakang ekologi budayanya
masing-masing. Kemampuan anak dalam
merepresentasikan
lingkungannya
tersebut
diperoleh dari outcome atas interaksi anak
dengan lingkungan di sekitarnya. Anak memiliki
kepekaan masing-masing dalam mengindera,
mengamati, memahami, menginterpretasi atas
kehidupan yang ada di sekitarnya, dan yang
paling dekat dengannya. Secara lebih terperinci,
secara keseluruhan visualisasi gambar anak
pesisir, dalam merepresentasikan lingkungannya
dapat dilihat dalam matriks anslisis multikasus
berikut ini.

Tabel 1. Matriks Multikasus Gambar Anak
Karakteristik Multikasus
Pesisir
- Menggambar subjek-subjek
yang dekat dengan gunung
- Banyak gambar tanaman
- Banyak menggunakan warnawarna alam: biru, hijau, dan
coklat
- Dijumpai gambar tanah terbuka
- Ada gambar binatang

Perkotaan
- Menggambar subjek-subjek yang dekat
dengan kota
- Banyak gambar bangunan dan mobil
- Banyak menggunakan warnabangunan: abu-abu
- Menampilkan kelengkapan fasilitas
- Tidak ada gambar binatang

Gambar anak di subwilayah pesisir,
menunjukkan kreativitas masing-masing sesuai
dengan karakteristik ekologi sosio-budayanya.
Karakteristik bentuk, struktur, dan corak
ungkapan di ketiga subwilayah Semarang
tersebut di satu sisi menunjukkan perbedaan
dengan anak wilayah lain, namun di sisi lain
tetap menunjukkan beberapa kesamaan dalam
konteks kebutuhan ekspresi seni, terlepas dari
kuat-lemahnya teknik dan nilai-nilai yang
melatarbelakangi.
~4~

Pegunungan
- Gambar bertema sekitar laut
- Banyak menggambar laut dan
kapal
- Ada aktivitas bekerja (nelayan)
- Banyak latar waktu senja
- Banyak gambar ikan
- Gambar multidimensional, tembus
pandang (latnya)

Langer (Rohidi, 2000:23) dan Smith (1989:7)
telah menegaskan sebelumnya, bahwa seni
merupakan
komponen
penting
dalam
kebudayaan dan selayaknya terintegrasi dalam
aktivitas kehidupan manusia. Karya visual anak
di daerah pesisir di Semarang merupakan sebuah
temuan ilmiah bahwa sejak dini manusia
memiliki kebutuhan atas pemenuhan berekspresi
seni, di manapun berada.
Gambar anak di wilayah pesisir ini memiliki
keunikan tersendiri. Pertama, meskipun sudah